Tak terbayangkan sebelumnya, di zaman di mana Hak Asasi Manusia dijunjung tinggi, anak-anak kita masih bisa menyaksikan terjadinya perang. Awal tahun 2022, Rusia menyerang Ukraina. Kini, di penghujung 2023, Israel menyerang Palestina. Linimasa media sosial dan berita di televisi dipenuhi berita mengenai perang ini, tanpa sengaja (atau mungkin dengan sengaja) anak menyaksikan dan mulai bertanya pada kita tentang apa yang sedang terjadi. Bagaimana cara menjelaskan tentang perang pada anak? 

Berikut adalah cara menjelaskan perang dan konflik yang terjadi di masyarakat sekitar kita juga di dunia, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Tenangkan diri kita terlebih dahulu

Sebagian besar dari kita mungkin merasa sangat marah, sedih, kecewa dengan apa yang terjadi antara Israel dan Palestina. Namun, seemosional apapun kita, jangan “transfer” emosi tersebut ke anak. Anak menjadikan kita contoh tentang bagaimana mengelola emosi, khususnya emosi negatif.

2. Pilih waktu yang tepat

Tentu saja, kita tak bisa mendadak berkata, “Dek, Mama mau cerita soal perang di Gaza. Mau denger nggak?”. Pilih waktu yang kita bisa secara natural membicarakan tentang hal ini -yang kadang muncul begitu saja, misalnya saat anak bertanya, saat anak melihat berita, video, atau postingan tentang perang yang sedang terjadi. 

Jika kita memang ingin membawa topik ini agar anak tahu (tanpa dia bertanya), lakukan pada momen yang memungkinkan anak untuk bercerita dan bertanya secara leluasa, misal saat makan bersama keluarga -jika memang momen ini biasa digunakan untuk saling bercerita. 

Hindari waktu sebelum tidur mengingat cerita tentang perang dan konflik bisa menimbulkan rasa takut, cemas, dan tak nyaman pada anak.

3. Tanyakan perasaannya 

Melihat video ataupun foto kondisi di Palestina, anak bisa merasa takut & cemas. Anak usia dini khususnya, belum bisa membedakan realitas di dunia nyata dan dunia maya. Ia bisa saja menganggap perang terjadi di lingkungan sekitarnya. Karena itu, tanyakan tentang apa yang ia rasakan dan validasi perasaannya. 

“Mama ngerti kamu takut, perang memang hal yang buruk. Tapi kamu tak perlu khawatir, Mama dan Papa ada di sini.”

Hindari mengecilkan perasaannya seperti, “Palestina kan jauh dek, masa Adek takut?”

Baca: Tahap Kemampuan Komunikasi Anak, Orang Tua Wajib Tahu

4. Sesuaikan dengan usia anak

Jika anak berusia di bawah 6 tahun, hindari bercerita terlalu detil kondisi korban, sedihnya seorang anak yang kehilangan semua anggota keluarganya, dan apapun yang sekiranya bisa membuat anak trauma dan ketakutan. 

5. Tanya apa yang anak tahu

Saat anak bertanya tentang apa yang terjadi dengan Israel dan Palestina, jangan buru-buru menjelaskan siapa menyerang siapa, berapa jumlah korbannya, betapa parah kondisinya, dst Tanyakan dulu pada anak, apa yang dia tahu tentang hal ini, khususnya pada anak berusia 7 tahun ke atas. Karena, mungkin saja anak hanya tahu (dan ingin tahu) sedikit saja. Kita yang paling tahu apakah anak kita memang antusias bertanya, atau hanya ingin mendapat penjelasan sesingkat mungkin.

6. Gunakan analogi peristiwa sehari-hari agar lebih mudah dipahami

Menjelaskan pada anak tentang konflik Israel-Palestina mungkin tidak sesederhana itu mengingat rentetan sejarah yang menyertainya. Kita sebaiknya mencari referensi terpercaya terlebih dahulu, memahaminya, baru menyampaikannya pada anak. Gunakan analogi atau perumpamaan agar anak mudah paham. 

Misalnya: 

“Suatu hari, saat Adek lagi main di halaman rumah sama ibu, ada orang dateng dan minta main bareng di halaman rumah kita. Trus, dia bilang dia juga mau tinggal bareng sama kita. Tapi, habis kita bolehin tinggal di rumah kita, dia mulai bangun kamar baru di halaman rumah kita, ngambil dapur, kamar mandi, ruang tamu, dan cuma bolehin kita tinggal di kamar Adek aja. Sementara dia menguasai semua kamar dan ruangan di rumah. Bahkan, dia mulai memanggil teman dan saudara-saudaranya untuk ikut tinggal di rumah kita dan bikin lebih banyak kamar lagi di halaman kita."

"Saat kita tidak bisa lagi bersabar, kita marah dan melawan orang yang mengambil rumah  kita. Tapi, mereka lebih kuat, jadi mereka menyakiti dan melawan kita sampai kita luka-luka dan rumah kita rusak. Nah, itu yang terjadi di Israel dan Palestina. Kita adalah Palestina, dan orang yang mengambil rumah kita adalah Israel.”

Baca: Begini Cara Menjawab Pertanyaan Sulit dari Anak

7. Ceritakan hal positif

Tutuplah penjelasan soal perang (yang umumnya tak menyenangkan) dengan hal positif. Ceritakan pada anak betapa banyak orang lain di sekitarnya dan di seluruh dunia yang meminta Israel untuk menghentikan perang, yang menyumbangkan uang untuk rakyat Palestina, juga makanan, obat, bahkan menyumbangkan dokter-dokternya untuk membantu korban yang luka.

Beri semangat anak untuk ikut membantu, apakah itu membuat poster/gambar, menyumbangkan uang, atau berdoa agar perang segera usai. Melakukan sesuatu untuk membantu membuat anak merasakan kehangatan di hati, juga optimisme.

 

Referensi: UNICEF, Instagram @noor.id

Image by Freepik