Mie instan kerap jadi andalan saat anak susah makan, apalagi saat GTM (Gerakan Tutup Mulut)-nya muncul. Padahal, jika terlalu sering mengonsumsi mie instan, bisa sebabkan stunting, lho. Betulkah?

Sebelum mengetahui apakah mie instan dapat menyebabkan stunting atau tidak, kita harus mengetahui dulu apa itu stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kurang gizi kronis di 1000 hari pertama kehidupan anak. Secara fisik, anak stunting lebih pendek daripada anak seusianya. Seberapa pendek? Bila diukur dengan kurva pertumbuhan maka tingginya ada di bawah garis minus dua standar deviasi (-2 SD). 

Apa penyebabnya?

Ada beberapa penyebab utama stunting. Salah satunya adalah ketidakmampuan mengoptimalkan praktik pemberian makan anak dan konsumsi makanan yang salah. Praktik pemberian makan yang tidak memenuhi standar dapat meningkatkan risiko stunting pada balita. 

Sebuah penelitian terhadap anak usia 6-23 bulan menemukan bahwa mereka yang tidak mengonsumsi makanan yang bervariasi lebih mungkin mengalami stunting daripada mereka yang mengonsumsi makanan yang beragam, yaitu makanan yang mewakili 5 kelompok makanan, yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah, dan lemak. 

Oleh karena itu, keragaman menu amat penting untuk memenuhi gizi anak dan mencegah stunting.

Jadi, di mana letak hubungan mie instan dengan stunting?

Ada beberapa jenis makanan yang bila diberikan terlalu banyak, justru dapat menghambat pertumbuhan anak. Contoh makanan tersebut adalah popcorn, makanan cepat saji, makanan yang digoreng, soda, dan mie instan. 

Mie instan terkadang cukup “ampuh” membuat anak berselera makan. Mau tahu kenapa? Jawabannya adalah karena mie instan banyak mengandung monosodium glutamat alias MSG yang membuat rasanya sangat lezat (hyperpalatable). 

Baca: Hyperpalatable, Ketika Enggak Gurih Enggak ‘Nendang’

Mie instan yang banyak diproduksi terbuat dari tepung, garam, dan minyak kelapa sawit. Sehingga, mie instan dinilai tidak dapat memenuhi gizi yang dibutuhkan untuk anak. Selain itu, konsumsi mie instan dapat meningkatkan asupan natrium yang dapat berdampak pada kerusakan pada organ-organ penting tubuh seperti jantung, hati, dan ginjal. 

Gizi yang tidak memadai tentu akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, pencapaian standar gizi yang ideal sangat penting. Anak bisa mulai makan pada usia 6 bulan yang disebut dengan makanan pendamping ASI, secara bertahap disesuaikan teksturnya sesuai umur. Namun, kandungan gizi yang harus ada pada makanan tersebut haruslah lengkap yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur. 

Selain itu, pemberian edukasi yang efektif tentang praktik pemberian makan dan konsumsi makanan bergizi seimbang yang tepat kepada ibu hamil dan ibu dengan balita diharapkan dapat menurunkan angka kejadian stunting di Indonesia.

Memangnya, stunting berbahaya?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stunting berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satunya, anak stunting memiliki gangguan pertumbuhan fisik, gangguan kognitif, dan peningkatan risiko penyakit kronis seperti obesitas yang lebih banyak dibandingkan anak normal. Saat usia sekolah nanti, anak stunting berisiko mengalami kesulitan konsentrasi dan mengingat. Selain itu, dapat terjadi gangguan fungsi motorik, seperti lesu dan kesulitan merangkak, berjalan, dan berinteraksi dengan lingkungan.

Baca: Stunting Waktu Kecil, Obesitas Saat Dewasa, Kok Bisa?

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Angka ini masih lebih tinggi dari standar WHO yaitu 20%. 

Tak ingin kan, anak kita gagal tumbuh, tak cerdas, dan sakit-sakitan hanya karena kita terlalu sering memberi mereka mie instan? 

 

Photo created by KamranAydinov - www.freepik.com