Kehamilan pada remaja merupakan suatu kejadian yang tidak jarang ditemukan pada negara-negara berkembang. Berdasarkan statistik, ditemukan 7,3 juta kasus kehamilan pada remaja di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu alasan mengapa kehamilan pada remaja lebih umum ditemukan di negara berkembang adalah kurangnya edukasi dan pemahaman berkaitan dengan sistem reproduksi dan seksual pada kalangan remaja. Baik keluarga, guru-guru di sekolah, maupun lingkungan di sekitar remaja seringkali masih menganggap tabu hal-hal berkaitan dengan sistem reproduksi. Padahal, pengetahuan berkaitan dengan sistem reproduksi dan seksual merupakan hal yang penting bagi remaja mengingat kehamilan pada remaja memiliki berbagai macam resiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan pada usia 20-30 tahun. Apa saja, sih resiko yang bisa terjadi? 

Resiko Aborsi 

Remaja lebih beresiko melakukan tindakan-tindakan seperti aborsi akibat kurangnya kesiapan secara mental untuk mengandung, ditambah lagi ketakutan yang dirasakan oleh remaja akibat pandangan sosial di lingkungannya. Dalam jangka panjang, tindakan aborsi dapat menyebabkan depresi dan rasa bersalah pada Ibu.

Infeksi IMS dan HIV

Resiko untuk terinfeksi HIV dan infeksi menular seksual (IMS) juga ditemukan lebih tinggi pada remaja. Pengetahuan berkaitan dengan penyakit-penyakit infeksi yang menular serta cara pencegahannya masih kurang diketahui sehingga seringkali ditemukan kasus-kasus infeksi pada kehamilan remaja.

Kematian Ibu dan Bayi Pasca Melahirkan 

Selain itu, resiko kesehatan yang sering ditemukan pada kehamilan remaja adalah kematian Ibu pasca melahirkan. Pada tahun 2013, BKKBN mendata sebanyak 70,000 remaja meninggal pasca melahirkan. Angka kematian ini lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan golongan usia lainnya. Disamping kematian Ibu, kematian bayi pada remaja juga lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan pada umumnya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan tubuh remaja yang masih belum sempurna untuk persiapan kehamilan. 

Bayi Prematur dan Cacat Bawaan 

Dalam proses kehamilan pada remaja, seringkali terjadi kelahiran prematur dan cacat bawaan pada bayi akibat belum matangnya organ reproduksi Ibu. Dinding rahim Ibu masih belum cukup kuat untuk menahan berat badan bayi yang bertambah seiring dengan perkembangannya. Kelahiran bayi prematur akan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan kedepannya.

Gangguan Mental pada Remaja 

Disamping resiko fisiologis pada tubuh Ibu dan bayi, kehamilan remaja juga beresiko untuk kesehatan mental ibu dan anak. Kehamilan pada remaja dapat meningkatkan krisis emosional dan depresi pada Ibu akibat fluktuasi hormon. Keadaan ini diperburuk dengan stigma masyarakat yang memandang negatif terhadap kehamilan pada remaja. 

Permasalahan Sosio Ekonomi 

Terganggunya sosio-ekonomi keluarga juga menjadi masalah dalam kehamilan remaja. Seringkali kehamilan di usia dini menyebabkan remaja terpaksa berhenti meneruskan pendidikan karena harus merawat bayi dan mencari nafkah untuk keluarga barunya. Permasalahan ini kemudian menjadi cikal bakal masalah rumah tangga. Menjadi seorang Ibu dalam usia remaja juga tidak mudah. Seringkali perawatan kehamilan dan pasca kehamilan pada remaja tidak optimal akibat ketidaktahuan remaja berkaitan dengan proses kehamilan yang baik.

Kehamilan pada remaja sebenarnya bisa dicegah, namun pada kenyataannya terkadang masih sulit untuk dipraktekkan di dunia nyata. Edukasi berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan kehidupan seksual penting diberikan sedini mungkin pada remaja. Keluarga dan masyarakat sekitar harus menyadari pentingnya informasi tersebut untuk kesehatan dan masa depan remaja Indonesia yang lebih baik. Cari informasi sebanyak-banyaknya dan berikan edukasi sedini mungkin.

 

 



Tanya Skata