Bertemu lagi dengan teman masa kecil yang pernah berpetualang bersama? Jangan salahkan Sherina jika bersikap "norak" karena saking excitednya. Ya, film Petualangan Sherina kembali lagi dengan sekuelnya, Petualangan Sherina 2. Masih bersama Sadam, sahabat sekaligus "mantan musuh"-nya di SD dulu, yang kini seorang project manager di LSM konservasi orang utan di habitat aslinya. Kehadiran Sadam pun membuat Sherina (yang sempat kecewa dengan "berubahnya" tugas liputan ke Swiss menjadi Kalimantan) menjadi lebih semangat, kalau tidak bisa dibilang "kesengsem" dengan Sadam yang sudah dewasa.

Ya, film Petualangan Sherina 2 cukup kuat mengangkat sisi romantis dari relasi Sadam dan Sherina yang nampaknya bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang saat ini merasa CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) dengan teman, sahabat, bahkan gebetan masa sekolah. 

Romantisme yang muncul saat bernostalgia kenangan indah bersama bisa membuat pertemuan sesaat menjadi lebih berkesan. Bukan tak mungkin, memantik rasa "berbeda". Dan kemudian muncul pikiran, "Apakah dia jodoh saya?" 

Buat para jomlo, hal seperti ini tentu wajar. Apalagi, jika merasa sudah saling kenal dekat sehingga tak butuh pendekatan lebih lama lagi. Namun, romantisme semacam ini dalam kaitan mencari pendamping jangka panjang, tentu harus tetap menggunakan logika.

Dari laman Very Well Mind, disebutkan bahwa menurut penelitian, fase romantis bisa bertahan antara 6 bulan sampai 2 tahun saja. Meskipun, 15%-30% dari subjek penelitian tersebut mengatakan bahwa fase romantis tersebut masih bisa mereka rasakan meski sudah menikah hingga 10-15 tahun. 

Hormon dopamin menjadi alasan mengapa kita bisa sampai tak tidur memikirkan si dia, yang kemudian muncul hormon-hormon cinta lainnya seperti oksitosin dan vasopresin yang membuat reaksi tubuh lebih stabil (degup jantung normal saat bertemu dengannya, namun rasa cinta bisa lebih dalam). Hormon cinta ini akhirnya mereda juga dan bisa membuat pernikahan atau hubungan terasa lebih datar. Tonton penjelasannya di sini.

Ini artinya, meskipun rasa berbunga-bunga berbalut nostalgia mungkin membuat kita jatuh cinta dan berharap lebih, pastikan kita juga mengetahui aspek-aspek penting dari sebuah hubungan di luar perasaan.

Dalam kasus Sherina dan Sadam, petualangan dadakan yang muncul di hari ketiga pertemuan mereka membuat romantisme datang silih berganti dengan konflik -yang membantu keduanya "melihat lebih dekat" sehingga bisa "menilai dengan lebih bijaksana" tentang teman masa kecil mereka itu.

Dilihat dari ilmu psikologi, kondisi penuh tekanan (seperti petualangan Sadam dan Sherina) mau tak mau memunculkan sisi asli dari diri masing-masing. Sebuah studi yang dipublikasikan Nature Communications menunjukkan bahwa situasi yang penuh tekanan yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dengan cepat, akan menunjukkan sifat asli kita yang sebenarnya. Meskipun "menyiksa", situasi ini juga membuat kita mengenal diri kita lebih baik, khususnya dalam konteks bagaimana cara kita memperlakukan orang lain: apakah kita mendahulukan diri sendiri atau sebaliknya. 

Tentu saja, berharap kita mendadak menantang bahaya dengan si dia rasanya sulit terwujud (jangan sampai!). Tapi setidaknya, dari film ini kita jadi tahu bahwa sifat asli pasangan mungkin tak langsung muncul. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama, misal dengan berpacaran, ada juga yang langsung bertanya atau berdiskusi tentang poin-poin yang dirasa krusial untuk menentukan apakah mungkin hubungan ini berlanjut ke jenjang pernikahan. 

Poin-poin apa saja yang perlu didiskusikan untuk melihat kemungkinan hubungan jangka panjang?

Baca di artikel berikut.

 

Referensi: Bustle, Very Well Mind

Image by tempo.co