Ada banyak perasaan campur aduk ketika kita dan pasangan mulai berniat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Beragam pertanyaan pun mulai muncul di benak menciptakan keraguan dalam diri, sudah atau belum siapkah aku untuk menikah? Apa saja tandanya? 

“Apakah dia orang yang tepat untukku?”

”Bagaimana dengan keluarganya setelah menikah, apakah akan sama ketika aku mengenalnya sekarang?” 

“Akankah dia membelaku ketika sudah menikah nanti?” 

“Tinggal di mana nanti, ya? Keuangan kita akan amankah?” 

Wajar saja sih, kalau kita banyak bertanya-tanya akan apa yang mungkin terjadi apalagi kita belum pernah menikah. Tapi, kita juga perlu tahu nih… apakah kita banyak bertanya karena ingin mempersiapkan lebih dini atau malah kita justru belum siap nikah? 

Dikutip dari media sosial KALM online counseling, ada tujuh tanda seseorang belum siap menikah, yaitu:

1. Melarang terus, tanpa memahami dan menolak saran 

Padahal, menurut dr. Fadhli Rizal Makarim, terlalu posesif atau banyak melarang bisa membuat hubungan menjadi toxic. Tujuan dari pernikahan untuk menyatukan dua kepala yang berbeda, demi mencapai tujuan bersama. Kalau belum apa-apa sudah banyak melarang, apalagi kalau sepihak tanpa mau saling memahami, bagaimana bisa menciptakan keluarga yang nyaman, kan? 

2. Menolak berbenah diri secara psikologis (pikiran, perasaan dan perilaku) 

Manusia semuanya berkembang dan mungkin berubah dalam perjalanannya secara perilaku atau pola pikir. Kita tak selamanya bisa menjadi pribadi yang selalu baik atau sejalan dengan pasangan. Ketika terjadi konflik, kita perlu introspeksi diri dan berbenah diri alias berusaha untuk lebih baik demi diri sendiri juga untuk pasangan. 

3. “Aku emang orangnya cuek, trus kenapa?”

Kalau sudah berniat membuka lembaran baru bersama pasangan, tak ada lagi kata “aku” tapi “kita”. Jadi kalau semua masih berpusat pada “aku” dan bagaimana nyamannya “aku” saja, gimana dong mau membangun bahtera rumah tangga bersama? 

4. Cepat ‘ngambek’ kalau chat lama dibalas 

Akan ada banyak permasalahan di rumah tangga yang perlu kita dan pasangan ‘sortir’ mana yang prioritas untuk diselesaikan terlebih dahulu, mana yang bisa ditunda. Kesemuanya, perlu kesabaran dan hati yang lapang alias enggak bisa memaksakan kehendak sepihak. Penting sekali untuk kita menahan diri untuk enggak gampang ‘ngambek’ untuk hal yang masih bisa dibicarakan.

5. Menuntut pasangan untuk bisa membaca isi hati kita

Hal ini menunjukkan bahwa kita masih sulit untuk berkomunikasi secara asertif. Asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan apa yang kita inginkan dengan tetap menghargai perasaan pihak lain, tanpa bermaksud menyerang. Untuk paham isi kepala kita dan pasangan, butuh adanya komunikasi terbuka dari kedua belah pihak.

Contohnya, sebelum menyampaikan isi hati, kita bisa menanyakan keadaannya terlebih dahulu. Lalu katakan, “Aku merasa kamu lagi enggak nyaman. Apa yang bisa aku bantu untuk bisa membuat kamu lebih baik?”

Gunakan I-message untuk menyampaikan apa yang kita rasakan alih-alih membuat pasangan bertanya-tanya apa yang terjadi. Begitupun sebaliknya. 

Baca: Komunikasi Efektif dalam Pernikahan, Ini Contohnya

6. Kasar berucap dan berperilaku 

Menurut psikolog Dr. Tarra Bates-Duforf, perilaku abusive seperti kasar berucap dan berperilaku bukan untuk dimaklumi. Kita perlu menelaah perasalahannya, karena mereka yang abusive bisa membuat kita mengalami trauma, gangguan emosional dan hidup dalam ketakutan, pelecehan, dan manipulasi. Kekerasan verbal pun sering kali meningkat menjadi kekerasan fisik. 

7. Selalu curiga, bahkan terkadang tak berdasar 

Curiga adalah bentuk dari sikap insecure alias merasa tidak aman. Insecure bisa terjadi salah satunya karena pernah mengalami kejadian serupa, atau ada trauma yang buruk. Cara mencegahnya adalah dengan membangun komunikasi yang asertif dengan pasangan tanpa menghakimi. Ingat, kunci pernikahan yang sukses adalah dengan menumbuhkan rasa percaya pada pasangan serta komunikasi dua arah. 

Dari 7 tanda di atas, mungkin kita sudah bisa menilai seberapa siap kita untuk menikah. Tanyakan juga hal tersebut pada calon pasangan agar bisa menentukan bersama langkah selanjutnya.

Jika merasa sulit berbicara masalah “penting” dengan pasangan, ikuti kelas Komunikasi dengan Pasangan Bersama psikolog Karina Adistiana di www.demikita.id.

Image by drobotdean on www.freepik.com