“Padahal, ibu dulu selalu tutup mata kamu lho, kalau ada adegan dewasa di film.”

“Memangnya, ayah sama ibu dulu harus liat film dulu baru bisa ciuman?”

Begitulah kira-kira dialog yang terjadi antara Bima (Angga Yunanda) dan ibunya (Cut Mini Theo) dalam film Dua Garis Biru karya sutradara Gina S. Noer. Jika yang dilakukan ibu Bima terdengar familiar, mungkin kita harus menonton film ini dan mempertimbangkan kembali cara kita melakukan pendidikan seks pada anak. Membatasi anak untuk melihat adegan dewasa ternyata tidak menjamin anak menghindari seks, karena ternyata dalam film ini hubungan Bima dan pacarnya, Dara (Adhisty Zara), berujung pada kehamilan. 

Meskipun film ini seolah ditujukan untuk memberi pesan pada remaja bahwa hamil di luar nikah itu konsekuensinya berat, film ini juga sarat akan pesan bagi orangtua khususnya mengenai pendidikan seks dan komunikasi dengan remaja. Berikut ini beberapa pelajaran yang dapat diambil orangtua dari film Dua Garis Biru.

1. Keluarga yang baik bukanlah jaminan

Kehangatan yang diberikan oleh ibu (Lulu Tobing) dan ayah (Dwi Sasono) Dara ternyata tidak menjamin Dara menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orangtuanya. Dalam film ini, baik Dara maupun Bima berasal dari keluarga harmonis meskipun dalam kondisi ekonomi yang berbeda. Bahkan, ayah Bima (Arswendy Bening) adalah sosok yang taat beragama namun dapat memberi nasehat pada Bima tanpa bersikap otoriter. Dara dan Bima pun bukan anak bermasalah di sekolah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa latar belakang keluarga, kasih sayang orangtua, dan anak yang patuh bukanlah jaminan anak tidak akan melakukan seks. Kuncinya tetap pada pendidikan seks yang dilakukan dengan terbuka dan jelas.

2. Pendidikan seks harus dilakukan secara terbuka 

Psikolog dari Yayasan Pulih, Gisella Pratiwi, menyarankan orangtua untuk mengawali pendidikan seks usia dini dengan cara mengenalkan anak terhadap tubuhnya. Kemudian, pada saat memasuki masa puber, orangtua dapat mengajarkan anak tentang kesehatan reproduksi. Dalam film, Dara dan Bima hanya tahu tentang kesehatan reproduksi dari sekolah. Namun, mereka tidak memiliki informasi tentang bagaimana kehamilan bisa terjadi dan apa konsekuensinya bagi ibu yang masih remaja. Sehingga, orangtua perlu menyampaikan pendidikan seks secara jelas dan terbuka. Jika merasa canggung, pilih media seperti buku, artikel, video yang bisa ditonton bersama anak.

 (Baca juga: 8 Tips Memperkenalkan Remaja Pada Seks)

3. Tegaskan konsekuensi kehamilan di luar nikah

Dikeluarkan dari sekolah, mencari nafkah, kehilangan kesempatan kuliah, menjadi bahan gunjingan lingkungan sekitar, kehilangan teman merupakan beberapa konsekuensi kehamilan di luar nikah yang dapat dilihat dalam film. Ini belum termasuk risiko pendarahan, kehilangan rahim, dan kehilangan nyawa bagi ibu yang masih remaja. Kita bisa membicarakan konsekuensinya satu demi satu, kaitkan dengan hidup anak agar ia dapat membayangkan dengan lebih jelas.

4. Percaya namun tetap mengawasi

Sedekat apapun kita dengan anak, sepercaya apapun kita bahwa mereka remaja baik-baik yang patuh pada orangtua, mereka tetap remaja yang belum sepenuhnya mampu menahan diri terhadap hal yang mereka sukai. Termasuk dalam masalah cinta. Mungkin mereka tidak berniat melakukan hubungan seks, namun jika ada kesempatan dan tidak ada pengawasan, tidak ada yang bisa mencegah hal tersebut untuk terjadi. Sebaiknya, perjelas peraturan dengan remaja untuk tidak membawa pacar ke dalam kamar, termasuk berduaan dengan pacar di tempat sepi yang memungkinkan mereka untuk melewati batas berpacaran yang telah disepakati. Saat anak izin untuk pergi, minimal kita tahu 5 W + 1 H (what, when, where, who, why, how) dan memastikan anak pulang tepat waktu. 

5. Berkomunikasi dengan remaja ada caranya

Dalam film, ketika Bima terlihat memiliki masalah, ibunya langsung mencecarnya dengan pertanyaan dan membuat asumsi sendiri, dengan nada yang tinggi. Ini membuat Bima menjadi jengah dan memilih untuk meninggalkan orangtuanya. Sementara itu, ayahnya memilih untuk mendekatinya secara personal dan memberi nasehat dalam posisi sebagai sesama laki-laki. Dari sini, kita dapat belajar bahwa untuk meminta anak menceritakan masalahnya harus dilakukan dengan cara yang membuatnya nyaman, bukan sebaliknya. Itu pun tidak menjadi jaminan anak berani berkata jujur. Memang tidak bisa sekali jadi, yang penting kita sebagai orangtua harus sabar dan peka.

 

 

 



Tanya Skata