Sosok ayah zaman dahulu kerap lekat dengan ketegasan, sementara ibu identik dengan sosok yang penuh kelembutan. Maka, adalah suatu hal yang wajar jika ayah menjewer telinga atau memukul pantat anak atas nama kedisiplinan. Pada masa pengasuhan modern seperti sekarang, hukuman fisik sudah banyak ditinggalkan. Namun, perlu diakui bahwa orang tua generasi milenial adalah produk dari generasi sebelumnya yang tumbuh besar dengan pola asuh orang tuanya. Kebiasaan mengasuh anak zaman old pun kerap muncul sebagai bentuk meniru yang dilakukan secara tidak sadar. 

Saat ayah menggunakan kekerasan –secara sadar ataupun tidak-, ia sedang menggunakan jalan pintas untuk mengontrol anak. Secara jangka pendek, masalah dapat terselesaikan. Namun, hal ini dapat menjadi masalah serius secara jangka panjang, karena dari sini anak belajar bagaimana menyelesaikan masalah ketika dewasa. 

James Lehman, founder Empowering Parents (program yang menangani remaja bermasalah), menyebut hal di atas sebagai aggressive parenting. Bentuk pengasuhan agresif ini seolah memberikan anak dua pilihan: menjadi korban, karena peran itulah yang diberikan oleh ayah mereka ketika menghukum, atau menjadi pelaku agresi sebagai hasil meniru perilaku sang ayah.   

Saat anak lebih memilih untuk menjadi pelaku agresi, maka ia rentan melakukan bullying atau perisakan kepada temannya. Bullying tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, namun juga verbal, tergantung dari mana yang lebih banyak ia lihat dari sosok orang tuanya. Namun, tidak semua anak yang tumbuh dari didikan “keras” sang ayah kelak menjadi perilaku bullying. Ada karakter bawaan anak yang menjadi penguat, yaitu suka melawan orang tua, suka bertengkar, tingkat percaya diri berlebih, dan pendendam.

Jika ternyata anak Anda menjadi salah satu pelaku bully di sekolah, jangan langsung dimarahi ya! Melawan kekerasan dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Dokter Nurlita Endah Karunia, M.Psi dalam www.jawapos.com menyarankan untuk menanyai anak secara baik-baik alasan ia melakukannya. Setelah menemukan penyebabnya, orang tua bisa berdiskusi dengan pihak sekolah apa yang sekiranya bisa membuat anak menghentikan aksi bully-nya. Jangan lupa, koreksi diri. Anak bisa saja meniru ayah atau ibu di rumah, juga merasa kurang dihargai sehingga mencari pengakuan dari teman-temannya dengan cara yang salah.   

Sebaliknya, jika anak kita menjadi korban bullying, bagaimana cara menyelesaikannya secara efektif?

Pertama, kita harus ingat bahwa tujuan utamanya adalah membuat anak merasa berdaya dan kuat menghadapi ini sendirian, sebisa mungkin. Awali dengan mendengarkan dan berusahalah untuk menahan emosi kita dalam pembicaraan tersebut. Kedua, tanyakan pada anak, apa yang kira-kira bisa ia lakukan untuk mengatasi masalah ini. Apakah itu mencari teman bermain agar tidak sendiri atau memberitahu guru. Jika anda ingin terlibat, minta persetujuannya dan tanyakan bagaimana sebaiknya anda harus turun tangan. Ketiga, jika bullying tetap berlanjut, temui kepala sekolah atau pihak dengan otoritas lebih tinggi.

Dengan kasus bullying yang meningkat akhir-akhir ini, termasuk di dunia maya, kita harus terus rajin menimba ilmu dan tidak bergantung pada hasil didikan orang tua kita saja. Jangan sampai kita berkontribusi terhadap terjadinya bullying

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter