Coba bayangkan situasi ini, kita menjalin hubungan dengan pasangan. Ketika sudah semakin serius dan mulai menjalani rangkaian persiapan pernikahan, kita lupa membahas salah satu hal yang paling penting dalam rumah tangga: masalah keuangan. Mungkin, kita sadar tapi merasa canggung, enggak enak, takut, atau  malu, sehingga akhirnya menikah dengan membiarkan urusan keuangan menggantung. Padahal, masalah keuangan sangat penting dibahas sebelum menikah. Bagaimana caranya bicara masalah keuangan dengan pasangan tanpa canggung?

“Katanya, bisa ilfil (hilang keinginan) kalau harus bahas seputar keuangan dengan pasangan. Nyatanya, membahas keuangan malah bisa lebih mendekatkan kita dengannya,” ujar Amanda Clayman, Financial Therapist

Kok bisa? Karena uang adalah perkara dasar dalam hidup yang tak bisa dihindari dan sering kali, masalah uang bisa merembet kemana-mana dan menjadi akar dari sebuah masalah. Jika kita bisa ngobrol nyaman soal keuangan dengan pasangan, dijamin masalah lain akan lebih mudah teratasi. 

Rasanya kok tabu ya, membahas keuangan (apalagi) sebelum menikah..

Bertanya soal keuangan memang rasanya enggak nyaman dan membuat canggung. Supaya bahasnya bisa mengalir dengan nyaman, kita bisa memulai dari percakapan ringan, seperti…

“Kamu nyaman enggak, kalau bahas soal keuangan sama aku?”

“Share yuk, pemasukan dan pengeluaran kita sehari-hari. Aku pengen tahu deh, kamu sama aku sama enggak ya jajannya hehe” 

“Menurut kamu, kartu kredit itu perlu apa enggak?”

“Nanti kalau kita sudah nikah, ngatur keuangannya gimana ya? Obrolin yuk!” 

Tak perlu dikerjakan semua di satu waktu, selipkan obrolan ini di tiap waktu yang kita habiskan bersama pasangan. Supaya perlahan, bicara soal keuangan menjadi sesuatu yang biasa. 

Ketika sudah mulai nyaman, coba ulik lebih detil tentang pasangan dan masalah keuangannya.

Dimulai dari sejarah keuangan kita

“Waktu aku kecil, ayah ibuku ngajarin aku dapet uang jajan dari bantu mereka. Suruh ‘injek-injek’ pijetin bapak, dapat uang buat ditabung. Habis itu, aku jadi terbiasa berusaha untuk dapetin uang karena ayah ibuku enggak semudah itu kasih uang jajan. Kamu gimana?” 

Mengenal bagaimana pengaturan uang di keluarga pasangan sepanjang perjalanan hidupnya bisa membuka mata kita akan cara mereka memandang uang. Sehingga, kita bisa lebih pengertian akan keputusan-keputusan yang diambilnya terkait uang. 

Terbuka akan ketakutan kita 

“Aku takut deh kalau sampai terpaksa pakai kartu kredit…”

Kadang, ketakutan itu baik untuk motivasi kita berbuat baik dan menghindari hal yang buruk. Misal, ketakutan akan kartu kredit, maka sebisa mungkin jangan berhutang. Samakan persepsi dengan pasangan bahwa kita hanya mengeluarkan uang sesuai kebutuhan, dan menghindari pinjaman. 

Bagaimana pandangannya tentang berbagi

“Yang, kemaren tiba-tiba si Nara pinjem uang katanya butuh buat obat anaknya. Menurut kamu gimana?” 

Apakah dia seorang yang spontan berbagi uang ke sesama, atau perlu perencanaan? Dengan tahu kebiasaan ini, kita jadi bisa lebih berhati-hati ketika membahas soal pengeluaran yang di luar kebutuhan pokok. 

Bicarakan harapan dan mimpi bersama 

“Nanti kalau punya anak, aku mau ajak mereka ke Disneyland!” 

Tanyakan juga pasangan, apa mimpinya di masa depan? Mau kuliah lagi, misalnya. Atau ingin punya rumah dan mobil sendiri tanpa cicilan? Dengan mengetahui keinginan pasangan (juga kita) bisa memberikan visi akan tujuan uang yang dikeluarkan nantinya. 

Membahas soal keuangan enggak pernah akan bisa sempurna dan konflik pasti ada

Namun, konflik bisa diminimalisir dengan adanya komunikasi yang terbuka. Kita dan pasangan adalah dua kepala yang berbeda, jadi tak apa untuk punya pandangan yang juga berbeda. Yang penting, kita dan pasangan tahu tujuan bersama dan ke mana uang itu akan digunakan. Terbuka akan pemasukan dan pengeluaran, serta berdiskusi bersama untuk menentukan untuk apa uang digunakan yang bermanfaat untuk keluarga adalah kunci.

 

Image by drobotdean</a> on Freepik