Menurut hasil survei lembaga riset Rakuten Insight Global tahun 2021, kucing menjadi binatang peliharaan yang paling banyak dipelihara oleh responden Indonesia, yaitu sebanyak 47%. Fenomena ini pun diikuti oleh menjamurnya petshop dan makin mudahnya menemukan penyedia jasa yang melayani kebutuhan anabul ("anak berbulu" -istilah yang disematkan untuk hewan peliharaan berbulu), termasuk grooming dan vaksinasi. Terlepas dari makin mudahnya menjaga kucing tetap bersih dan sehat, kekhawatiran akan kucing bisa membuat mandul tetap ada. Bahkan, ada yang khawatir bulu kucing bisa membuat mandul. Benarkah demikian?

Faktanya, bulu kucing tidak menyebabkan kemandulan. Jika yang dikhawatirkan adalah penyakit toksoplasma, maka parasit toksoplasma dapat menyebar melalui kotoran kucing, bukan bulu kucing.

Apakah toksoplasmosis itu?

Toksoplasmosis adalah infeksi yang didapatkan dari parasit yaitu Toksoplasma gondii. Toksoplasmosis menyerang sistem imun tubuh. Bagi orang biasa, toksoplasmosis tidak berbahaya karena pertahanan sistem kekebalan tubuh. Namun, bagi ibu hamil dan wanita yang merencanakan kehamilan, parasit toksoplasma berbahaya.

Toksoplasma yang menginfeksi ibu hamil dapat menyebabkan cacat janin seperti kerusakan pada mata dan otak, kelahiran prematur, maupun keguguran.

Bagi bayi yang lahir sehat, pengaruh toksoplasma bisa muncul di kemudian hari dalam bentuk gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kerusakan hati dan limpa, masalah kulit, muntah, dan diare.

Di Indonesia, kemungkinan seseorang terkena toksoplasmosis adalah 2-63%. Sementara itu, diperkirakan sepertiga dari populasi manusia di dunia pernah terifeksi toksoplasma.

Bagaimana toksoplasma menyebar?

Kucing berperan sebagai inang utama. Pada kucing yang terinfeksi, feses (kotoran) kucing menjadi sumber penyebaran yang dapat menginfeksi hewan dan manusia mulai dari 24 jam setelah dikeluarkan hingga 18 bulan pada kondisi yang sesuai. Tidak hanya itu, parasit ini juga dapat menyebar melalui air dan bertahan pada tanaman. Jika toksoplasma tertelan oleh hewan, maka parasit ini dapat menyebar melalui aliran darah dan menetap pada organ tubuh termasuk otot (daging). 

Itulah mengapa, 50% dari kasus toksoplasmosis disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi daging mentah atau belum matang, serta makanan dan minuman yang terkontaminasi. Makanan seperti sate, steak, buah, dan lalapan bisa membantu penyebaran toksoplasma.

Infeksi ini juga dapat tertular melalui kontak fisik dengan tanah yang terkontaminasi kotoran kucing, transfusi darah, dan transplantasi organ. Pada janin, toksoplasma ditularkan melalui plasenta. Kemungkinan ibu hamil untuk terinfeksi toksoplasma pada trimester 1 sebesar 15%, pada trimester kedua 30%, dan trimester ketiga 60%. Pada fase kehamilan akhir, toksoplasmosis akan lebih berbahaya terhadap bayi dibandingkan bayi yang sudah terinfeksi pada trimester 1. 

Jadi, bagaimana agar kucing peliharaan tidak menyebabkan toksoplasma?

Berikut adalah tips bagaimana merawat kucing sehingga tidak terinfeksi toksoplasma.

1. Menggunakan sarung tangan saat mengganti kotak kotoran kucing dan mencuci tangan dengan sabun secara bersih.

2. Membersihkan tempat kotoran kucing setiap hari karena parasit Toksoplasma gondii baru dapat menginfeksi 1-5 hari setelah feses dikeluarkan.

3. Memberikan makanan kering atau makanan kaleng kepada kucing, bukan makanan mentah atau setengah matang.

4. Tetap menjaga batasan main kucing dalam ruangan. 

5. Menjauhi kucing liar, terutama anak kucing dan tidak memelihara kucing baru ketika hamil.

6. Memasak hidangan daging minimal dengan suhu 63 derajat celcius dan di istirahatkan selama 3 menit sebelum dikonsumsi. 

Jadi, bulu kucing menyebabkan mandul adalah mitos, ya!

 

Referensi: Maureen Aretha (Dokter Muda Universitas Pelita Harapan)