Menurut Lembaga Save The Children, 13 juta anak per tahun (atau sekitar 11% dari seluruh persalinan di dunia)  lahir dari Ibu dengan kehamilan remaja. Di Indonesia sendiri, menurut data UNFPA tahun 2003, angka kehamilan remaja usia 15-19 tahun berkisar 55 per 1000 Ibu. Sungguh angka yang tidak sedikir. Kehamilan remaja tak hanya membahayakan Ibu, namun juga janin yang dikandung. Lalu bagaimana kondisi janin dan tumbuh kembangnya pada kehamilan remaja?  

Usia remaja masih memerlukan asupan gizi yang seimbang untuk mencapai tumbuh kembang maksimal. Karena di usia ini, pertumbuhan dan perkembangannya masih berlangsung. Kehamilan di usia ini tentu bisa mengganggu tumbuh kembang dan memunculkan bermacam komplikasi kesehatan. Diantaranya, anemia, kurang gizi juga rendahnya daya tahan tubuh. Pada kehamilan yang tidak direncanakan, seringkali remaja tidak memeriksakan kesehatan tubuhnya di layanan kesehatan. Ini yang kemudian menyebabkan bermacam kondisi pada janin, seperti berat badan bayi lahir rendah, kelahiran prematur, bayi dengan anemia, hingga hambatan tumbuh kembang bayi sehingga memiliki cacat bawaan. Bayi dengan berat badan lahir rendah beresiko tinggi untuk sejumlah masalah pada jantung, paru-paru dan otak Ibu dan janin. 

Tak hanya itu, pada Ibu usia 15-19 tahun, kematian janin 50% tinggi dibanding Ibu usia 20-29 tahun. Komplikasi ini disebabkan kehamilan remaja cenderung jarang mendapat asuhan kehamilan. Organ dalam tubuh remaja pun masih berkembang sehingga belum siap untuk mengandung. Karenanya, resiko terjadi keguguran juga cukup tinggi. 

Ragam komplikasi yang terjadi pada kehamilan remaja cukup membahayakan. Baik Ibu maupun janin. Baiknya, remaja diberikan edukasi yang matang tentang resiko kehamilan untuk tindakan preventif mereka melakukan seks pada usia dini. 

 



Konsultasi dengan dokter