Beragamnya jenis alat kontrasepsi kerap membuat perempuan bingung untuk memilih. Beruntunglah mereka yang telah menentukan jenis alat kontrasepsi yang kelak digunakan pasca melahirkan, sehingga tidak perlu bingung mencari informasi ketika sudah sibuk mengurus buah hati. Namun, banyak pula yang tidak terlalu ambil pusing dan mengambil langkah mudah: menuruti rekomendasi dokter kandungan. 

Sisca (33) adalah salah satunya. Ibu rumah tangga dengan satu putra ini menggunakan IUD copper atas rekomendasi dokter obgyn yang menangani persalinannya, meskipun Ia juga mencari informasi melalui Google untuk memantapkan pilihan. IUD (intra uterine device) dengan lilitan copper atau tembaga adalah alat kontrasepsi berbentuk huruf T kecil berbahan plastik yang bekerja dengan cara merusak sperma dan sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. IUD hanya perlu dipasang sekali saja dalam rahim dan mampu mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Efektivitasnya yang mencapai 99% membuat IUD menjadi salah satu alat kontrasepsi jangka panjang favorit.

Meskipun menggunakan IUD berdasar saran dokter, Sisca tetap mendiskusikan hal tersebut dengan suaminya terlebih dulu. Bagaimanapun juga, menentukan jumlah anggota keluarga serta cara menunda kehamilan merupakan keputusan bersama. Sisca dan suaminya sepakat untuk menunda memiliki anak setelah putra pertama mereka lahir. 

Selama IUD terpasang di rahimnya, Sisca tidak mengalami keluhan berarti. Perubahan yang ia rasakan adalah pada siklus menstruasi yang sedikit tidak teratur serta menstruasi yang menjadi banyak.

Setelah 5 tahun memakai IUD, Sisca dan suami berencana menambah momongan. Ia pun memutuskan untuk melepas IUD. Sayangnya, Ia lupa jika tiket liburan ke Jepang telah dipesan jauh-jauh hari. Karena tidak ingin terbang dalam keadaan hamil, maka Ia pun kembali berkonsultasi ke dokter untuk mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang lebih singkat. Dokter pun menyarankan untuk mengkonsumsi pil KB. 

Berbeda dengan IUD copper, pil KB menggunakan hormon progestin dan estrogen untuk mencegah terjadinya ovulasi atau lepasnya sel telur dari indung telur. Seperti bisa membaca ketakutan Sisca, dokter meyakinkan bahwa pil KB tidak akan membuatnya gemuk.

Sayangnya, hanya dalam 6 bulan pemakaian, berat badan Sisca naik hingga 8 kg. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pil KB tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Usia dan perubahan lingkungan lah yang dapat menambah berat badan. Apabila terjadi kenaikan berat badan, biasanya hanya berlangsung 2-3 bulan kemudian berat kembali normal. Kenaikan berat ini bisa jadi bukan merupakan lemak, merupakan timbunan cairan akibat pengaruh hormon dan bersifat sementara.

Kini, Sisca sudah tidak lagi menggunakan alat kontrasepsi karena sedang merencanakan kehamilan anak kedua. Baginya, IUD lebih nyaman digunakan dibandingkan pil KB. Selain alasan kenaikan berat badan tadi, Ia juga harus disiplin meminum pil setiap hari di waktu yang sama. Namun, ada sebagian ibu lain di luar sana yang lebih memilih pil KB karena alasan kepraktisan, biaya, serta penundaan kehamilan jangka pendek.

Ingin tau lebih lanjut tentang pilihan kontrasepsi yang terbaik? http://skata.info/kontrasepsiku ini jawabannya! 

 



Konsultasi dengan dokter