Baru juga melepas kehamilan, baru usai merasakan nikmatnya melahirkan, baru menyandang predikat busui (ibu menyusui) dan pulang ke rumah, baru mulai adaptasi dengan hadirnya anggota baru (yang ternyata membutuhkan waktuku 24 jam non stop).. inginnya sih, dimanja suami dan dipenuhi kebutuhannya. Tapi, kok… ternyata suami kurang peka ya kalau… 

1. Siklus kehidupan sehari-hari tak lagi sama 

Yang tadinya jam 10 sudah tidur lelap, pagi-pagi siap beraktivitas, kini jam 10 kami (para ibu) bisa jadi baru terbangun (yang pertama kali) di malam hari untuk menyusui. Dan, akan kembali melakukan hal yang sama 2 jam kemudian. Jadi, untuk para suami jangan heran kalau kami bangun di pagi hari dengan mata panda, sembab, dan super lelah. Hindari kalimat seperti “Kok lemes banget sih, Bun?” atau “Sarapanku pagi ini mana, ya?”

Coba ganti dengan, “Masih ngantuk ya, Bun? Mandi dulu gih biar seger, sini bayinya aku temenin.” 

2. Aku butuh dirimu di tengah malam 

Memang sih, kalau istri menyusui tentu suami tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, suami bisa kok ikut membantu mengganti popok saat bayi terbangun, misalnya. Atau, sekadar mengambilkan minum saat kami menyusui. Kadang, suami ikut bangun saja sudah bikin hati kami tenang, kok. 

3. Post Partum Depression bisa hadir dalam bentuk yang bermacam-macam 

Hampir 80% ibu yang baru melahirkan mengalami PPD atau baby blues. Bisa hilang dalam waktu dua minggu, tapi bisa juga bertahan lebih lama. Bentuknya tak selalu dalam bentuk takut memegang bayi, mudah menangis, atau bahkan tak mau menyentuh bayi sama sekali. Bisa jadi, PPD hadir dalam bentuk mood yang naik turun, mudah marah, atau bahkan menghindari komunikasi. Suami, perlu lebih peka saat ini terjadi. Bukan karena kami marah, atau tak senang dengan kehadiranmu, tapi kita masih beradaptasi dengan dunia yang benar-benar baru. Tapi, kalau sampai istri enggan menyentuh bayi, apalagi menyusui, jangan segan ajak konsultasi ke ahlinya, ya! 

4. Butuh teman bicara dan curhat, tanpa perlu komentar

Kadang, kami hanya ingin curhat karena lelah begadang, atau bingung karena bayi kerap menangis dan sulit berhenti. Suami adalah orang pertama yang terpikir di benak kami untuk berbagi keluh kesah. Jadi, jangan heran kalau WA-mu penuh dengan keluhan, dan bertubi-tubi curhatan menjadi ibu baru. Kamu enggak perlu menanggapi dengan solusi jitu kok, cukup berikan kata-kata penyemangat (dan pujian mungkin?) agar kami merasa lebih baik. 

Baca: Nasihat Nenek Kakek Bisa Hambat Ibu Berikan ASI, Ini Cara Beri Dukungan

5. Bukan kehilangan gairah bercinta, hanya saja kami masih beradaptasi dengan peran baru  

Sehingga, seks memang bukan jadi prioritas. Bahkan, terkadang seks terasa menakutkan bagi kami yang melahirkan secara normal. Bayangan akan sakitnya, atau tak nyaman karena belum lama persalinan membuat gairah kami turun. Tenang suami, ini enggak akan lama. Sama seperti adaptasi dengan hadirnya bayi, kami juga perlu adaptasi mengembalikan gairah seksual. Jadi, jangan ‘ngambek’ saat kami menolak berhubungan setelah melahirkan. Mohon dimengerti bahwa kami butuh waktu. Kalau sudah terlalu lama, konsultasi dengan tenaga ahli bisa menjadi solusi. 

6. Mengerjakan pekerjaan rumah, akan sangat membantuku 

Boro-boro mau nyuci, bisa mandi saja sudah mewah. Bantuan suami dalam mengurus rumah tangga pasca persalinan akan sangat membantu. Kalau waktu suami terbatas karena kesibukan, tawarkan bantuan dengan menyediakan asisten rumah tangga sementara kami fokus merawat bayi. Turunkan ekspektasi, kalau biasanya pulang dengan keadaan rumah sudah bersih dan rapi, kali ini mungkin kondisinya sedikit berbeda. Jadi, jangan mudah cemberut ya… 

Supaya lebih siap menjadi ayah yang siaga, ikuti kelas “Jadi (Calon) Ayah Siaga: Bagaimana Mewujudkannya?” yuk! Di sini, konselor laktasi Nia Umar, IBCLC dan Rahmat Hidayat, co-founder AyahASI, akan berbagi kisah sekaligus ilmu untuk calon ayah tentang kehamilan, melahirkan, dan menyusui, dan apa yang bisa ayah lakukan untuk menjadi supporter terbesar ibu. Cek www.demikita.id ya! 

Image by Freepik