Harusnya, habis hubungan seks rasanya puas dan bahagia bukan? Apalagi, jika hubungan seks dalam ikatan pernikahan. Tapi kenyataannya, tidak semua orang yang sudah menikah selalu merasa bahagia setelah berhubungan seks. Ada yang merasa biasa saja, namun ada juga yang merasa sedih dan marah. Jika perasaan negatiflah yang muncul setelah berhubungan seks, ini yang disebut dengan postcoital dysphoria atau post-sex blues.

"Postcoital dysphoria adalah ketika seseorang merasakan perasaan negatif yang sangat kuat setelah hubungan seks konsensual (tanpa paksaan, suka sama suka), seperti rasa tak nyaman yang menimbulkan amarah, cemas, sedih, depresi, bahkan sampai menangis, sebentar maupun lama," jelas Sarah Melancon, PhD, seorang seksolog klinis yang juga peneliti di Women’s Health Interactive, AS.

Gejala lainnya, seseorang bisa merasa panik, bingung, malu, lelah secara emosional, hingga menyalahkan diri sendiri atas perasaan-perasaan negatif tersebut.

Baca: 10 Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga

Bagaimana bisa hubungan seks konsensual menimbulkan rasa sedih?

Bahkan, mereka yang mengalaminya pun merasa bingung. Karena, mereka merasa pernikahan mereka sehat dan bahagia. 

Meskipun penelitian tentang post-sex blues ini tak terlalu banyak, namun para ahli mengerucutkan beberapa faktor yang mungkin bisa menyebabkan munculnya perasaan negatif setelah berhubungan seks:

  1. Riwayat kekerasan fisik
  2. Riwayat kekerasan emosional
  3. Ketidakpuasan pada hubungan pernikahan

Juga, orang-orang berikut lebih rentan mengalami postcoital dysphoria:

  1. Mengalami trauma seksual
  2. Memiliki jenis kelekatan tidak aman (insecure attachment style)
  3. Mengalami gangguan kepribadian (personality disorder)

"Hubungan seks adalah aktivitas yang sangat intim dan melibatkan banyak perasaan. Saat berhubungan, hormon-hormon yang dilepaskan dan terjadinya orgasme bisa membawa perasaan yang selama ini terpendam, muncul ke permukaan. Khususnya, bagi mereka yang sedang memiliki masalah dengan pasangan, maupun yang pernah mengalami kekerasan sebelumnya," tambah Dr. Melancon.

Jadi, postcoital dysphoria bisa disebabkan oleh faktor psikologis, hormonal, dan pemicu yang ada lingkungan. 

Baca: 9 Alasan di Balik Hancurnya Rumah Tangga

Apakah hanya wanita yang mengalaminya?

Sejumlah studi menunjukkan bahwa wanita lebih sering mengalami perasaan negatif setelah berhubungan seksual, seperti hasil survei daring yang dimuat di Sexual Medicine menunjukkan bahwa 46% responden pernah mengalami postcoital dysphoria, sementara hanya 5% pria yang mengalaminya sebulan terakhir. 

Meskipun demikian, sedikitnya penelitian -khususnya yang ditujukan khusus untuk responden pria- bisa menyebabkan pendapat ini kurang bisa mewakili kondisi yang sebenarnya. Namun, lebih banyaknya wanita yang mengalami kesedihan dan depresi secara umum, bisa menguatkan pendapat ini.

Adakah cara agar tidak sedih lagi setelah berhubungan seks?

Sejumlah cara bisa dilakukan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas munculnya perasaan negatif tersebut.

1. Terima perasaan negatif 

Ya, mengakui bahwa ada rasa tak menyenangkan yang muncul setelah berhubungan seksual dapat membantu kita untuk lebih cepat mengatasinya. Yang perlu diingat, emosi tidak berlangsung selamanya, semenyakitkan apapun itu.

2. Selami perasaan kita

Untuk mengatasi munculnya sedih dan marah setelah berhubungan seks, kita perlu menyelami perasaan kita untuk mencari tahu dari mana dia berasal dan mengapa bisa perasaan tersebut muncul. Jika sulit, pertanyaan berikut mungkin bisa membantu:

  • Kapan postcoital dysphoria biasanya muncul?
  • Berapa lama (setelah berhubungan seksual) rasa negatif itu muncul?
  • Adakah perasaan ambivalen/bertentangan akan seks sebelum berhubungan? 

3. Journaling

Journaling artinya menuliskan perasaan kita secara rutin. Manfaatnya dalam kasus ini adalah untuk "melacak" naik turunnya perasaan kita. Dari sini, kita bisa mengetahui atau melihat pola apakah postcoital dysphoria terjadi menjelang menstruasi, saat kita sedang berkonflik dengan pasangan, ataukah saat kita sedang merasa stres dan lelah dengan berbagai hal.

4. Berlatih mindfulness

Mindful adalah kondisi sadar penuh saat merasakan sesuatu. Contohnya, ketika kita tiba-tiba merasa tidak enak hati setelah berhubungan seksual, kita menyadari hal tersebut, kita bisa merasakan perubahan tubuh saat perasaan negatif itu muncul, lalu menyadari "Aku kok ngerasa sedih ya? Kenapa ya?", dan seterusnya. Saat kita merasa mindful, kita akan lebih mudah memproses perasaan negatif tersebut dan meredakan atau melepaskannya.

5. Self-care setelah berhubungan seks

Inti dari self-care adalah menimbulkan rasa nyaman dan tenang, agar perasaan negatif yang muncul bisa segera mereda. Contohnya, dipeluk, dipijat, mandi air hangat, minum teh hangat, mendengarkan musik, menghirup essential oil, di mana sebagian dari self-care ini juga bisa melibatkan pasangan.

6. Terapi

Jika cara-cara di atas tidak cukup signifikan mengurangi munculnya perasaan negatif setelah berhubungan seks, bahkan intensitasnya makin sering hingga mengganggu hubungan dengan pasangan, menemui ahli untuk terapi bisa dilakukan. 

Jenis terapi pun akan dilakukan sesuai dengan penyebab yang dirasakan, misalnya jika karena trauma akan aktivitas seksual maka terapis sebaiknya yang berpengalaman membantu mengatasi trauma. 

Kesimpulannya, postcoital dysphoria adalah hal yang wajar terjadi dan sebaiknya segera diatasi agar tidak menimbulkan masalah yang lebih dalam dalam pernikahan.

 

Referensi: Very Well Mind

Image by jcomp on Freepik