“Suami saya itu, orangnya keras banget. Kalau sudah maunya A ya A enggak bisa tuh jadi B apalagi D. Konon katanya, sifatnya turunan ayahnya. Anak saya juga gitu, kalau sudah punya mau harus terjadi. Agak keras seperti bapaknya. Jadi curiga, jangan-jangan sifat anak itu keturunan orang tuanya ya?”

“Hmm, benar, tapi tidak sepenuhnya benar,” ujar Hanifa Asra Silmi, M.Psi, Psikolog dari Insight Psikologi. Hanifa menjelaskan, setiap anak lahir dengan temperamen yang berbeda-beda. Temperamen adalah kecenderungan anak dalam menampilkan perilaku di lingkungan sekitarnya. Temperamen bersifat nature alias terberi. Benar memang bahwa ada sifat-sifat yang diturunkan dari keluarga secara genetik. 

Namun, yang tidak kalah penting adalah di lingkungan seperti apa anak tumbuh (nurture). Penelitian menemukan bahwa lingkungan tertentu akan mengaktifkan gen tertentu pula. Misalnya, pada anak yang diasuh di lingkungan yang sarat akan kekerasan, gen yang terkait karakteristik serupa dapat diaktifkan. Sementara pada anak yang tumbuh di lingkungan yang positif, gen yang diaktifkan terkait perilaku positif pula. 

Apakah sifat turunan tadi bisa diubah? 

Kita tidak dapat mengubah temperamen anak, tapi kita bisa menyesuaikan gaya pengasuhan kita dengan temperamen anak agar perkembangan kepribadiannya optimal. Misalnya, pada anak dengan temperamen reaktif, maka ia cenderung memiliki reaksi emosi yang intens, dan aktif secara fisik. Sebagai orang tua, kita bisa mengajarkan pada anak bagaimana mengambil jeda, ataupun relaksasi.

Sebaliknya pada anak-anak dengan temperamen yang kurang reaktif, biasanya anak-anak ini mudah mengikuti alur, senang dengan kegiatan-kegiatan duduk tenang. Pada anak dengan tipe temperamen ini, orang tua dapat mengajak anak untuk rutin beraktivitas fisik, ataupun memancing inisiatifnya dalam berkegiatan. 

Gimana sih, biar sifat anak lebih baik dari orang tuanya?

Seperti dijelaskan di atas, lingkungan merupakan faktor penting yang dapat mengaktifkan serangkaian gen yang akan menentukan perilaku anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi pengamat yang baik agar dapat menyesuaikan gaya pengasuhan. Menyediakan lingkungan keluarga yang hangat merupakan landasan awal bagi perkembangan kepribadian anak. 

Selain itu perlu diingat bahwa alih-alih hanya menurunkan sifat, orang tua memegang peranan penting sebagai role model bagi anak. Misalnya, saat ayah marah, anak akan mengobservasi bagaimana tindakannya, begitu pula dengan ibu saat mengalami kesulitan. Bagaimana sikap kita di kehidupan sehari-hari akan menjadi dasar persepsi bagi anak dalam menentukan perilaku yang tepat atau tidak tepat di lingkungan sekitar. 

Baca: Latih Kecerdasan Emosional Anak dengan 5 Tahap Ini

Ternyata, anak justru punya sifat yang 180° berbeda dengan kita. Harus gimana? 

Pertama-tama, orang tua perlu menerima perbedaan ini terlebih dahulu. Pahami bahwa memang anak adalah individu yang berbeda dari diri kita. Perbanyak kegiatan diskusi dengan anak akan membantu kita memahami karakternya dan membantu mereka menghadapi apapun dengan sifat yang dimilikinya. 

 

Photo created by wirestock & fwstudio - www.freepik.com