Para penganut KB alami alias ejakulasi di luar (coitus interruptus) masih sering merasa tak tenang. Kebanyakan dari mereka masih takut kebobolan alias hamil, mengingat tak sedikit penganut senggama terputus ini yang pada akhirnya hamil. Pertanyannya, jika sperma benar-benar keluar di luar rahim, apa masih bisa hamil juga? 

Sebelum mengetahui apakah wanita bisa hamil walaupun sperma dikeluarkan diluar, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui. 

Yang pertama, kehamilan terjadi ketika sperma membuahi sel telur, yang dapat terjadi bahkan saat kita belum melakukan hubungan seksual secara penetrasi. Artinya, walaupun kita hanya melakukan petting (menggesekkan penis ke vagina) tapi ada sel sperma di cairan pra ejakulasi yang masuk ke dalam vagina atau rahim, bisa saja terjadi kehamilan. Walaupun, angka kejadiannya rendah karena sperma sulit bertahan hidup di luar tubuh.

Baca: Petting Tetap Bisa Sebabkan Kehamilan, Jangan Sepelekan

Yang kedua, kita perlu tahu perbandingan cairan sperma dan air mani. Sederhananya, air mani adalah cairan yang keluar dari penis, dan sperma adalah sel yang ditemukan dalam air mani yang bertanggung jawab untuk membuahi sel telur pada wanita. 

Ketika seorang laki-laki terangsang, sperma bercampur dengan cairan tubuh untuk membuat air mani, ini merupakan cairan yang disebut dengan cairan pra ejakulasi. 

Selain sel sperma, air mani mencakup sejumlah sekresi tubuh untuk membantu sel sperma tersebut bertahan hidup untuk mencapai sel telur. Ini termasuk cairan prostat (untuk menetralkan keasaman vagina), cairan mani (untuk membantu menyehatkan sperma), dan cairan bulbourethral (untuk melumasi penis). 

Menurut WHO, saat ejakulasi penis dapat memproduksi sekitar 1 sendok teh atau 4 milimeter air mani. Dan, saat itu laki-laki dapat menghasilkan sperma sebanyak 23 juta sampai 928 juta sel sperma. Itu artinya dalam satu milimeter air mani terdapat 9 juta hingga 259 juta sel sperma. 

Nah, saat berhubungan seks, air mani disimpan di dalam vagina dan sperma segera mulai berenang ke sel telur, sementara sisanya dan cairan lain dalam air mani keluar begitu saja melalui lubang vagina. Dengan kondisi yang tepat, sperma dapat hidup di dalam rahim hingga 5 hari, lho.  

Lalu, bisakah kita hamil saat sperma dikeluarkan di luar?

Jawabannya adalah bisa. Mengapa? Coitus interruptus atau metode pull out ini memang merupakan pilihan untuk ber-KB. Namun, metode ini memiliki angka kegagalan sebesar 3-4 %, di mana angka kegagalan itu cukup besar bila dibandingkan dengan metode kontrasepsi lainnya. 

Kegagalan metode ini pun dikaitkan dengan pertanyaan apakah kita bisa hamil saat sperma dikeluarkan di luar. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang terjadi saat kita berhubungan seks, seperti:

  • Saat berhubungan seks, suami tidak akan sepenuhnya bisa mengontrol keluarnya sperma. Bisa saja dia lepas kontrol dan sperma keluar di dalam vagina.
  • Saat berhubungan seks, suami akan mengeluarkan cairan mani. Nah, seperti yang sudah dijelaskan di atas, cairan mani pun mengandung sperma. Jadi, sperma bisa saja terdapat pada air mani dan masuk ke dalam rahim sebelum terjadinya ejakulasi.
  • Sperma dapat bertahan hingga lima hari di dalam rahim, mungkin saja bisa menyebabkan pembuahan sel telur 
  • Sel telur hanya butuh satu sel sperma sehat yang membuahinya agar terjadi pembuahan dan hamil. Sedangkan, sperma yang terdapat pada air mani bisa berjuta-juta, lho.

Jadi, bila kamu ingin menunda kehamilan atau tak ingin hamil, gunakanlah kontrasepsi mantap seperti IUD atau spiral. Selain efektivitasnya yang mencapai 99%, kamu dan pasangan tak perlu takut lagi saat berhubungan seks!

 

Image by inventsolutions on Freepik