Periode emas dalam tumbuh kembang anak terjadi pada masa 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Dalam fase ketika usia anak berada pada rentang 0-2 tahun ini, organ-organ vital seperti otak, hati, jantung, tulang, kaki, dan lengan sedang berkembang dengan pesatnya. Itulah kenapa, selain nutrisi juga diperlukan pemberian stimulasi agar tumbuh kembangnya optimal. Salah satunya adalah stimulasi pada sistem sensorik.

Sistem sensorik sendiri merupakan bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab untuk memproses informasi yang berhubungan dengan panca indera. Berbeda dengan fungsi motorik atau yang berhubungan dengan gerak otot dan tulang, keterampilan sensorik juga berhubungan dengan kecerdasan emosional, perkembangan kognitif, serta fisik untuk mendukung proses pembelajaran, pergerakan, serta perilaku anak. Dengan adanya kemampuan sensorik, anak dapat mengenali dan menjelajahi lingkungan sekitar selama masa tumbuh kembangnya.

Apa pentingnya stimulasi kemampuan sensorik anak?

Sistem sensorik meliputi 7 indera yang sudah dibawa anak sejak lahir. Fase 1000 HPK merupakan tahun-tahun pertama di kehidupan anak di mana mereka bekerja dengan sistem sensorik melalui aktivitas motorik yang dilakukan setiap hari. Maka dari itu, sistem sensorik perlu distimulasi sedini mungkin agar dapat berfungsi dan berkembang secara maksimal.

Menurut Rayi Tanjung Sari, seorang Psikolog Klinis Anak, mengatakan bahwa jika 7 sistem sensorik ini tidak terstimulasi dengan baik, maka otak akan mengalami kekacauan sehingga respons terhadap rangsangan yang masuk tidak akan maksimal atau justru tidak tepat. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan belajar, rutinitas harian, dan perilaku karena ketiganya saling terhubung.

Contohnya, ketika sensorik otot dan keseimbangan tidak terstimulasi dengan baik, akibatnya anak jadi kurang fokus, lebih mudah terjatuh, dan sulit duduk tegak.

Bagaimana cara melakukan stimulasi pada kemampuan sensorik anak?

Ada 7 jenis kemampuan sensorik dasar anak sehingga cara stimulasinya akan berbeda-beda menurut jenisnya, seperti dijelaskan berikut ini: 

1. Sentuhan (taktil)

Sentuhan merupakan sistem sensorik yang pertama kali berkembang pada anak sejak dalam janin untuk mengenali lingkungannya. Sensorik ini berkaitan dengan fungsi indera peraba untuk merasakan ketika mendapat rangsangan sentuhan, tekanan, getaran, gerakan, temperatur, dan rasa sakit melalui kulit.

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Memberikan benda atau mainan dengan aneka tekstur seperti kain lembut, karpet yang kasar, bola plastik yang licin, sikat yang bergerigi, tepung dicampur air yang liat, boneka berbulu, buku bertekstur, dll
  • Bermain atau berjalan tanpa alas kaki di atas pasir atau rumput
  • Bermain air, gelembung sabun, atau slime
  • Mengelus hewan peliharaan

Gangguan pada sensorik sentuhan:

  • Tidak mau atau tidak suka disentuh
  • Tidak menyukai benda bertekstur tertentu (rumput, pasir, tepung yang liat, benda berbulu, dll)
  • Merasa risi atau tidak nyaman saat mengenakan baju dengan label
  • Tidak suka rambutnya disisir
  • Tidak tahan bagian tangan, kaki, atau berada di lingkungan yang kotor
  • Berjalan jinjit atau susah menapakkan kaki
  • Cenderung menghindari kerumunan

2. Pendengaran (auditori)

Sensori auditori merupakan sistem indera yang berfungsi menerima dan mengolah suara (kemampuan mendengar). Kemampuan ini sudah berkembang sejak usia kehamilan 28 minggu. Pada 12 bulan pertama, kemampuan mendengar dan memberi respons anak mulai berkembang, terutama pada usia 2-6 bulan. Dia akan mulai mengoceh dan meniru suara-suara tertentu.

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Belajar mengenal dan menebak bunyi aneka binatang
  • Memperdengarkan berbagai macam suara seperti suara hujan, kendaraan, dll
  • Memperkenalkan berbagai macam instrumen musik
  • Menyanyikan lagu
  • Mengajak bercerita, bisa dengan membacakan buku
  • Bertepuk tangan dan bergerak mengikuti musik

Gangguan pada sensorik pendengaran:

  • Takut mendengar suara tertentu seperti gonggongan anjing, suara blender, mesin pengering tangan, dll
  • Menjerit atau menangis berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba
  • Sering berbicara sambil teriak ketika ada ada suara yang tidak disukainya

3. Penglihatan (visual)

Sistem sensorik visual ini mengidentifikasi pemandangan dan kemampuan untuk memahami apa yang dilihat oleh mata. Kemampuan visual ini berhubungan dengan perkembangan kognitif, memori, dan kemampuan pengenalan. Di usia 4 bulan, kemampuan penglihatan anak mulai berkembang, ia sudah mampu melihat dan mengikuti gerak benda. Ini adalah saat yang tepat untuk menstimulasi sensorik visualnya. 

