Istilah Ibu rumah tangga tentu sudah cukup familiar di telinga. Ya, Ibu dengan kecanggihannya multi peran tentu dirasa mampu melakukan semua pekerjaan rumah termasuk mengurus anak-anaknya. Lalu gimana dengan bapak? Bapak yang identik dengan bekerja di luar rumah, mungkin enggak, sih bisa menjadi bapak rumah tangga menggantikan peran ibu? 

Di jaman modern ini, memang agak asing mendengar istilah bapak rumah tangga. Tapi ternyata, ada sosok bapak yang mampu bertukar peran dengan istri yang bekerja. Simak kisah Aries Hartanto (42) yang bertukar peran dengan Riska Yunita (40) dalam mengurus rumah tangga sekaligus anak semata wayangnya, Ames (9). 

Sebelumnya Anda sempat bekerja?

Ya, saya sempat bekerja di sebuah bank sebagai Admin Support. Kala itu istri juga bekerja di sebuah perusahan asuransi sebagai Network Manager

Gimana sih cerita awalnya, sampai memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga? 

Saat anak saya Ames, sudah masuk waktu sekolah. Ia yang memiliki Asperger Syndrom Disorder membutuhkan guru pendamping (shadow teacher) di sekolahnya. Ketika itu kami memutuskan bahwa salah satu dari kami harus mendampinginya, karena neneknya sudah usia lanjut dan rasanya sudah kurang kuat untuk menemani. Saya sepakat untuk berada di rumah, dan istri melanjutkan pekerjaannya. 

Ketika akhirnya memutuskan menjadi bapak rumah tangga sempat ada beban? 

Sewajarnya, iya. Sempat ada beban karena tidak bisa memberikan gaji dan menafkahi keluarga. Tapi keputusan sudah dibuat dan kami saling menghargai keputusan tersebut. 

Sempat ada kendala “omongan orang” kah tentang keputusan itu?

Pasti ada, tapi orang-orang terdekat seperti keluargaa dan kerabat mereka paham dan mengerti situasi kami, juga Ames. 

Waktu akhirnya turun tangan di rumah, sempat mengalami nonstop work seperti yang dijalanin Ibu rumah tangga pada umumnya? 

Karena biasa mengerjakan pekerjaan rumah dari kecil, jadi buat saya tidak ada masalah dengan pekerjaan rumah yang banyak. Tak terkecuali dengan Ames, mengurusnya bukan masalah sama sekali untuk saya. 

Gimana komunikasi dengan istri soal pembagian tugas?

Kita sama-sama tau peran masing-masing. Istri bekerja, saya mengurus rumah dan anak. Begitu dia pulang, rumah sudah beres. Jadi komunikasi kami biasa saja. Tidak perlu ada tugas ini atau itu, karena masing-masing sudah paham dan menjalankan fungsinya. 

Buat sebagian laki-laki, harga diri kadang terancam saat istri lebih banyak penghasilan. Menurut Anda gimana? 

Buat saya dan istri selama penghasilan digunakan untuk kebutuhan bersama, tak pernah ada masalah siapa yang memiliki penghasilan lebih besar. Jadi saya tidak pernah merasa terancam. Kita saling terbuka akan pemasukan dan pengeluaran. 

Anak sempat diberi pengertian perubahan peran ayah dan ibu di keluarga?

Tidak. Karena anak saya memang sudah terbiasa melihat saya yang lebih banyak berada di rumah. Ia paling dekat dengan saya, jadi ketika memutuskan untuk mengurusnya dan rumah tangga, ia sangat senang. Tidak ada peran yang berubah ketika dirumah. Saya tetap menjadi ayah, ibu tetap menjadi dirinya. Hanya persoalan siapa yang bekerja, dan siapa yang dirumah. Anak juga tidak pernah membandingkan dengan teman-temannya. 

Memiliki anak dengan kebutuhan khusus, gimana peran ayah dalam pendidikan dan tumbuh kembangnya? 

Karena saya berhubungan langsung dengan aktivitasnya di sekolah dan pendidikannya, jadi saya mengerti dan paham bagaimana menanganinya. Disamping itu, dengan adanya internet dan juga aktif di komunitas anak berkebutuhan khusus, saya jadi lebih teredukasi dan mudah mengedukasi anak. Baik dalam soal agama, maupun pendidikan. 

Ada tipskah membangun komunikasi yang baik dengan istri, terutama saat di momen terendah?

Sampai saat ini, komunikasi kami terjalin dengan baik sehingga belum pernah merasa memiliki momen terendah dalam hidup. Memang terkadang, kami merasa sedih kalau Ames tidak memiliki teman, atau ada yang menjauhi. Tapi kami terus membangun percaya dirinya, dengan tidak melarangnya melakukan segala aktivitas (dengan pengawasan tentunya) kecuali itu membahayakan dirinya dan orang lain.  

Such an inspiring story, ada pesan tidak buat para bapak diluar sana terutama yang terfikir ingin menjadi bapak rumah tangga seperti Anda? 

Ikuti alur, fokus pada kebahagiaan anak, keluarga dan yang terpenting Tuhan. Itu saja. 

Artikel ini adalah bagian dari hasil kerja sama SKATA untuk kampanye 1001 Cara Bicara dengan Magdalene, media feminis progresif yang menyajikan artikel dan esai untuk berpikir kritis dalam menanggapi berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, tanpa terkecuali isu-isu seputar kesehatan seksual dan reproduksi.

 



Konsultasi dengan dokter