Tanpa disadari, orangtua kerap mengarahkan anak untuk memenuhi ambisi masa muda yang belum tercapai. Sebagai contoh, kita menawarkan anak untuk ikut ekskul basket karena kita dulu hanya mampu menjadi penonton pertandingan di sekolah. Bisa juga sebaliknya. Melihat anak berbakat dalam bidang biologi, kita selalu memotivasinya untuk belajar lebih keras karena kita adalah seorang dokter dan berharap anak akan mengikuti jejak kita. Atau jangan-jangan, profesi yang kita jalani saat ini sebenarnya adalah ambisi orangtua kita?

Jika memang benar, tidak usah berkecil hati karena kita tidak sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Eddie Brummelman, mahasiswa program doktoral psikologi di Utrecth University, Belanda, menunjukkan bahwa orangtua berharap prestasi anak mereka mampu memenuhi ambisi masa muda orangtua yang tidak tercapai. Kecenderungan ini muncul pada orangtua yang menganggap bahwa anak adalah bagian dari diri mereka. 

Memberi motivasi anak agar belajar lebih giat adalah hal yang wajar, namun menekan mereka agar bisa sempurna adalah berlebihan. Apalagi jika sampai meremehkan kemampuan anak untuk mengambil keputusan sendiri. Anak bisa tertekan dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

Saat ambisi kita ternyata selaras dengan bakat dan minat anak, tidak akan banyak pertentangan yang terjadi. Masalah muncul apabila apa yang anak minati berbeda dengan ambisi orangtua. Kita bisa memilih untuk sepenuhnya menerima, membujuk anak untuk mengikuti ambisi kita, berkompromi dengan ambisinya, atau malah memaksa anak untuk melupakan ambisinya dengan berbagai alasan. Jadi, bagaimana langkah yang sebaiknya orangtua ambil? 

Minta anak jelaskan ambisinya

Saat kita mulai menyadari bahwa impian anak tidak sejalan dengan ambisi kita, mulailah untuk bertanya pada anak tentang cita-citanya, tentang hal yang ia gemari, dan kemana ia akan membawa minatnya itu. Apakah sekadar untuk merasa senang? Atau untuk pengakuan dari lingkungan pergaulan? Jika ternyata anak mampu menjelaskan dengan baik ambisinya, kita sebagai orangtua harus mau berusaha menerima sudut pandangnya. 

Utarakan alasan di balik ambisi orangtua

Sebaliknya, kita juga memiliki kesempatan untuk mengutarakan alasan mengapa kita ingin anak membuat pilihan yang kita anggap baik. Pengalaman hidup, nilai-nilai keluarga, agama, tantangan di masa depan mendasari pemikiran kita sebagai orangtua. Bagikan pengalaman kita saat remaja, begitu juga dengan pengalaman orang lain yang relevan. Garis bawahi bahwa orangtua hanya mengingikan yang terbaik bagi anak. Jangan lupa gunakan intonasi dan bahasa yang santun agar anak dapat menerima argument kita tanpa merasa dipaksa atau dihakimi. 

Beri anak kesempatan

Wajar jika kita membutuhkan proses untuk menerima mimpi anak remaja yang kita anggap belum mengerti apa-apa tentang hidup. Apalagi jika impiannya merupakan hal yang kita anggap mustahil.  Karena itu, jika anak benar-benar bertekad untuk mewujudkan ambisinya, beri ia waktu. Tentu saja, kita harus memberikan dukungan penuh pada masa ini agar anak mampu berusaha maksimal. Buat tenggat waktu yang realistis dengan anak, bantu anak membuat rencana masa depan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuannya bukan untuk membuktikan bahwa pilihan anak salah, tapi untuk membantunya mengeluarkan potensi yang ada pada diri anak. 

Sadari bahwa setiap anak adalah unik

Menurut Gisela Pratiwi, psikolog anak dari Yayasan Pulih, orangtua harus menyadari bahwa anak adalah pribadi yang unik yang terpisah dari pribadi orangtua. Karena perkembangan individu dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan, tentu saja akan ada persamaan dengan karakteristik orangtua. Namun, orangtua perlu merefleksikan dirinya sehingga bisa memahami dengan jelas mana yang merupakan ambisi pribadi orangtua dan mana yang menjadi ciri khas anak. Karena, setiap anak berhak mengembangkan dirinya secara bebas.

Pada akhirnya, kita sebagai orangtua menyadari bahwa remaja kita bukan lagi anak kecil yang bisa kita minta ini itu dengan patuh, Mereka sudah mulai membangun kapasitas sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dengan berkompromi terhadap ambisi anak, kita telah mengajarkan cinta tanpa syarat dan membangun hubungan yang sehat dengan anak. Tetap bantu anak untuk bangkit ketika jalan mencapai ambisinya mengalami hambatan. 

 

 



Tanya Skata