Zaman boleh modern, tapi nyatanya cara berpikir masyarakat banyak yang masih menggunakan pola lama, salah satunya dalam hal pernikahan. Masih banyak orang tua yang hanya melarang anaknya menikah dengan pasangan berbeda suku, bahkan berbeda status sosial termasuk berbeda tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi. “Anak siapa”, “kerja di mana”, “lulusan mana” bisa jadi “batu sandungan” mendapat restu jika ternyata jawabannya tak sesuai ekspektasi orang tua. Ini belum termasuk "kekejaman netizen", jika ternyata yang menikah adalah seorang public figure. Jika kita ternyata menjadi salah seorang yang jatuh cinta dengan pasangan dengan status sosial berbeda, apa risikonya?

Nurfitriyanti Permata Putri, M.Psi, Psikolog (Psikolog Klinis & Kalmselor di @get.kalm) menuturkan bahwasanya sekarang ini perbedaan status sosial sangat bergantung pada masing-masing individu. Karena faktanya, berbeda status sosial atau “kasta”, mereka toh tetap bisa menjalankan pernikahan dengan harmonis. 

Tapi, penting untuk kita mengetahui seberapa kuat pasangan dan keluarganya meyakini nilai dari status sosial tersebut. Jangan menutup mata kalau memang ternyata keluarga menjunjung tinggi nilai status sosial mereka. Kita harus pahami risiko yang akan dihadapi apabila sedari awal orang tua sudah menjaga jarak apalagi melakukan penolakan. 

“Nyatanya, ketika kita tidak siap menerima risiko penolakan keluarga sejak awal dan memaksakan untuk menikah, perjalanannya akan sulit karena proses penerimaan belum terbangun dan mempengaruhi proses penyesuaian dalam pernikahan,” ujarnya. 

Mengapa penting sekali status sosial di mata orang tua? 

Besar kemungkinan karena perbedaan status sosial berpengaruh pada perbedaan kebiasaan, gaya hidup, lingkungan dalam relasi sosial, hingga stigma masyakarat. Alhasil, yang perlu beradaptasi bukan hanya kita yang menikah, tapi semua pihak keluarga terkait. Sementara, proses setiap orang berbeda dan tak semua bisa memahami. 

Kemungkinan lain, bisa jadi orang tua khawatir akan penilaian orang lain. Memastikan anak menikah dengan pasangan yang memiliki status setara adalah upaya mereka untuk menjaga martabat diri dan keluarga agar tidak merasa direndahkan ataupun dimanfaatkan karena status sosial yang berbeda. Walaupun, kenyataannya belum tentu terjadi. 

Apa risikonya jika akhirnya tetap menikah dengan pasangan yang status sosialnya berbeda? 

Berbeda status maupun setara, semua pernikahan punya risiko. Tapi, mereka yang berbeda punya perbedaan nilai prinsip dan pola kebiasaan perlu penyesuaian dan adaptasi yang mungkin lebih banyak ketimbang mereka yang datang dari status sosial yang sama. Karenanya, peluang konflik menjadi lebih besar karena banyak hal bisa jadi sumber masalah. 

Misalnya, ia yang datang dari status sosial lebih tinggi memilih fancy dining (makan di restoran mahal) ketika makan bersama. Pasangannya yang tak terbiasa, bisa menganggap hal tersebut suatu pemborosan dan merasa tak nyaman. Tak ada yang salah dari keduanya, hanya pembiasaan yang perlu proses. 

Kuncinya adalah belajar beradaptasi dengan kebiasaan, dan komunikasikan ketika merasa tak nyaman. Dengan begitu, risiko apapun yang terjadi bisa dengan mudah teratasi. 

Adakah cara meminimalisir risiko tersebut?

Kita tak bisa dengan mudah menyamakan status sosial dengan pasangan, tapi kita bisa menyepakati 4 hal ini dengan pasangan: 

1. Dyadic consensus, kesepahaman atau kesepakatan antar pasangan dalam berbagai masalah perkawinan, seperti keuangan, pembagian peran pascamenikah, rencana rekreasi, ritual keagamaan, kebiasaan keluarga besar, dan lainnya.

2. Dyadic cohesion, tentang seberapa sering pasangan melakukan berbagai kegiatan bersama, menikmati kebersamaannya tersebut, serta saling berbagi pengalaman, baik kegagalan atau kesuksesan. Tujuannya, tentu agar semakin memahami situasi masing-masing.

3. Dyadic satisfaction, tentang derajat kepuasaan di mana masing-masing pasangan dirasa mampu melaksanakan perannya dalam pernikahan nanti. Artinya, perlu ada penyesuaian untuk sama-sama saling paham apa yang disukai dan diharapkan dari masing-masing pasangannya.

4. Affectional expression, adanya kesepahaman dalam menunjukan siapa diri mereka dengan cara yang tetap nyaman dan aman serta cara menyatakan perasaannya sehingga pasangan mengenal pola masing-masing tanpa merasa terancam.

Nah, dari 4 hal tersebut kita jadi tahu perlunya memastikan dan sepakat tujuan menikah bersama sehingga kita bisa fokus memperbanyak kesamaan hingga status tak lagi menjadi kendala. Keduanya, juga perlu menempatkan diri di posisi masing-masing supaya bisa memahami sudut pandang lawan. 

Butuh juga bicara dari hati ke hati dengan keluarga mengenai rencana yang kita buat dengan pasangan, dan kenapa kita memilih untuk tetap bersama dengan segala perbedaan. Semoga dengan nilai dan tujuan yang kuat, bisa merobohkan kekakuan akan status sosial yang ada ya! 

 

 

 

Photo created by katemangostar - www.freepik.com