“Aku mau liburan ke Bali, nih.. mau healing, lagi hectic banget sama kerjaan..”

“Refreshing kali.. enggak boleh tau pakai istilang healing, healing kan buat pengobatan..”

“Masa, sih?” 

Belakangan ini, istilah healing menjadi kata yang cukup populer. Mereka yang penat akan pekerjaan, atau sekedar butuh hiburan singkat menggunakan kata healing sebagai ekspresi waktu menyendiri alias me time. Tak jarang juga kita menemukan kata ini sebagai ungkapan jeda waktu akibat kelelahan. Padahal, arti kata sebenarnya tak mengarah pada hiburan, sebaliknya healing digunakan untuk mereka yang sedang dalam pengobatan, salah satunya pengobatan secara mental. 

Healing itu sebenarnya apa, sih? 

Dalam kamus KBBI, healing berarti menyembuhkan. Erat kaitannya dengan proses penyembuhan dari luka batin dan pemulihan yang umumnya terjadi akibat gangguan psikologis, trauma dari masa lalu baik yang disebabkan oleh diri sendiri maupun orang lain. Penjelasan lain yang dikutip dari situs mental health, verywellmind.com, healing secara emosi atau biasa disebut dengan emotional healing adalah sebuah porses memahami, membiarkan, menerima, dan mengintegrasi pengalaman pahit yang melibatkan emosi yang kuat dengan cara empati, regulasi diri, belas kasih diri, penerimaan diri, mindfulness, dan integrasi. Intinya, healing adalah salah satu bagian dari berdamai dengan diri.

Banyak orang yang ingin segera ‘sembuh’ dari luka dengan menekan rasa sakit (bahkan mengabaikan) dengan berusaha mengontrol emosinya, padahal proses healing butuh waktu yang mungkin tak singkat apalagi untuk luka yang dalam. 

Siapa saja yang butuh healing?

Kita semua butuh emotional healing dalam hidup, karena tak bisa dipungkiri kita pasti pernah menghadapi tantangan dan emosi, serta rintangan yang tak mudah. Bagi sebagian orang, healing dibutuhkan ketika melewati masa sulit seperti:

  • Kematian orang terdekat
  • Perceraian 
  • Perpisahan 
  • Pelecehan (termasuk pelecehan emosi, fisik, maupun seksual) 
  • Menderita suatu penyakit 

Selain itu, kita mungkin juga butuh healing saat melewati amarah, kesedihan, atau cemas berlebihan yang mengganggu rutinitas kita. Proses healing tentu akan berbeda di tiap kasus dan kondisi yang dihadapi, ya. 

Ketika butuh healing, apa yang bisa kita lakukan? 

1. Terapi 

Proses healing tak selamanya mudah, bahkan perjalanannya kadang sangat sulit. Berbicara dengan konsultan kesehatan mental adalah solusi yang terbaik untuk bisa memantau perkembangan dan langkah apa yang bisa kita ambil untuk membuat proses penyembuhan menjadi lebih mudah. 

2. Berlatih mindfulness 

Ketika kita sedang melalui proses penyembuhan, akan sangat mudah untuk kembali mengingat masa lalu, merasakan luka sehingga sulit sekali untuk berdamai dengan diri dan bergerak maju. Dengan mindfulness, kita bisa fokus berada di satu momen sehingga tak tenggelam dalam luka masa lalu. Selain itu, membuat jurnal (journaling) juga bisa menjadi opsi. Ungkapkan semua rasa marah, sakit, sedih, kecewa sebagai bagian dari memproses emosi. 

3. Bergerak! 

Ya, ketika mengalami trauma atau dalam proses mengekspresikan rasa, bergerak bisa membantu melepas stres dalam tubuh. Terapis Peter A. Levine dalam bukunya “Waking the Tiger: Healing Trauma” mencontohkan hewan impala ketika lari dari pemangsa akan menggetarkan tubuhnya untuk melepas trauma. Dengan menggerakkan tubuh lewat teknik terapeutik seperti Somatic Experiencing (SE) dan Trauma Release Exercise (TRE) bisa membantu proses healing dan menurunkan tingkat stres serta membantu kita yang mengalami stres, cemas, trauma atau PTSD. 

Healing BUKAN refreshing!

Karena proses penyembuhan atau healing tak sekadar pergi berlibur atau memanjakan diri di spa untuk melepas penat, bijak rasanya untuk kini menggunakan kata healing sesuai dengan arti sebenarnya. 

 

Artikel terkait:

 

Photo created by lifeforstock - www.freepik.com