Stunting masih menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi Indonesia hingga saat ini. Menurut laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia telah mencapai 21,6% pada 2022. Meski ada tren penurunan angka dari tahun ke tahun, namun masih lebih tinggi dari toleransi WHO yang sebesar 20%, selain itu juga masih perlu diupayakan agar dapat mengejar target pemerintah sebesar 14% pada 2024.

Stunting tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan saja, tapi juga memengaruhi kemampuan kognitif, produktivitas, hingga ekonomi yang krusial bagi masa depan anak. Hasil studi membuktikan bahwa faktor penyebab utama yang memicu stunting adalah asupan gizi pada masa 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) yang tidak mencukupi dan infeksi berulang. Selebihnya adalah faktor lingkungan seperti kondisi air dan sanitasi yang buruk, termasuk juga pencemaran atau paparan polusi yang berasal dari asap rokok.

Masyarakat Indonesia belum bisa lepas dari konsumsi rokok, meski kondisi ekonominya pas-pasan

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2022 menunjukkan bahwa rokok menjadi pengeluaran tertinggi kedua pada rumah tangga setelah beras, hal ini terjadi pada rumah tangga di perkotaan maupun perdesaan. 

Berdasarkan data, tercatat bahwa pengeluaran untuk beras pada rumah tangga di perkotaan sebesar 19,38% dan perdesaan 23,04%. Setelah itu, diikuti dengan pengeluaran untuk belanja rokok sebesar 12,21% di perkotaan dan 11,63% di perdesaan. Persentase pengeluaran untuk rokok ini justru lebih besar dibandingkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani seperti daging ayam ras, yang hanya sebesar 4,63% di masyarakat perkotaan dan 3,49% di perdesaan, serta telur ayam ras sebesar 4,12% di perkotaan dan 3,24% di perdesaan.

Atlas Tembakau Indonesia pada 2020 melaporkan fakta memprihatinkan bahwa para perokok mayoritas berasal dari kalangan miskin. Padahal jelas-jelas konsumsi rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan karena rokok bukan bahan makanan pokok, namun tingkat konsumsinya tinggi.

Rata-rata masyarakat Indonesia mengeluarkan Rp382.091 untuk membeli rokok setiap bulannya menurut Global Adult Tobacco Survey 2021. Nominal ini tentu cukup besar bagi rumah tangga miskin dengan pendapatan yang terbatas. Belum lagi biaya tambahan untuk mengatasi masalah kesehatan yang banyak ditimbulkan akibat konsumsi rokok. Faktor kecanduan disinyalir menjadi alasan kenapa masyarakat Indonesia masih terus merokok, terlepas dari faktor lain seperti kebijakan pemerintah terkait produksi, distribusi, maupun konsumsi rokok di kalangan masyarakat.

Dampak perilaku merokok orang tua terhadap kejadian stunting 

Selain berkontribusi pada kemiskinan rumah tangga, hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku merokok pada orang tua, terutama ayah, akan memengaruhi proses pertumbuhan anak baik secara langsung maupun tidak langsung, yang mana akan meningkatkan risiko stunting.

1. Asap rokok bisa menghambat tumbuh kembang anak

Perilaku merokok tidak hanya menurunkan kualitas sperma dan menyebabkan anemia pada ibu hamil, pajanan asap rokok juga berdampak langsung pada tumbuh kembang anak. Hasil penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) mengungkap bahwa anak yang memiliki orang tua perokok memiliki kemungkinan 5,5% lebih besar untuk mengalami stunting. Selain itu, anak dari orang tua perokok memiliki pertumbuhan berat badan rata-rata 1,5 kilogram lebih rendah dibandingkan anak dari orang tua bukan perokok. Anak dari orang tua perokok juga memiliki tinggi badan 0,34 sentimeter lebih rendah dibandingkan anak dengan orang tua bukan perokok.

Asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembangnya. Nikotin, tar, dan karbon monoksida yang merupakan tiga racun utama dalam rokok, menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah. Jika pembuluh darah tersumbat, zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh, termasuk gizi yang dibutuhkan anak, akan terhambat sehingga tubuh rentan mengalami ketidakseimbangan dan mudah terkena penyakit. Jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka anak yang terpapar asap rokok akan berisiko lebih tinggi mengalami stunting.

2. Belanja rokok menggeser kebutuhan makanan bergizi 

Orang tua perokok lebih mudah mengeluarkan biaya untuk belanja rokok ketimbang belanja kebutuhan esensial seperti makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan penting lainnya. Seperti halnya data yang dipaparkan oleh BPS pada Maret 2022, bahwa pengeluaran untuk rokok berada di atas pengeluaran untuk protein hewani yang menjadi asupan gizi terpenting untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Akibatnya, alokasi pengeluaran untuk makanan bergizi menjadi lebih rendah, anak-anak pun menjadi pihak yang dirugikan karena mereka tidak mendapatkan kecukupan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Padahal jika belanja rokok dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali, kesempatan keluarga miskin (yang notabene mayoritas perokok) untuk belanja makanan bergizi akan jadi lebih besar.

Setelah terbukti bahwa rokok menjadi salah satu faktor yang menyebabkan stunting, sudah semestinya menjadi tugas pemerintah untuk lebih tegas dalam memberikan kebijakan terkait konsumsi rokok di Indonesia. Dalam hal ini, mengendalikan konsumsi rokok tidak hanya akan mengurangi prevalensi perokok tetapi juga menekan angka stunting demi mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

 

Referensi: Kemkes, TCSC Indonesia, WHO, Cegah Stunting, Kompas