Bagi sebagian orangtua, memperbolehkan anak berpacaran menimbulkan kekhawatiran tersendiri, khususnya berkaitan dengan seks. Siapa yang bisa menjamin anak dapat menjaga dirinya dengan baik di tengah lingkungan yang semakin penuh tantangan ini? Orangtua kita zaman dahulu bisa mengetahui hampir semua aktivitas kita. Namun, generasi remaja saat ini juga memiliki kehidupan di dunia maya, yang tidak selalu bisa kita ketahui. Memantau aktivitas anak adalah hal yang wajib dilakukan agar anak dapat berpacaran sehat, tanpa seks. 

Sejak kapan orangtua harus memantau anak?

Saat anak masih kecil, biasanya orangtua memantau anak dengan intensif karena mereka masih membutuhkan bimbingan dalam berbagai hal. Ketika anak beranjak remaja, banyak orangtua merasa tidak perlu lagi memantau terlalu ketat. Contohnya, anak diperbolehkan pergi sendiri atau diberi gadget pribadi. Meskipun demikian, orangtua tetap harus memantau remaja. Alasannya, fase remaja adalah masa dimana anak sedang ingin mencari jati diri dengan mencoba berbagai hal. Tanpa pengawasan orangtua, hormon remaja mereka dapat menjerumuskan mereka ke dalam perilaku berbahaya termasuk seks. 

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Adolescent Health menunjukkan bahwa remaja dengan orangtua yang melakukan pemantauan secara efektif memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengambil keputusan yang salah, seperti berhubungan seks di usia dini, merokok, mengkonsumsi alkohol, membolos, atau melakukan kekerasan fisik. Karena itu, penting bagi orangtua untuk menyampaikan secara jelas apa yang diharapkan dari anak. Remaja yang mengetahui hal-hal terlarang apa yang tidak disukai oleh orangtuanya cenderung menghindari hal-hal tersebut. 

Lantas, bagaimana cara memantau remaja agar mereka tidak berhubungan seks saat pacaran?

Membangun kedekatan dengan remaja tetap menjadi kata kunci. Menurut Gisella Pratiwi, psikolog dari Yayasan Pulih, hubungan yang aman dan terbuka dengan anak membuat anak merasa nyaman untuk berbagi cerita tentang apapun, termasuk hal yang mereka anggap pribadi. Remaja tidak akan enggan untuk bercerita jika kita dapat dipercaya, mampu memberi nasehat, dan bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan curhat mereka. Remaja yang puas akan kualitas hubungan dengan orangtuanya cenderung lebih taat aturan. Karenanya, pertahankan komunikasi dengan anak: selalu sempatkan untuk mendengarkan cerita anak, bertanya dan meminta pendapat mereka tentang berbagai hal, memberi semangat dan pujian, dan selalu terlibat dalam kehidupan remaja kita. 

Yang tidak boleh terlewat adalah memberi pemahaman pada remaja mengenai seksualitas secara komprehensif dan bertahap. Poin-poin penting yang perlu disampaikan antara lain:

  • Mengenali diri sendiri, termasuk tubuh
  • Menghargai diri sendiri, termasuk hak bersuara menentukan yang baik/tidak untuk dirinya

Gisella menambahkan, orangtua pun harus dapat memberi contoh bagaimana hubungan yang sehat dan setara dengan pasangan. Kemudian, bangun motivasi berprestasi yang tinggi,karena remaja dengan visi cita-cita dan akses pendidikan yang baik akan menurunkan kecenderungan seks di luar nikah.

Terakhir, komunikasikan harapan kita, peraturan yang disepakati bersama, serta konsekuensi jika melanggar. Termasuk didalamnya adalah bicara tentang nilai dan norma keluarga mengenai kapan anak dapat memiliki pasangan secara intim dan diskusikan alasannya. 

Tetap waspada

Sebaik dan sejelas apapun kita berkomunikasi dengan remaja, tetap siapkan mental jika mereka ternyata tidak mampu menahan diri untuk melakukannya. Bagaimanapun juga, orangtua memiliki keterbatasan untuk mengontrol perilaku anak. Beberapa hal yang mungkin bisa orangtua lakukan untuk mencegah ini terjadi adalah:

  • Selalu mengetahui setiap kegiatan anak
  • Kenal dengan orangtua teman-teman anak
  • Memiliki kesepakatan tentang jam pulang jika anak pergi bersama teman atau pacar
  • Tidak membiarkan anak di rumah sendiri tanpa pengawasan orang dewasa
  • Melakukan kroscek dengan orangtua teman anak jika ia menginap disana
  • Peka terhadap dinamika seksualitas anak khususnya saat mulai puber

Bagaimana jika orangtua sibuk?

Kesibukan bekerja dapat membuat kita tidak dapat intens berinteraksi dengan anak. Namun, kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk memantau kegiatan mereka melalui pesan singkat, telepon, atau email. Libatkan lingkungan sekitar seperti anggota keluarga, tetangga, teman, pihak sekolah, untuk ikut memonitor anak. Remaja dengan pengawasan “berlapis” seperti ini memiliki kencenderungan lebih rendah untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan, termasuk seks bebas. 

 



Tanya Skata