Mungkin kita pernah dengar bahwa jika orang tua kita memiliki diabetes melitus (atau yang dikenal dengan sakit gula), itu berarti besar kemungkinannya kita juga memiliki penyakit tersebut. Bukan berarti kita pasti memiliki penyakit diabetes, karena ada berbagai faktor lain yang akan menentukan ada tidaknya diabetes dalam tubuh kita. Meskipun, secara teori diabetes dan keturunan sangat erat hubungannya. Lantas, jika keluarga kita mengidap diabetes, bisakah kita menghindarinya?  

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita ulas sedikit terlebih dulu mengenai apa sebenarnya diabetes. Penyakit diabetes atau lengkapnya diabetes melitus, merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa atau gula darah dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena terjadinya kerusakan pankreas yang berdampak pada tubuh, di mana tubuh tak mampu memproduksi insulin yang berguna sebagai pengolah gula darah pada tubuh kita.

Indonesia peringkat 7 jumlah penderita diabetes 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa lebih dari 34 juta orang di dunia menderita diabetes. Sedangkan menurut organisasi International Diabetes Federation (IDF), sekiranya ada 463 juta orang yang terkena diabetes pada tahun 2019. Indonesia menduduki posisi ketujuh sebagai negara yang mempunyai jumlah penderita diabetes tertinggi pada tahun 2019, yaitu sekitar 10,7 juta. Mereka yang menderita diabetes ini termasuk dari 3 jenis diabetes yang ada, yaitu: 

1. Diabetes tipe I 

Diabetes tipe I terjadi ketika adanya sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang dan menghancurkan insulin. Diabetes tipe I disebut juga sebagai diabetes autoimun. Biasanya hal ini terjadi saat masih anak-anak. 

2. Diabetes tipe II 

Diabetes tipe II inilah yang cukup banyak terjadi. Diabetes tipe II terjadi karena adanya penurunan insulin yang diproduksi oleh pankreas, sehingga gula darah meningkat. Nah hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah obsesitas, kurang aktivitas fisik, dan pola makan yang tak seimbang. 

3. Diabetes gestasional

Diabetes ini terjadi ketika hamil. Biasanya terjadi kenaikan gula darah pada usia kehamilan 24 minggu, ini disebabkan karena adanya faktor hormonal. Namun, biasanya hal ini akan berakhir sesaat setelah melahirkan. 

Selain ketiga jenis diabetes di atas, ada lagi yang namanya prediabetes. Nah, prediabetes ini merupakan suatu kondisi di mana gula darah dalam tubuh kita sudah melebihi batas normal, tapi tak setinggi orang dengan diabetes.

Diabetes tipe 2 terutama menyerang orang dewasa, tetapi semakin ke sini semakin banyak anak-anak, remaja, dan dewasa muda yang terkena penyakit ini. Untuk itu kita harus lebih waspada terhadap penyakit ini karena diabetes dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, kebutaan, dan infeksi berat sampai memerlukan tindakan amputasi anggota gerak. Untuk itu, kita harus mengetahui apa saja faktor risiko jika terkena penyakit diabetes. Nah, salah satu faktor risikonya adalah riwayat keturunan diabetes pada keluarga.

Cara menghitung kemungkinan “warisan” diabetes

Jika kita memiliki riwayat keluarga ada yang terkena diabetes, maka kita lebih mungkin untuk berada pada posisi prediabetes yang bisa berkembang menjadi diabetes. Untuk itu, mempelajari riwayat kesehatan keluarga tentang diabetes merupakan langkah penting untuk mengetahui apakah kita memiliki faktor risiko terkena prediabetes dan mengetahui apakah mungkin bisa berkembang menjadi diabetes. 

Baca: Dapatkah Diabetes Diobati?

Dikutip juga dari American Diabetes Association, mereka mempunyai perhitungan menurunnya penyakit diabetes pada keturunan kita, seperti berikut :

1. Diabetes tipe I

  • Laki-laki dengan diabetes tipe 1, kemungkinan anaknya terkena diabetes adalah 1 dari 17. 
  • Wanita dengan diabetes tipe 1, jika anaknya lahir sebelum si ibu berusia 25 tahun, risiko anak kena diabetes adalah 1 dari 25
  • Tapi, jika anaknya lahir setelah ibu berusia 25 tahun, risiko anak menjadi 1 dari 100. 
  • Risiko anak berlipat ganda jika orang tua menderita diabetes sebelum usia 11 tahun, dan akan meningkat lagi bila kedua orang tua sama-sama memiliki diabetes tipe I, dengan angka kejadiannya sekitar 1 dari 10.

2. Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 memiliki hubungan yang lebih kuat dengan riwayat penyakit keluarga dibandingkan dengan diabetes tipe 1. Namun, hal itu juga tergantung pada faktor lingkungan. Gaya hidup juga memengaruhi perkembangan diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 diturunkan dalam keluarga. Sebagian, ini karena anak-anak belajar kebiasaan buruk—makan makanan tak sehat, tidak berolahraga—dari orang tua mereka. Tetapi, ada juga dasar genetiknya.

Lalu, bagaimana supaya tahu apakah kita mempunyai diabetes atau kemungkinanya?

Karena diabetes merupakan penyakit yang berkaitan dengan faktor keturunan keluarga, hal pertama yang dapat kita lakukan adalah bertanya riwayat kesehatan keluarga. Tanyakan apakah ada keluarga (bapak/ibu/kakak/adik/nenek/kakek/tante/om) yang mempunyai penyakit diabetes. 

Nah, bila di keluarga kita ada yang diabetes, tak usah bingung dan takut. Langkah selanjutnya adalah memeriksakan kadar gula dalam darah kita. Pemeriksaan gula darah ini lebih baik dilakukan secara berkala dan sedini mungkin, untuk mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya penyakit diabetes. Makanya, saat ini banyak program pemerintah yang mengharuskan melakukan tes pemeriksaan kesehatan seperti tes pemeriksaan kesehatan pada calon pengantin, pemeriksaan kesehatan pada ibu hamil, dan general check up bagi para pekerja. 

Baca: Mengapa Tes Kesehatan Pranikah Harus 3 Bulan Sebelumnya?

Mencegah diabetes sedini mungkin

Setelah mengetahui faktor risko keluarga atau keturunan dan melakukan pengecekan kadar gula darah kita dan hasilnya normal, tetap jangan lengah. 

Bila hasilnya tinggi, konsultasikan dengan dokter sesegera mungkin. Bila hasilnya masuk ke dalam kategori prediabetes, nah ini yang harus sangat diwaspadai.

Berikut ini adalah tips agar kamu terhindar dari penyakit diabetes:

Yuk, segera cek kesehatan secara berkala dan lakukan tips diatas untuk menghindari penyakit diabetes. Ingat ya, generasi penerus juga bergantung pada generasi saat ini. Nggak mau kan kita menurunkan penyakit diabetes pada anak-anak kita kelak?

 

Image by Freepik