Jika kita lihat sekilas tabel perkiraan biaya pendidikan di bawah ini, seketika kepala jadi pening. Sungguh, biaya pendidikan di Indonesia tak main-main harganya. Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak, yang mana biayanya mungkin akan mahal. Namun, jika memakai hitung-hitungan saat ini, pemasukan kita tak mencukupi. Gimana ya, cara menyiapkan biaya pendidikan anak agar bisa mendapat sekolah berkualitas dari TK sampai kuliah? Dan, jadi penasaran juga mengapa biaya pendidikan bisa semahal itu.

Kenapa sih biaya pendidikan mahal? 

Menurut Yosephine P. Tyas, S.Kom, MM, CFP® Certified Financial Planner Founder and CEO Kebizz.id, biaya pendidikan memang cenderung mahal saat ini karena adanya inflasi (naiknya harga-harga secara umum dan terus-menerus). Bahkan, inflasi biaya pendidikan bisa mencapai 15-20% per tahun! 

Selain itu, mahal atau murahnya biaya pendidikan tergantung dari pilihan sekolahnya. Biaya pendidikan di sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah internasional akan memiliki perbedaan yang signifikan tergantung kurikulum, kualitas tenaga pengajar, fasilitas di sekolah, kegiatan-kegiatan tambahan, gedung, dan sarana belajarnya. Tapi, bukan jaminan juga kalau sekolah di tempat yang lebih mahal kualitasnya akan lebih baik.

Baca: Gaji Calon Istri Lebih Besar, Ini Cara Menyikapinya 

Bagaimana menyiapkan biaya pendidikan anak, jika pemasukan suami istri jumlahnya tetap? 

Biaya pendidikan anak memang salah satu tujuan keuangan penting yang perlu disiapkan suami istri selain dana pembelian rumah dan dana pensiun. Meskipun pemasukan saat ini jumlahnya tetap, ada cara yang bisa digunakan untuk menyiapkan dana pendidikan anak secara jangka panjang.

1. Cek dana yang dibutuhkan untuk sekolah anak

Menggunakan ilustrasi biaya pendidikan seperti tabel di atas akan lebih memudahkan kita untuk menghitung keseluruhan dananya. Usahakan punya dua skenario pilihan low dan high, misalnya sekolah negeri dan sekolah swasta. 

2. Tentukan alokasi dana untuk dana pendidikan

Dari penghasilan bulanan saat ini, kita bisa menghitung berapa yang bisa disisihkan untuk dana pendidikan. Jangan lupakan pula alokasi tabungan untuk tujuan penting yang lain seperti biaya pensiun dan dana darurat.

3. Bagi alokasi dana yang ada

Alokasi dana pendidikan tak harus dihabiskan untuk jenjang pendidikan yang sedang berjalan, tapi bisa juga untuk tabungan pendidikan yang akan datang. Misal, jika kita bisa menyisihkan 2 juta rupiah untuk menyiapkan dana pendidikan anak, maka sisihkan 500 ribu per bulan untuk biaya masuk TK, sementara 1,5 juta sisanya bisa untuk tabungan saat masuk SD. 

4. Sisihkan dari penghasilan tidak tetap

Dana pendidikan juga bisa disiapkan secara lumpsum/sekaligus, misal saat menerima bonus tahunan, insentif, atau penghasilan tambahan. 

Baca: 3 Cara Mengajari Anak Mengelola Uang Sejak Dini

Kalau hanya salah satu yang bekerja, gimana? 

Dalam merencanakan keuangan, kita perlu duduk bersama dan membahas tujuan-tujuan keuangan yang diinginkan. Tiga yang penting di antaranya adalah dana pembelian rumah, dana pendidikan anak, dan dana pensiun. Selalu sesuaikan tujuan keungan yang ingin dicapai dengan kondisi keuangan. Jangan sampai memaksakan sehingga terbelit hutang. 

Jika hanya salah satu yang bekerja, buat alokasi perencanaan keuangan hanya dari penghasilan suami dan fokus pada prioritas kebutuhan. 

Sudah terlanjur memiliki anak, tapi belum sempat mempersiapkan dana pendidikan… 

Tak ada kata terlambat dan mulai lakukan perencanaan keuangan. Tentukan anak akan sekolah di mana dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah supaya bisa ada gambaran berapa dana yang dibutuhkan saat ini (present value) dan juga besaran dana saat nanti harus dibayar (future value), sehingga bisa dihitung berapa dana yang harus disisihkan mulai saat ini. Jika yang harus ditabung atau disisihkan lebih besar dari jumlah tabungan saat ini maka ada dua alternatif:

  1. Sesuaikan tujuan keuangan. Misal, mengganti pilihan sekolah, mencari beasiswa, dan lainnya. 
  2. Tingkatkan tabungan. Turunkan pengeluaran non primer, atau mencari tambahan penghasilan, atau pekerjaan baru dengan gaji lebih besar.

Kita ingin memiliki lebih dari satu anak, bagaimana mengaturnya ya? 

Seperti yang sebelumnya disebutkan, tujuan keluarga perlu dibahas bersama termasuk jumlah anak yang diinginkan dan direncanakan. Artinya, jika ingin memiliki anak lebih dari satu (misal dua anak), maka alokasi dana pendidikan akan dibagi dua untuk anak pertama dan kedua. Sehingga, dari awal sudah ada tabungan khusus dana pendidikan anak pertama dan anak kedua. 

Jika rencana tak berjalan sesuai rencana, misal hanya punya satu anak, maka dana pendidikan anak kedua bisa dijadikan tambahan biaya kuliah anak atau bisa juga untuk menambah tujuan keuangan yang penting lainnya seperti dana pensiun. 

Ternyata butuh dana tambahan, bisa didapat dari mana? 

Perlu dicek terlebih dahulu, untuk apa dana yang dibutuhkan? Jika untuk sesuatu yang rutin maka kita perlu meningkatkan penghasilan, namun jika untuk sesuatu yang sifatnya tidak tetap atau tidak terduga (darurat) maka yang dibutuhkan adalah tabungan dana darurat. 

Itu sebabnya setiap orang, baik single maupun berkeluarga, perlu memiliki tabungan dana darurat yang besarnya minimal 6-12 kali biaya hidup atau pengeluaran, supaya jika ada kebutuhan mendadak bisa menggunakan tabungan dana darurat tersebut sehingga tak perlu berhutang.

Masih butuh masukan seputar cara untuk menghitung dana pendidikan anak, dana pembelian rumah, dan dana pensiun serta financial check up? Kamu bisa lakukan di www.kebizz.id, ya! 

 

Photo by Freepik