Selain perubahan fisik, salah satu topik yang identik dengan remaja yang memasuki masa puber adalah masalah cinta. Perubahan hormonal, yang dipicu oleh perkembangan tubuh dan otak, menjadi penyebab utama munculnya perasaan jatuh cinta dan ketertarikan seksual. Selama fase pubertas, remaja perempuan mengalami peningkatan produksi hormon estrogen hingga enam kali lipat sementara remaja laki-laki mengalami produksi testosteron hingga 20 kali lipat! Bisa dibayangkan ya, seberapa kuat perubahan mood dan dorongan seks yang dialami oleh remaja yang sedang jatuh cinta.

Beruntunglah kita sebagai orangtua jika anak remaja mau bercerita tentang orang yang sedang disukainya. Sebagai hasil didikan generasi terdahulu yang menganut pola komunikasi satu arah, orangtua masa kini menginginkan remaja mereka terbuka tentang masalah cinta, tetapi masih berusaha membangun komunikasi yang bersifat terbuka dan hangat dengan remaja. Tidak jarang, niat kita untuk menjadi “teman” anak tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Jangankan mendapat cerita eksklusif tentang bagaimana mereka “jadian”, bertanya nama teman yang mereka taksir saja hanya dijawab, “Ah, Mama mau tau aja”.

Jangan terburu-buru patah semangat, apalagi menganggap diri sendiri kurang “asyik”. Banyak faktor yang berperan, baik dari sikap orangtua maupun remaja. Yang perlu dipahami oleh orangtua sebelum memulai usaha untuk mendekati remaja adalah perubahan sikap terkait pubertas. Tentu saja, mereka bukan lagi sosok yang selalu meminta perhatian kita dengan pelukan dan cerita tentang segala macam hal. Mereka bukan lagi anak-anak yang selalu mematuhi apa yang kita perintahkan. 

Kini, mereka seolah berusaha untuk menjauh dari orangtua. Orangtua –khususnya ibu- tidak perlu terlalu terbawa perasaan karena fase ini dibutuhkan remaja untuk membangun kemandirian yang diperlukan saat ia dewasa kelak. Satu hal yang mungkin sering disalahartikan orangtua adalah, remaja tetap membutuhkan kasih sayang orangtua meskipun seolah enggan menerima ungkapan cinta.

Tunjukkan kasih sayang

Dan Kindlon, Ph.D, seorang profesor di bidang psikologi anak di Universitas Harvard, mengungkapkan bahwa remaja sebetulnya mernyadari sikap mereka yang terkadang menyebalkan, namun mereka masih ingin disayang oleh orangtua dan berharap orangtua menunjukkan kasih sayang tersebut. Hanya saja, orangtua harus kreatif menunjukkan rasa sayang tersebut. Mengusap punggung saat anak pamit ke sekolah atau merapatkan bahu ke tubuh anak saat duduk di sofa dan ikut menonton acara favoritnya bisa menggantikan pelukan dan ciuman yang biasa dilakukan saat anak-anak. Inilah hal pertama yang sebaiknya dilakukan untuk membuat remaja merasa nyaman dengan orangtua.

Bersikap toleran

Salah satu transisi yang mungkin terasa berat bagi orangtua adalah bersikap toleran terhadap remaja. Anna Surti Ariani, psikolog anak dan keluarga, menjelaskan bahwa anak cenderung menutupi sesuatu yang tidak disukai orangtua atau hal yang tidak dapat ditoleransi oleh orangtua. Karena itu, jika ingin agar remaja bersikap terbuka, termasuk dalam masalah cinta, maka orangtua juga harus menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai situasi yang sedang dialami remaja. Orangtua yang toleran membuat anak lebih mudah untuk curhat tentang topik yang dianggap riskan, seperti kisah cinta maupun kenakalan remaja.

Tidak menjadikan cinta sebagai bahan candaan

Mungkin kita bermaksud mencairkan suasana dengan candaan, namun masalah percintaan remaja bukanlah topik ringan bagi mereka yang sedang mengalaminya. Banyak kasus dimana orangtua “menggoda” remaja yang sedang jatuh cinta dan hal tersebut membuat mereka malu. Mereka pun menjadi enggan untuk curhat karena merasa tidak akan didengarkan secara serius. Karena itu, sesepele apapun cerita tersebut bagi kita, tetap dengarkan dan respon dengan baik agar anak merasa dihargai.

Bercerita tentang masa muda

Tidak ada salahnya memancing anak untuk curhat tentang kisah cintanya dengan berkisah tentang kisah cinta kita semasa sekolah. Hal seperti ini bagi anak seperti memberi sinyal positif bahwa kita tidak anti terhadap kisah cinta anak. Jikapun sekarang iya, diskusikan batasan hubungan asmara yang boleh dijalani oleh anak beserta alasan yang mendasarinya.  

Yang pasti, tidak ada satu tips yang berhasil untuk semua orangtua dan tidak ada usaha yang langsung membuahkan hasil. Kuncinya adalah selalu kreatif mencari cara lain jika belum berhasil dan tetap berusaha memahami bahwa anak tetap membutuhkan pendampingan dan bimbingan orangtua di balik sikap cuek mereka. Kenyamanan anak untuk curhat masalah cinta dengan orangtua akan menjadi aset berharga untuk menanamkan nilai-nilai keluarga tentang hubungan dengan lawan jenis serta membuat remaja mampu melindungi diri sendiri dari perilaku yang menyimpang.

Ingin tahu lebih jauh tentang apa yang dipikirkan remaja tentang cinta? Baca di sini.

 

 



Tanya Skata