Anda suka merasa gatal pada kemaluan, mencium bau tak sedap dari area miss V, atau keluar cairan tak lazim yang membekas di pakaian dalam? Ini adalah satu dari beberapa tanda iritasi dari vagina. Iritasi vagina merupakan salah satu hal yang paling sering dikeluhkan oleh wanita pada dokter. Darimana asalnya? Bisa dari paparan zat iritan, infeksi jamur dan bakteri, penyakit menular seksual, menopause atau stres.

Paparan Zat Iritan atau Kimia

Tahukah Anda, paparan zat iritan atau kimia yang paling sering menyebabkan iritasi datang dari bahan-bahan yang sering Anda jumpai. Mulai dari sabun, tisu, pembalut, kondom, deterjen dan krim. Namun, penyebab yang paling umum adalah kesalahan membersihkan vagina dengan menggunakan sabun yang mengandung bahan iritan atau menggunakan teknik vaginal douching (menggunakan cairan pembersih yang langsung disemprotkan ke dalam vagina dan menggosoknya). Hal ini menyebabkan iritasi karena kulit daerah vagina sangat sensitif dan berbeda dengan bagian tubuh lain.

Infeksi Jamur atau Kandidiasis Vagina

Jika terkena infeksi jamur, wanita akan merasakan gatal yang hebat dan terdapat sekresi cairan putih yang kental. Hal ini sering dijumpai pada pasien dengan kekebalan tubuh yang lemah, seperti wanita hamil, pengguna antibiotik, aktif berhubungan seksual atau saat kekebalan tubuh sedang rentan.

Infeksi Bakteri

Berbeda dengan infeksi jamur, infeksi bakteri pada vagina yang paling sering dijumpai adalah vaginosis bakteri dimana terdapat pertumbuhan bakteri jahat berlebihan yang melampaui jumlah bakteri sehat do vagina. Ini menyebabkan keluarnya cairan dan bau amis tidak sedap dari vagina yang  diikuti dengan rasa gatal.

Penyakit Menular Seksual

Penyebab iritasi vagina lain datang dari Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti klamidia, kutil kelamin, gonore, herpes genital dan trikomoniasis. Pada wanita yang mengalami ini akan ditemukan peradangan pada daerah kemaluan, keluar cairan tidak normal, sulit atau terasa perih saat buang air kecil, gatal yang disertai pendarahan dan pembengkakan, bisul atau luka seperti sariawan pada area miss V.

Menopause dan Stres

Ketidakseimbangan hormon yang bersilkulasi dalam tubuh wanita bisa menyebabkan iritasi vagina. Pada menopause, akan terjadi penurunan hormone seks seperti estrogen yang menyebabkan kulit dan mukosa vagina kering sehingga mudah teriritasi dan terasa gatal. Begitupula saat Anda mengalami stres.

Lalu bagaimana cara mencegah vagina dari iritasi?

Bersihkan kulit sekitar daerah kewanitaan dengan membasuh vagina dari bagian depan ke belakang hanya dengan menggunakan air. Karena vagina sebenarnya bisa membersihkan dirinya sendiri. Namun, bila dirasa perlu, gunakan produk pembersih berlabel hypoallergenic dan dermatologically tested atau dengan pH yang sesuai dengan tingkat keasaman vagina. Selain itu disarankan untuk menjaga kehigienisan daerah kewanitaan dengan menghindari hal –hal yang dapat menyebabkan kelembaban yang berlebih pada vagina seperti menggunakan celana dalam yang tidak dapat menyerap keringat atau penggunaan celana dalam dan celana yang terlalu ketat. Jangan juga lupa untuk mengganti celana dalam dan celana setelah berolahraga atau beraktifitas yang menyebabkan peningkatan produksi keringat.

 

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter