Berbicara tentang Orangtua tunggal, seringkali identik dengan seorang Ibu. Banyak yang berfikir, sulit untuk Ayah mengurus anak-anaknya sendiri tanpa peran Ibu. Padahal menurut Psikiater dr. Irmia Kusumadewi SpKj(K) Ayah mampu menjadi orangtua tunggal asalkan di waktu tertentu bisa berkomunikasi dengan gaya Ibu yang afeksinya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak untuk menerima serta mengerti perkembangan anak secara kognitif dan emosional. Dengan begitu, segala keterbatasan akan terisi sendiri oleh masing-masing anak sesuai dengan kecerdasan kognitif dan emosionalnya. 

Tak sering kita mendengar kisah Ayah tunggal yang berhasil membesarkan anak sendiri, atau mungkin kisahnya tak banyak terungkap. Kali ini, seorang Ayah tunggal, Andre, ingin berbagi pengalaman dan ceritanya dalam mendidik dua anak laki-lakinya. Ternyata benar adanya, Ayah mampu lho mengurus dan mendidik anak-anaknya. Simak, yuk wawancaranya!

Gimana awalnya Anda memutuskan untuk mengasuh anak-anak sendiri?

Atas dasar cinta yang luar biasa pada anak-anak, dan merasa yakin mampu merawat sepenuh hati dengan kondisi apapun membuat saya memutuskan untuk merawat mereka melalui sebuah proses.

Ada penyesuaian yang signifikan tidak, untuk diri sendiri dan juga anak-anak?

Tidak ada penyesuaian khusus, hanya dengan sabar dan mengatur waktu dengan baik. Saya jalanin apa adanya dan memprioritasikan kepentingan anak-anak.

Apa aja sih, suka duka jadi Ayah tunggal?

Merawat dan membesarkan dua anak merupakan tantangan tersendiri dan semua saya jalani dengan sabar. Anak saya yang pertama sudah di bangku SMA, ia anak baik serta tekun belajar. Adiknya, umur 12 tahun merupakan anak berkebutuhan khusus. Walau begitu, saya merasa lebih banyak suka daripada duka. Segala kesulitan dihadapi dengan sabar dan berdoa.

Gimana bagi waktu antara pekerjaan dengan anak?

Rasanya tidak terlalu sulit, karena selain berprofesi sebagai atlit olahraga, saya juga bekerja sebagai Arsitek yang berkantor di rumah. Di lain itu saya membuka usaha bengkel otomotif kecil tidak jauh dari rumah. Dengan begitu, tidak sulit untuk membagi waktu, karena  saya bisa mengontrol mereka setiap saat.

Bagaimana soal pendidikan anak? Apa saja yang menjadi pertimbangan?

Anak-anak harus mendapatkan pendidikan (sekolah) yang baik untuk bekal mereka di kemudian hari. Berbeda dengan anak kedua yang membutuhkan perhatian khusus dalam mencarikan sekolah yang cocok dan nyaman karena kondisinya.

Menurut Anda bagaimana berkomunikasi yang efektif dengan anak?

Saya mencoba melihat dari sudut pandang anak. Apa yang ia rasakan membuat kami bisa saling memahami. Hal itu pula yang membuat anak jadi terbuka karena saya berusaha memahami apa yang ia rasakan. Berbicara sebagai seorang teman, tanpa meninggalkan sosok Ayah.

Punya aktivitas rutin yang biasa dilakukan dengan anak-anak?

Ada dong, sebisa mungkin kami selalu pergi bersama. Setiap akhir pekan, kami pergi ke lapangan untuk bermain atau jalan-jalan. Di rumah, saya selalu sempatkan mengobrol dan bermain bersama mereka.

Bisa jelaskan hidup Anda sekarang dalam tiga kata? 

Patient, fun and challenging!

 

 

 

 

 



Konsultasi dengan dokter