Sekarang, siapa yang tak dengar kata me time, healing, atau luka pengasuhan? Istilah kesehatan mental yang dulu eksklusif bagi kalangan psikolog, kini menjadi topik pembicaraan masyarakat awam di dunia maya maupun dalam interaksi sehari-hari. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa makin banyak orang yang sadar akan kondisi mentalnya, juga kondisi mental orang lain. Sisi baiknya, tentu saja lebih mudah untuk mencari bantuan jika kita merasa ada yang salah dengan diri kita maupun berempati pada orang lain yang sedang “tidak baik-baik saja”. Sayangnya, “melek” mental health ini juga mendorong orang untuk self-diagnose, alias mendiagnosis sendiri kondisi mentalnya.

“Suamiku enggak ngerti kalau aku depresi sejak bayiku lahir. Jangankan empati, aku malah dianggap enggak setangguh ibunya yang bisa membesarkan 3 anak tanpa mengeluh..”

Kita bisa saja menyalahkan sang suami pada kasus di atas, namun ternyata sang istri belum pernah berkonsultasi dengan profesional (seperti psikolog). Ia mencari sendiri di Google mengenai apa yang ia rasakan, yang kebetulan beberapa hal cocok dengan ciri-ciri depresi. Lantas, ia pun menyimpulkan sendiri (self-diagnose) bahwa kesedihan yang ia alami sejak bayinya lahir merupakan wujud dari depresi. 

Baca: Post-Partum Psikosis, Depresi yang Berbahaya untuk Ibu Pasca Melahirkan

Pertanyaannya, kalau memang yang ia rasakan cocok dengan ciri depresi, mengapa tidak boleh mendiagnosis sendiri?

Menurut Namrta Mohan, pendiri Talk-Heals Psychotherapy di Ontario, Kanada, saat kita mulai meyakini bahwa kita menderita depresi, secara tak sadar kita akan membawa diri kita pada kondisi tersebut, dan mulai merasa dan bertindak seperti orang yang memang mengalami depresi (padahal belum tentu).  Tentu saja self-diagnose semacam ini berbahaya. 

Namun, bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya. Yaitu, orang yang sebenarnya mengalami gangguan kesehatan mental, namun ia menganggap hal tersebut hanyalah rasa sedih yang amat sangat. Baik kasus pertama maupun kasus kedua, sama-sama berbahaya jika tidak segera ditangani sesuai kondisi sebenarnya.

Tak hanya itu, andaipun orang yang sudah melakukan self-diagnose akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan tenaga profesional, penilaiannya terhadap diri sendiri menjadi tidak objektif karena ia sudah melabeli dirinya sendiri terkena depresi maupun gangguan kesehatan mental lainnya. Ini tentu saja menyulitkan psikolog atau psikiater dalam menilai kondisi klien. Bukan tak mungkin, pakar tersebut melakukan salah diagnosis dan treatment! Seram, kan..

Lalu, bagaimana agar kita tak terjebak melakukan self-diagnose?

Dalam laman konseling online KALM, kita diminta untuk menghindari melabeli diri dengan kondisi yang kita temui di internet (yang serupa dengan yang kita alami). Peran kita hanyalah memahami kondisi kita, tapi bukan memberikan diagnosis. 

Untuk memastikan kondisi kesehatan mental kita, berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater adalah langkah yang paling tepat. 

 

Photo created by jcomp - www.freepik.com