Setiap tahun jutaan wanita memutuskan kontrasepsi apa yang akan digunakan setelah melahirkan, baik jenisnya maupun kapan memulainya. Hal ini penting dilakukan untuk mengatur jarak kelahiran agar pemberian ASI bisa berlangsung maksimal dan ibu memiliki waktu pemulihan yang cukup. Mengingat sebagian metode kontrasepsi mampu mempengaruhi jumlah ASI, berikut ini adalah tiga metode kontrasepsi yang aman bagi ibu menyusui.

1. Metode Amenore Laktasi (MAL)

Metode Amenore Laktasi (MAL) merupakan metode kontrasepsi alami dengan memberikan ASI eksklusif yang membantu mencegah produksi hormon reproduksi sehingga ibu tidak mengalami ovulasi.

Metode Amenore Laktasi ini perlu memenuhi 3 kondisi untuk menjadi efektif:

1. Ibu tidak mengalami menstruasi

2. Bayi mengonsumsi ASI eksklusif dan tidak diselingi makan atau minuman selain ASI

3. Usia bayi kurang dari 6 bulan

Jika salah satu kondisi diatas tidak dapat dipenuhi, ibu harus mempertimbangkan untuk menggunakan alat kontrasepsi tambahan untuk mencegah kehamilan.

2. Kontrasepsi non–hormonal

Kontrasepsi jenis ini tidak menggunakan hormon sebagai cara pencegahan kehamilan. Pilihan yang tersedia cukup banyak dan  relatif murah. Beberapa di antaranya adalah: 

A. Kontrasepsi jenis penghalang

Alat kontrasepsi seperti kondom dan diafragma atau  kondom untuk perempuan merupakan metode yang cukup efektif. Tingkat efektivitasnya mencapai 85%. Kontrasepsi ini tidak mengandung hormon sehingga tidak mempengaruhi pasokan ASI. Tenaga kesehatan biasanya menyarankan ibu menyusui untuk menunggu sampai waktu kontrol pertama sebelum memasukkan sesuatu ke dalam vagina untuk mencegah adanya risiko infeksi hingga ke area leher rahim (serviks).  

B. IUD 

Terdapat dua jenis IUD, yaitu IUD tembagadan IUD hormonal. IUD tembaga adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif yang tidak memiliki efek pada ASI. Tingkat efektivitasnya mencapai 99%. IUD dimasukkan ke dalam rahim dan mampu mencegah terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma. Selain mampu mencegah kehamilan hingga 10 tahun, IUD juga dapat sewaktu-waktu dilepas jika ibu memutuskan untuk hamil lagi.

C. Sterilisasi

Metode ini termasuk kontrasepsi bentuk permanen dengan melakukan tubektomi, yaitu mengikat atau memasang cincin pada saluran telur kanan dan kiri sehingga mencegah sel sperma bertemu dengan sel telur. Seperti bentuk kontrasepsi non-hormonal lainnya, metode ini tidak berdampak pada ASI. Banyak wanita memilih melakukan prosedur ini selama persalinan caesar.

3. Kontrasepsi hormonal 

Kontrasepsi hormonal biasanya mengandung hormon estrogen dan progesteron. Beberapa wanita memiliki toleransi yang baik terhadap kinerja hormon. Namun, kadang estrogen dalam kontrasepsi ini dapat menyebabkan pasokan ASI menjadi berkurang. Karena itu, sebagian besar tenaga kesehatan akan merekomendasikan progesteron saja.

A. Pil progestin saja 

Pil ini mirip dengan pil KB tradisional tetapi hanya mengandung progesteron. Pil jenis ini tidak mengandung pil placebo (pil kosong, aliaa tidak mengandung hormon), sehingga setiap pil yang dikonsumsi memiliki kandungan aktif.

B. KB suntik (depo–provera) 

Kontrasepsi ini berbentuk suntikan khusus yang akan melindungi kehamilan hingga 3 bulan. Diperlukan kontrol ke tenaga kesehatan setelah menyuntikan kontrasepsi ini untuk melihat efek dan melihat dosis yang pas.

C. IUD

Selain IUD tembaga, terdapat IUD hormonal yang dilapisi progesteron. IUD jenis ini bekerja dengan cara yang sama dengan KB suntik. IUD hormonal efektif mencegah kehamilan selama 3 hingga 5 tahun tergantung mereknya. IUD dapat dengan mudah dilepaskan jika seorang wanita berubah pikiran.

Metode KB hormonal tidak melindungi dari penularan infeksi seksual. Wanita yang memiliki banyak pasangan harus mempertimbangkan untuk menggunakan metode jenis penghalang.

Mengingat banyaknya jenis alat kontrasepsi yang dapat dipilih, ibu menyusui dapat bertanya pada tenaga kesehatan jika masih muncul keraguan. Jangan lupa untuk mendiskusikan pilihan kontrasepsi dengan pasangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter