Menyusui ASI secara eksklusif disebut sebagai salah satu cara alami mencegah kehamilan pada 6 bulan pertama setelah melahirkan. Metode yang juga dikenal dengan nama Metode Amenorea Laktasi (MAL) ini bahkan memiliki tingkat keberhasilan hingga 97%

Karena itu, cukup banyak ibu menyusui yang mengandalkan kontrasepsi alami ini dan tidak menggunakan alat kontrasepsi lainnya untuk menunda kehamilan. 

Selain tidak memerlukan biaya, MAL juga tidak menghambat produksi ASI, tidak mengurangi kualitas hubungan seksual, dan tidak memerlukan tindakan medis apapun. 

Sayangnya, banyak yang akhirnya tetap hamil pada saat masih menyusui ASI secara eksklusif. Penyebabnya adalah tidak terpenuhinya syarat untuk melakukan MAL sebagai metode kontrasepsi.

Nah karena itu agar resiko hamil lagi atau biasa kita sebut kesundulan tidak terjadi, yuk cermati syarat-syarat berikut ini!

 

1. Menyusui ASI Secara Langsung (tanpa pumping)

Mengapa harus menyusui secara langsung? Karena hisapan bayi yang sering dan lama pada payudara ibu mampu menekan produksi hormon GnRH pada bagian otak yang bernama hipotalamus. 

GnRH (Gonadotropine Releasing Hormone) mampu menekan produksi LH di hipofisis. Karena LH (Luteinizing Hormone) mencetuskan terjadinya ovulasi atau pelepasan sel telur ke rahim, maka berkurangnya produksi LH menyebabkan tidak terjadinya ovulasi. (unduh panduan kontrasepsi disini)

Selain hormon-hormon di atas, menyusui secara langsung juga merangsang keluarnya hormon prolaktin. Prolaktin mampu memicu keluarnya air susu pada kelenjar payudara sekaligus menghambat pematangan sel telur. Jika kadar prolaktin berlebih, maka ovulasi akan terganggu dan dapat mengakibatkan tidak terjadinya menstruasi.

Banyak kasus ibu menyusui ASI secara langsung namun juga melakukan pumping (memerah ASI) baik dengan pompa atau perah tangan, namun masih menggunakan metode kontrasepsi MAL ini. Akibatnya, terjadi kehamilan. 

Meskipun sama-sama mengeluarkan ASI dari payudara, pada proses pumping tidak terjadi kinerja hormon seperti pada proses menyusui secara langsung. Ovulasi pun masih dapat terjadi. Jika pada saat ovulasi ibu melakukan hubungan seksual, maka ibu tetap bisa hamil. 

Tidak terjadinya menstruasi (amenorea) bisa berarti tidak ada pelepasan sel telur, atau malah sel telur telah dibuahi dan menjadi janin.

 

2. Menyusui ASI Eksklusif

Menyusui ASI ekslusif berarti bayi hanya minum ASI saja tanpa tambahan susu formula. Jika bayi diberi susu formula secara rutin sebagai pengganti ASI pada kondisi tertentu maupun telah diberi MPASI (Makanan Pendamping ASI), maka Metode Amenorea Laktasi sudah tidak efektif lagi. 

Penambahan susu formula maupun MPASI dapat mengurangi frekuensi bayi untuk menyusu secara langsung sehingga produksi hormon yang mengatur ovulasi tidak akan berkurang signifikan. 

Padahal, penjelasan di atas menyebutkan bahwa hisapan bayi yang sering dan lama lah yang mampu menekan produksi hormone GnRH.

Lalu, seberapa sering bayi harus menyusu ASI agar MAL efektif? Pada siang hari, setidaknya bayi menyusu setiap empat jam atau enam jam sekali pada malam hari.

 

3. Belum Menstruasi

Sesuai namanya, amenorea berarti tidak terjadi menstruasi. Jika ibu telah kembali mengalami menstruasi meskipun bayi masih menyusu ASI eksklusif dan belum mencapai usia enam bulan, metode ini sudah tidak efektif. 

Menstruasi merupakan tanda bahwa hormon yang mengatur pematangan sel telur sudah berfungsi dengan baik dan kesuburan anda telah kembali. Menstruasi pertama biasanya terjadi 6 sampai 8 minggu pasca persalinan jika ibu tidak menyusui. 

Sementara itu, ibu yang menyusui ASI secara eksklusif bisa tidak mendapat menstruasi selama mereka masih menyusui.

 

4. Umur Bayi Harus di Bawah 6 Bulan

Saat bayi berumur enam bulan, bayi mulai diperkenalkan pada MPASI. Hal ini akan mengurangi frekuensi bayi dalam menyusu sehingga mengurangi kinerja hormon yang menghambat ovulasi

Meskipun ibu belum menstruasi pada bulan keenam dan masih memberikan ASI eksklusif, Metode Amenorea Laktasi sebaiknya tidak dilanjutkan.

Jika pada rentang waktu enam bulan tersebut ada satu syarat saja yang tidak terpenuhi, maka Metode Amenorea Laktasi ini sudah tidak efektif lagi. 

Pilih metode kontrasepsi lain yang sesuai dengan kondisi tubuh. Ibu bekerja yang sejak awal sudah berencana untuk pumping sebaiknya memilih metode kontrasepsi lainnya.

Nah, jika kita sudah memahami dan memenuhi empat syarat MAL di atas, kita tidak lagi berisiko hamil lagi. Jangan lupa tentukan pula metode kontrasepsi setelah fase menyusui eksklusif selesai, ya!

 

*artikel sudah diverifikasi langsung oleh dr. Viranda, salah satu konselor laktasi dari Praborini Lactation team



Konsultasi dengan dokter