Sampai hari ini, masih banyak orang tua berlomba-lomba mengirim anaknya ke sekolah favorit agar pencapaian akademisnya di atas rata-rata, agar bisa “sukses” di masa depan. Padahal, nilai akademis umumnya hanya menekankan pada kecerdasan intelektual atau IQ. Tak heran jika ada pelaku korupsi yang lulusan S-2 perguruan tinggi ternama, ada pula murid yang selalu peringkat 5 besar tapi depresi berat saat gagal masuk kampus favorit. Mungkin, mereka memang cerdas, namun kecerdasan emosi atau EQ-nya tidak terasah dengan baik.

Padahal, bagaimana orang tua mengasah kecerdasan emosi anak, bisa memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan mereka hingga dewasa nanti.

Apa itu kecerdasan emosi?

Sederhananya, kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami emosi yang ada di dalam dirinya dan orang lain.

Dalam buku Emotional Intelligence, Daniel Goleman menyebutkan 5 dimensi utama yang perlu dimiliki seseorang agar dikatakan cerdas secara emosional. 

Pertama, pemahaman emosi yaitu kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi, baik pada diri sendiri maupun orang lain. 

Kedua, pengelolaan emosi yang mencakup keterampilan mengendalikan emosi, mengelola stres, dan merespons emosi dengan cara yang positif. 

Ketiga, motivasi diri yang melibatkan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, menetapkan tujuan yang bermakna, dan memiliki semangat dalam menghadapi tantangan. 

Empati sebagai dimensi keempat, menunjukkan kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain. 

Terakhir, keterampilan sosial, yaitu kemampuan berinteraksi secara efektif dengan orang lain, membangun hubungan yang sehat, dan memiliki keterampilan komunikasi yang baik.

Baca: IQ atau EQ, Manakah yang Lebih Penting?

Masalahnya, mengajari anak agar memiliki kecerdasan emosi tidak semudah mengajari penjumlahan atau perkalian. Banyak orang tua merasa kewalahan, terutama saat anak memasuki usia pra remaja. Semakin bertambah usia, anak akan terus belajar dan berusaha ‘memperjuangkan’ apa yang mereka mau, meskipun dengan cara-cara yang ‘ajaib’. Karena orang tua belum terlalu paham bahwa perilaku anak yang menguji kesabaran ini adalah bentuk dari perkembangan kecerdasan emosional mereka, maka banyak orang tua yang keliru dalam menanggapi emosi sang anak seperti yang disebutkan Goleman berikut ini:

1. Sikap acuh tak acuh

Orang tua macam ini seringkali mengabaikan perasaan anak mereka. Bagi mereka, masalah emosional anak dianggap sepele atau bahkan mengganggu. Sayangnya, mereka kehilangan kesempatan berharga untuk mendekatkan hubungan dengan anak melalui momen-momen emosional.

2. Terlalu membebaskan

Ada juga orang tua yang sangat peka terhadap perasaan anak, namun memberikan kebebasan berlebihan. Mereka mungkin menganggap bahwa anak bisa menangani badai emosionalnya sendiri, tanpa memberikan panduan positif, bahkan membiarkan anak meluapkan emosinya walaupun dengan cara memukul. Seringkali, pendekatan ini melibatkan memberi ruang untuk anak mengekspresikan emosinya tanpa bimbingan yang tepat.

3. Menghina dan tidak menghargai

Orang tua yang cenderung menghina dan tidak menunjukkan penghargaan terhadap perasaan anak bisa menciptakan lingkungan yang tidak kondusif. Memberikan celaan, kecaman, atau hukuman keras tanpa mendengarkan alasannya bisa merugikan perkembangan emosional anak.

Baca: 5 Ciri Orang Tua Narsistik, Salah Satunya Wariskan Ambisi ke Anak

Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk mengasah kecerdasan emosi anak?

Ada 7 prinsip penting yang perlu diingat untuk membuat anak memiliki kecerdasan emosi.

1. Keyakinan: memastikan anak merasa memiliki kendali dan penguasaan atas dirinya sendiri dan dunianya

2. Rasa ingin tahu: mendorong rasa ingin tahu positif dan memberikan dukungan untuk eksplorasi

3. Niat: menumbuhkan hasrat dan kemampuan anak untuk berhasil dan bertindak dengan tekun

4. Kendali diri: mengajarkan anak tentang penyesuaian dan pengendalian tindakan sesuai usia

5. Keterkaitan: mengembangkan kemampuan anak untuk terlibat dan memahami orang lain

6. Kecakapan berkomunikasi: mendorong keyakinan dan kemampuan anak untuk berbicara dan berbagi gagasan dan perasaan

7. Kooperatif: mengajarkan anak untuk menyeimbangkan kebutuhan dirinya dengan kebutuhan orang lain dalam kegiatan kelompok

Mendidik anak bukan hanya tentang memberikan pengetahuan akademis, tetapi juga tentang membimbing mereka dalam memahami dan mengelola emosi. Kecerdasan emosional yang baik adalah investasi berharga untuk masa depan mereka.

Tapi ingat, sebelum mengajarkannya ke anak, pastikan kita para orang tua mampu menguasai kecerdasan emosi diri sendiri, ya! 

Dengan menggali kecerdasan emosional bersama, kita dapat membantu anak-anak membangun dasar yang kuat untuk meraih keberhasilan, bahkan keseimbangan dalam kehidupan dan ikatan keluarga yang harmonis.

 

 

Referensi: Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Image by Lifestylememory on Freepik