Banyak ibu menyusui yang ketika ditanya mengenai metode kontrasepsi yang digunakan mantap menjawab, “Saya kan belum haid lagi, jadi kontrasepsinya alami.” Lalu, banyak pula yang kemudian bingung kenapa dirinya bisa “kebobolan”, padahal haid belum datang kembali dan proses pemberian ASI eksklusif masih disiplin dijalani. Kalau Anda sendiri belum bisa menjelaskan alasannya, berarti ada beberapa hal tentang KB alami yang perlu Anda ketahui. 

(Baca juga: Cara Menggunakan Kontrasepsi MAL dengan Benar)

KB alami atau Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah salah satu metode kontrasepsi yang bersifat sementara, dengan mengandalkan kinerja hormon prolaktin. Hormon prolaktin diproduksi ketika proses menyusui berlangsung. Hormon ini mampu menekan produksi hormon estrogen yang berperan dalam pematangan sel telur (ovulasi). Akibatnya, tidak terjadi menstruasi. 

Namun, tidak terjadinya menstruasi tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator seorang ibu belum kembali subur. Pada kasus “kebobolan”, proses pematangan sel telur sudah terjadi. Hanya saja, saat belum luruh menjadi darah menstruasi sel telur sudah bertemu dengan sel sperma hingga terjadi kehamilan. Absennya menstruasi ini kerap diartikan sebagai masih efektifnya metode MAL, hingga tanda-tanda kehamilan semakin jelas.

Lalu, bagaimana cara memastikan bahwa KB alami masih dapat diandalkan?

Pertama, ibu menyusui secara eksklusif. Artinya, bayi hanya mengkonsumsi ASI tanpa tambahan makanan atau cairan lain, termasuk air putih sebagai tambahan ASI. Meskipun demikian, tambahan zat lain masih diperbolehkan selama tiga perempat asupan makanan utamanya tetap ASI. 

Selain itu, bayi menyusu on demand, alias kapanpun bayi mau. Minimal, bayi menyusu 10 sampai 12 kali dalam sehari pada minggu-minggu pertama setelah lahir. Kemudian, frekuensi bisa menurun menjadi 8-10 kali per hari, dengan minimal satu kali menyusu di malam hari. Jarak antar waktu menyusu di siang hari tidak boleh lebih dari 4 jam, di malam hari tidak boleh lebih dari 6 jam. 

Kedua, bayi masih belum berusia 6 bulan. Saat bayi berusia 6 bulan, fase MPASI (Makanan Pendamping ASI) telah dimulai sehingga frekuensi menyusu bayi akan berkurang. Berkurangnya frekuensi menyusui akan berpengaruh pada berkurangnya produksi hormon prolaktin. Ovulasi pun kemungkinan besar akan lebih mudah terjadi.

Ketiga, sama sekali belum menstruasi setelah melahirkan. Jika sudah terjadi menstruasi meskipun ibu masih menyusui eksklusif dan bayi belum berusia 6 bulan, segera ganti dengan metode kontrasepsi yang lain.

Ibu bekerja yang memerah ASI, apakah masih bisa menggunakan KB alami?

Bisa, selama ibu memerah ASI paling lama empat jam sekali. Meskipun demikian, dibandingkan dengan ibu yang menyusui bayinya secara langsung, ibu bekerja yang memerah ASI lebih rentan “kebobolan”. Penelitian menunjukkan bahwa angka kehamilan pada ibu bekerja sebanyak 5 per 100 wanita yang menggunakan KB alami, sementara mereka yang menyusui secara langsung hanya berisiko terjadi 2 kehamilan per 100 pengguna MAL.

Memang, KB alami hampir tidak memiliki efek samping dan tidak membutuhkan biaya. Hanya saja, ibu menyusui harus ekstra hati-hati dalam menjalankannya agar tidak “kebobolan”. Untuk perlindungan maksimal terhadap jarak kelahiran yang terlalu dekat, ibu menyusui dapat memilih metode kontrasepsi lain yang tidak menghambat produksi ASI, seperti pil KB untuk ibu menyusui, IUD, implan, dan kondom.

(Baca juga: 7 Pilihan Kontrasepsi yang Aman Untuk Ibu Menyusui)

Pilihan metode kontrasepsi yang tepat berdasarkan kebutuhan akan membantu ibu menyusui untuk memberikan ASI selama dua tahun kepada anaknya. Kehamilan yang terjadi tidak lama setelah melahirkan rentan menghambat produksi ASI, baik karena masalah hormonal maupun stres. Akhirnya, anak pun harus disapih sebelum waktunya. Karena itu, segera diskusikan dengan pasangan untuk memilih alat kontrasepsi yang cocok demi terpenuhinya kebutuhan setiap anggota keluarga.

 

 



Konsultasi dengan dokter