Anak suka menjawab ketika diberitau, rasanya menjadi sesuatu yang makin sering dialami oleh orang tua jaman sekarang. Ini berbeda jika dibandingkan dengan jaman orang tua kita dan cara mereka mendidik anak-anaknya. Mana berani menjawab apa kata orang tua, yang ada menentang matanya saja sudah dianggap tidak sopan. Dimarahi itu menunduk, melihat ujung-ujung kaki. Terima tidak terima, orang tua taunya kita menerima dan mendengarkan. 

Tapi rasanya ini sudah tidak berlaku lagi. Sofia, anak saya yang baru berumur 5 tahun pun sudah bisa menjawab balik. Seperti misalnya tiga hari yang lalu ketika saya menemukan celananya lembab di bagian bokong. Saya lihat tidak ada tumpahan air di sekitarnya. Saya tanyakan kok bisa bagian belakangnya basah? Akhirnya saya jadi tahu bahwa dia lupa mengeringkan seperti yang selalu saya ajari setelah baru buang air kecil. Langsung saya “ceramahi” dia mengenai bakteri yang suka tumbuh di tempat yang lembab. Begitu selesai, Sofia  menjawab, “Memangnya Ibu dokter kok Ibu bisa tau pasti?”

Waduh. Kalau ingat referensi cara orang tua mendidik saya, ini sudah pelanggaran kesopanan tingkat tinggi. Apakah ini tanda bibit-bibit kurang ajar? 

Jika ditelusuri, jawaban ini sebenarnya jawaban anak cerdas dan kritis. Ada tiga unsur yang saya kagumi di sini. Pertama, coba perhatikan bagaimana Sofia mengaitkan antara bakteri dengan profesi dokter. Ada runutan logika yang sudah berjalan di situ. Sofia sudah bisa mengaitkan bakteri dalam konteks kesehatan. Sofia tidak menjawab secara acak, “Memangnya Ibu pedagang, kok Ibu bisa tau?” Ia secara spesifik merujuk pada “dokter”. 

Kedua, Sofia sebenarnya mempertanyakan hal yang paling mendasar dari sebuah logika keilmuan. Science itu bisa lahir karena ada bukti. Buktinya apa sehingga Ibunya tahu pasti ada bakteri yang tumbuh di pakaian dalamnya? Apakah ada yang bisa diamati? Ilmuwan adalah orang yang menerapkan cara yang sistematis untuk menemukan pengetahuan. Sofia kecilku adalah seorang scientist.

Ketiga, benih keberanian.  Di umurnya yang baru 5 tahun, dia sudah berani meminta kejelasan dan informasi tambahan. Dia tidak menerima utuh apa yang diberi tau oleh orang dewasa di sekitarnya. Coba ingat, berapa kali kita mengacungkan jari di dalam kelas untuk mempertanyakan guru atau dosen? Kalau saya, hampir tidak pernah. 

Apa yang terjadi ketika saya membalas tanda kecerdasan ini dengan bentakan? “Sofia, kamu tidak sopan. Jangan menjawab kalau Ibu bicara. Ibu kan sayang sama kamu makanya Ibu beri tau.” Jika ini yang saya lakukan, saya akan menghentikan benih keberanian yang dia sudah ada, sifat kritisnya, nalar dan logikanya. Alih-alih dia akan merasa salah, sedih, dan scientist kecilku pun akan layu sebelum sempat berkembang. 

Saya pikir mengharapkan anak menjadi sopan dan berbudi baik, bukan berarti mengorbankan kekritisannya. Anak kritis mesti diarahkan. Alih-alih kesal, coba tanyakan kenapa dia bisa menjawab seperti itu. “Menurut Sofia, darimana Ibu tau?” atau “Kenapa Sofia pikir hanya dokter yang bisa tau?”. Kembangkan pola komunikasi yang positif dengan berdialog ketika mencari informasi. Gunakan pertanyaan terbuka, sehingga anak justru selalu punya kesempatan untuk menjawab balik. Ini akan melatih kemampuan analisa dan latihan untuk menyusun kalimat-kalimat yang bisa menunjang argumennya. 

Kita semua ingin menjadi orang tua yang mampu mendidik anak dengan baik. Cerdas dan berakhlak luhur. Jangan jadikan salah satu sebagai pilihan. Jika anak belum bisa beragumen dengan elok, jangan salahkan argumennya, namun arahkan dialognya ke bagian yang masih ingin kita perbaiki. Kendalinya ada di kita. Kelola emosi dan selalu siap untuk mendengarkan mereka dengan pikiran yang terbuka. 

Jadi, kalau anak suka menjawab balik? Siapa takut. Jangan-jangan suatu saat nanti dia akan menjadi sehebat Newton sang ilmuwan penemu gravitasi!

 

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter