Memasuki tahun 2023, kasus perkosaan pada anak oleh orang-orang yang dikenal oleh korban seolah meningkat. Di Banyuwangi, seorang kepala sekolah mencabuli beberapa siswinya yang masih berusia 7 dan 9 tahun. Alasannya, pelaku kerap menonton konten pornografi. Alasan serupa juga melatarbelakangi seorang remaja di Bontang memperkosa ibu dan adik kandungnya. Mengapa dampak konten pornografi sedemikian besar?

Adiksi atau kecanduan pornografi saat ini masih belum dapat disembuhkan menggunakan obat-obatan dan hanya dapat dilakukan dengan terapi CBT (Cognitive Behavioural Therapy). 

Bagaimana cara kerja pornografi dalam menimbulkan adiksi serta merusak bagian otak yang lain terjawab melalui sejumlah penelitian. Salah satu penelitian di Jerman menunjukkan bahwa menonton film atau video porno secara teratur dapat membuat volume otak pada daerah otak yang berkaitan dengan motivasi, mengalami penyusutan. 

Hal lain yang terjadi saat menonton film porno adalah terjadi peningkatan dopamin. Dopamin adalah salah satu senyawa neurotransmitter (pembawa sinyal di otak) yang memainkan peran penting dalam kontrol motorik, motivasi, gairah, kekuatan, dan penghargaan, serta fungsi yang lebih sederhana termasuk laktasi, gairah seksual, dan rasa mual. Peningkatan dopamin akan membuat suasana hati bahagia. 

Baca: Anak Mengakses Konten Porno, Orang Tua Harus Bagaimana?

Namun, bila seseorang terlalu sering menonton pornografi, maka sensitivitas otak terhadap rangsangan seksual akan menurun. Pada akhirnya, otak membutuhkan lebih banyak dopamin untuk bisa terangsang secara seksual. Dengan begitu, seseorang pun akan memiliki keinginan lebih banyak untuk menonton film porno.

Apa saja dampak pornografi terhadap otak?

1. Adiksi (kecanduan)

Rangsangan pada dopamin dalam jumlah besar mengakibatkan penumpukan protein saklar molekuler yang disebut deltaFosB, salah satu bahan aktif yang menyebabkan kecanduan pada umumnya.

2. Merusak daya ingat dan konsentrasi

Pornografi dapat menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan kesenangan saat seks setelah pernikahan (disebut desensitisasi). Menurut penelitian yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry tahun 2014, menonton pornografi secara teratur dapat menumpulkan respon terhadap rangsangan seksual dari waktu ke waktu.

3. Mengurangi kontrol impuls dan kemauan

Video porno menyebabkan kita hilang kendali dalam mengontrol diri untuk berhenti, bahkan kesulitan untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak kita ingingkan.

4. Mudah stres 

Beberapa orang yang sudah kecanduan pornografi akan mengalami depresi meskipun orang tersebut hanya menghadapi permasalah yang sepele.

5. Ukuran otak mengecil

Menonton konten porno dalam "porsi sedang" sekalipun dapat menyusutkan bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan kita untuk fokus. Pengakses pornografi pun dapat terkena brainfog (kabut otak) atau kesulitan berpikir jernih. Beberapa tandanya adalah mudah lupa dan mudah buyar konsentrasinya.

6. Berisiko melakukan kejahatan seksual

Pecandu pornografi membutuhkan rangsangan yang lebih besar. Mereka cenderung mengakses jenis-jenis pornografi yang lebih ekstrim dan melakukan perilaku berisiko untuk mendapatkan sensasi yang lebih kuat melalui ketakutan korban. 

7. Disfungsi ereksi

Pecandu pornografi menjadi kurang peka terhadap seks nyata dengan pasangan mereka dan membutuhkan lebih banyak rangsangan untuk mencapai orgasme.

Baca: Nonton Konten Porno Bersama Pasangan, Tingkatkan Gairah atau Picu Perpisahan? 

Kesimpulannya, pornografi bisa dikategorikan sebagai penyakit karena dapat mengubah struktur dan fungsi otak, atau dengan kata lain merusak otak. 

Di samping itu, Dr. Mark Kastelmen memberi nama pornografi sebagai visual cocain atau narkoba lewat mata (narkolema). Bagian otak yang paling dirusak adalah pre frontal cortex (PFC) yang membuat seseorang sulit membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls.

Di era digital seperti sekarang, kemajuan teknologi komunikasi membuat pornografi dapat muncul dengan mudah dan murah dalam berbagai bentuk, tak hanya video tapi juga gambar, foto, tulisan, suara, bahkan animasi yang berkedok kartun anak-anak.

Karena itu, literasi digital menjadi hal yang penting sebelum memasuki akses tanpa batas di dunia maya, baik bagi orang dewasa, remaja maupun anak-anak.

 

Narasumber: dr. Denny Hartanto

Image by fancycrave1 from Pixabay