Anda tentu sudah tak asing dengan pantyliner. Sebuah pembalut tipis yang biasa digunakan sehari-hari untuk menyerap kelebihan cairan pada vagina. Sekarang ini, semakin banyak media promosi yang menawarkan berbagai macam pantyliner bagi para konsumen wanita. Pantyliner digunakan untuk berbagai macam alasan, antara lain keputihan yang dirasa mengganggu dan dianggap dapat mengotori pakaian dalam, flek yang muncul sebelum atau sesudah menstruasi, atau gangguan urinasi yang disebut inkontinensia urin yang menyebabkan penderita memiliki desakan untuk urinasi terus menerus. Padahal tahukah Anda, penggunaan pantyliner yang tidak benar malah dapat mengakibatkan penyakit infeksi pada vagina. 

Kok bisa, ya?  

Ternyata pantyliner memiliki bagian plastik yang ditempelkan pada pakaian dalam yang ketika digunakan setiap hari menyebabkan vagina tidak dapat ‘bernafas’ dan mendapatkan sirkulasi udara yang cukup. Ketika vagina tidak mendapatkan sirkulasi udara yang cukup, area itu menjadi lembab dan berperan sebagai media yang baik bagi pertumbuhan bakteri atau jamur. Belum lagi bahan serap yang tidak terbuat dari 100% katun dan wewangian yang dapat menyebabkan iritasi dan alergi pada vulva dan vagina. Seringkali hal ini berujung pada infeksi yang berawal dari keputihan. 

Keputihan dapat menjadi pertanda suatu proses infeksi pada vagina, akan tetapi tidak semua bentuk keputihan menandakan suatu penyakit. Ada juga bentuk keputihan yang normal, atau yang biasa disebut sebagai keputihan fisiologis. Untuk membedakan keputihan yang normal dan yang tidak normal, dibutuhkan pemeriksaan yang cermat atas keluhan dan bentuk keputihan yang muncul. 

Infeksi pada vagina biasanya ditandai dengan adanya cairan berwarna kuning kehijauan, berbau, berbuih, dan dapat juga disertai rasa gatal yang hebat. Sedangkan keputihan yang normal umumnya berwarna putih, tidak berbau, tidak berbuih, dan tidak gatal. Perempuan yang dirasa memiliki gejala keputihan yang tidak normal bisa berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, seperti pengambilan sebagian cairan keputihan dan pemeriksaan menggunakan mikroskop untuk mengetahui penyebabnya.  

Untuk mencegah terjadinya infeksi pada vagina, diperlukan penggunaan pantyliner yang tepat dan cara membersihkan vagina yang benar. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa pantyliner boleh digunakan setiap hari, dengan catatan harus diganti setiap 4 jam sekali dan gunakan pakaian dalam berbahan dasar katun 100%. Saat penggantian pantyliner, ada baiknya Anda membersihkan vagina dengan cara yang benar, dengan gerakan tangan menyapu dari bagian depan (vagina) ke belakang (anus) untuk mencegah bakteri saluran pencernaan dari anus pindah ke vagina. Tak perlu juga menggunakan alat pembersih atau sabun, karena vagina memiliki keasaman yang melindungi dirinya sendiri dari bakteri yang tidak diinginkan juga bakteri normal yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri yang tidak normal melalui mekanisme kompetisi. Lalu, jangan lupa untuk mengelap bersih setelahnya, ya. Dengan begitu, Anda tetap bisa menggunakan pantyliner tanpa khawatir akan terjadi infeksi. 

 



Konsultasi dengan dokter