Begitu buka mata pagi-pagi, yang dicari pertama kali HP-nya. Sarapan pagi sambil scrolling-scrolling, “urusan kerjaan,” katanya. Pulang kantor, me time-nya juga liat HP. Enggak cuma hari biasa nih, hari libur juga masih mantengin HP. Kok, lama-lama kelakuan suami yang ini bikin emosi, ya. Bukan sekali dua kali hal ini jadi sumber pertengkaran, tapi ujung-ujungnya suami kembali sibuk dengan HP-nya. Akhirnya, masalah ini menjadi topik “abadi” konflik dalam rumah tanga. 

Survey yang dilansir oleh Only You Forever, sebanyak 8% pasangan menikah yang menggunakan internet, selalu mengalami argumen tentang waktu yang dihabiskan untuk bermain media sosial. Daily Infographic juga memaparkan waktu rata-rata orang mengecek HP-nya sebanyak 110 kali sehari, dan 61% dari mereka meletakkan ponsel di bawah bantal atau di samping ranjang!

Pria butuh hiburan selepas bekerja atau aktivitas, media sosial adalah jawabannya 

Menurut Cut Maghfirah Faisal, S.Psi, M.Psi, Psikolog (Psikolog Klinis & Koordinator Kalmselor KALM), ada beberapa kemungkinan yang bisa membuat pria suka memegang HP. Salah satu kemungkinannya, karena mereka butuh hiburan setelah lelah bekerja atau beraktivitas. Tapi, ada juga kemungkinan indikasi bahwa mereka kurang nyaman atau terhibur dengan kondisi rumahnya sehingga perlu mencari hiburan lewat HP. Enggak heran, kalau main game, scrolling medsos seperti Facebook, Instagram, nonton podcast sampai vlog otomotif di YouTube menjadi pelariannya. 

Wajar enggak sih hal seperti ini terjadi pada pria? 

Sebenarnya hal ini tak hanya terbatas pada pria saja, namun juga dapat terjadi pada semua kalangan dan gender. Wajar atau tidaknya perilaku ini tergantung pada beberapa faktor lainnya, seperti durasi penggunaan HP, aktivitas yang dilakukan di HP, kualitas hubungan dengan orang-orang di kehidupannya, dan tingkat produktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Baca: Mengubah Kebiasaan Buruk Pasangan, Mungkinkah Dilakukan?

Aktivitas penggunaan HP masih wajar, asal… 

…dilakukan dalam durasi yang tidak berlebihan dan tidak mengganggu kualitas hubungan suami dengan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, penggunaan HP juga hendaknya tidak sampai mengganggu produktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, jika suami terlalu sering menggunakan HP hingga ia meninggalkan tanggung jawabnya, baik tugas di kantor maupun rumah, atau menimbulkan konflik dengan pasangan, maka hal tersebut sudah tergolong tidak wajar.

Bagaimana cara menyatakan keberatan tanpa berujung pertengkaran? 

Kita bisa menyampaikan keberatan secara asertif. Komunikasi asertif merupakan jenis komunikasi yang menghargai kedua belah pihak. Kita berusaha menghargai diri kita sendiri dengan cara menyampaikan perasaan kita dengan jujur, dan berusaha menghargai pasangan dengan cara memperhatikan cara penyampaian dan pemilihan kata. 

Sederhananya, rumus dari komunikasi asertif adalah: “Saya merasa… ketika kamu…”, dan “Saya merasa lebih nyaman jika…”. 

Sebagai contoh, kita dapat mengatakan: “Saya merasa sedih ketika kamu terlalu sering memegang HP. Saya merasa lebih nyaman kalau kamu bisa meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak di malam hari”. Dengan demikian, kita tetap dapat jujur dalam menyampaikan perasaan kita tanpa menyinggung atau menyalahkan pasangan.

Buat suasana di rumah menjadi lebih nyaman, sehingga ia terdistraksi dari HPnya 

Selain berusaha menyampaikan perasaan kita secara asertif, kita juga dapat mencoba untuk membuat suasana di rumah terasa lebih nyaman. Terkadang, suami menjadikan HP sebagai pelarian karena merasa tidak nyaman dengan suasana rumah, misalnya karena kita dianggap terlalu sering mengeluh dan marah-marah. Jika kondisinya demikian, kita dapat mencoba pelan-pelan berubah, sehingga suami merasa lebih nyaman dengan suasana rumah dan tidak perlu mencari hiburan atau pelarian melalui HP. 

Baca: Pamer Kemesraan di Media Sosial, Gemesin atau Malesin?

Kita juga dapat menyepakati aturan “No-Phone-Time” dengan suami, di mana pada jam atau hari tertentu, seluruh anggota keluarga harus menyimpan HPnya di lemari dan melakukan aktivitas bersama, seperti nonton bareng, memasak bersama, berolahraga, dan lainnya. 

 

Image by Pressfoto -www.freepik.com