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Ajak bicara sambil tersenyum
  • Bermain cilukba
  • Bermain di depan cermin
  • Berikan buku berbahan kain atau papan yang kokoh dengan warna-warna kontras
  • Mengajak anak mengeksplorasi alam dan pemandangan baru
  • Bermain balok, bola, permainan lain dengan visual yang menarik

Gangguan pada sensorik penglihatan:

  • Mudah silau
  • Suka bermain dalam suasana redup atau gelap
  • Kesulitan membedakan warna, bentuk, dan ukuran
  • Tidak bisa menulis dalam garis lurus pada kertas kosong

Baca: Ketahui Cara Mengasuh Anak 3 Tahun Agar Orang Tua Tetap "Waras"

4. Pengecapan (gustatori)

Sejak dalam kandungan, indera pengecap pada lidah sudah mulai berkembang. Lalu kemampuan tersebut akan semakin matang dan bergantung dari pengalaman atau stimulasi yang diberikan. Orang tua bisa mulai menstimulasi sensorik pengecapan ini saat anak memasuki masa MPASI. Pengetahuan anak tentang rasa akan menentukan pilihan makanan yang disukainya juga membantu memenuhi gizinya.

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Memperkenalkan aneka jenis makanan
  • Berikan finger food atau makanan yang dibentuk seukuran jari agar bisa digenggam dan dimakan sendiri, misalnya buah, sayuran (bisa direbus), atau camilan lainnya.
  • Jangan segan memperkenalkan rasa asin, asam, pahit, gurih, dan manis pada anak
  • Berikan makanan dengan tekstur yang sesuai dengan usianya

Gangguan pada sensorik pengecapan:

  • Suka pilih-pilih makanan (picky eater)
  • Menolak untuk mencoba makanan baru, lebih suka dengan makanan yang itu-itu saja
  • Suka mengemut makanan karena ada gangguan mengunyah, mengisap, atau menelan
  • Suka mengiler
  • Sering memasukkan benda ke mulut
  • Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi

5. Penciuman (olfaktori)

Sensorik penciuman berhubungan dengan rangsangan aroma dan berguna untuk melatih indera penciuman anak. Kemampuan untuk mengidentifikasi aroma makanan terutama, perlu diasah ketika anak memasuki usia 1 tahun, karena pada waktu ini ia sudah bisa memilih makanan yang disukai dan yang tidak disukai.

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Mengenali berbagai aroma bunga atau tanaman
  • Mengenali aroma dari aneka makanan
  • Memperkenalkan anak dengan nama dari masing-masing aroma yang dicium

Gangguan pada sensorik penciuman:

  • Tidak menyukai makanan tertentu karena baunya
  • Selalu menciumi barang-barang atau orang di sekitarnya secara berlebihan
  • Menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya
  • Kesulitan membedakan bau

6. Keseimbangan (vestibular)

Sistem vestibular terletak di telinga bagian dalam dan berhubungan dengan rangsangan sensori pada keseimbangan tubuh. Input yang didapatkan berupa perubahan gravitasi, pengalaman gerak, dan posisi dalam ruang. Kemampuan keseimbangan yang berkembang dengan baik bisa mencegah anak merasa mual atau pusing saat bergerak normal. Selain itu, anak juga belajar duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan dengan memahami sensasi gravitasi.

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Mengajak anak bermain ayunan
  • Mengajak anak bermain trampolin
  • Berjalan di balok titian
  • Mengayun tubuh anak perlahan saat menggendongnya
  • Berjoget dengan iringan musik

Gangguan pada sensorik vestibular:

  • Takut ketinggian
  • Tidak mau atau menjerit ketakutan mau main ayunan, trampolin, balok titian
  • Kesulitan naik turun eskalator

Baca: Stimulasi Motorik yang Tepat untuk Anak 0-2 Tahun

7. Gerak otot dan sendi (proprioseptif)

Sensorik ini berperan dalam memproses otot, tendon, sendi, dan memberitahukan posisi tubuh (kesadaran tubuh). Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh. Indera kesadaran tubuh juga berfungsi untuk mengatur emosi dan menenangkan anak. 

Stimulasi yang dapat dilakukan:

  • Memberikan waktu untuk tummy time (berbaring di perut) secara rutin
  • Melatih untuk merangkak dengan halang rintang
  • Bermain lempar tangkap bola
  • Mendorong benda yang diberi beban, seperti galon, dll
  • Bermain gelantungan

Gangguan pada sensorik proprioseptif:

  • Senang menabrakkan diri ke badan orang lain atau ke benda tertentu
  • Sering menggemerutukkan gigi
  • Tidak bisa mengontrol kekuatan saat melakukan sesuatu

Itulah tadi 7 sistem sensorik yang penting dalam mendukung perkembangan fisik dan kognitif anak yang optimal. Luangkan waktu untuk menstimulasi berbagai kemampuan tersebut agar kemampuan belajar, rutinitas harian, dan perilaku anak dapat berkembang dengan baik sebagaimana mestinya. Jika anak teridentifikasi mengalami gangguan pada sensoriknya, segera konsultasikan ke dokter spesialis tumbuh kembang, ya!

 

 

Referensi: About Kids Health, Oxford Health, Parenting, Liputan 6

Image by wirestock on Freepik, ketut subiyanto & kamaji ogino on Pexels