Pernikahan tak serta merta membuat komunikasi dengan pasangan menjadi lebih mudah. Sering kali, topik penting (seperti keuangan, keluarga besar, keyakinan) menjadi sangat sensitif untuk dibahas sehingga cenderung dihindari. Sebaliknya, topik yang dianggap remeh dan wajar seperti menyuruh beli sesuatu, mengingatkan kebiasaan buruk, atau mengkritik bantuan pasangan mudah diungkapkan, tapi ternyata rentan membuat sakit hati. Artinya, apa yang kita katakan tidak efektif.

Hmm, lalu bagaimana sebaiknya?

Kita dan pasangan harus tahu cara berkomunikasi efektif dalam pernikahan. Efektif itu artinya apa yang kita sampaikan, dia paham. Jangan sampai, pasangan menganggap kita tukang mengeluh dan sumbu pendek, padahal intinya kita membutuhkan bantuannya untuk setidaknya mencuci piring atau main bersama anak. Karena itu, praktikkan prinsip komunikasi efektif berikut ini:

1. Lebih banyak menggunakan i-message

“Kamu kok liat HP terus sih kalo aku cerita?” cenderung membuat pasangan menyangkal dan merasa dituduh. Nah, gunakan i-message atau kata ganti “aku” alih-alih “kamu” agar pasangan paham apa yang kita inginkan tanpa merasa “diserang”. Contoh: “Aku sedih deh kalau pas aku cerita, kamu enggak perhatiin. Aku pengen kamu dengerin sebentar aja.”

2. Spesifik

Alias, fokus pada masalahnya. Kalau ingin bicara tentang ketidaksukaanmu akan kebiasaannya terlalu banyak mengkritik hal kecil, jangan bahas kebiasaan-kebiasaan dan sifat pasangan lain yang kamu tak suka, apalagi kesalahannya di masa lalu yang tak berkaitan dengan poin yang ingin kamu sampaikan.

3. Dengarkan, bukan menunggu giliran bicara

Banyak yang seolah mendengarkan, tapi ternyata hanya menunggu giliran untuk bicara dan membela diri. Jadi, coba mendengar secara aktif (active listening) dengan cara menatap mata, mengangguk atau mengucap “ya”/”he-em” untuk menunjukkan kita paham, tidak melakukan hal lain, juga bertanya jika memang kita membutuhkan lebih banyak informasi.

4. Hindari mencoba membaca perasaan

Siapa yang enggak sebel kalau pasangan sok tahu tentang apa yang kita rasakan? Jadi, sebaiknya tanyakan langsung untuk memastikan dugaan kita memang benar atau hanya perasaan kita saja. Kita pun demikian, jangan menganggap pasangan paham dengan “kode” yang kita kirim dan berharap mendapat respon tertentu. Katakan saja.

5. Ungkapkan perasaan positif

Komunikasi itu enggak cuma mengungkapkan hal “sulit” atau masalah, namun juga perasaan positif seperti apresiasi, respek, kekaguman, persetujuan. Melakukan hal ini bisa mengisi “rekening cinta”, lho!

Rekening cinta?

Yap, rekening cinta akan seimbang jika kamu mengungkapkan 5 perasaan positif untuk tiap 1 perasaan negatif. Ini membuat pasangan lebih mudah empati saat kamu mengalami masalah. Tapi, kalau kamu terlalu banyak mengeluh, mengkritik, dan perasaan negatif lain hingga jumlahnya melebihi yang positif, bersiaplah menghadapi pasangan yang “kebal” dengan semua perasaanmu.

 

Artikel terkait:

 

Photo created by Lifestylememory - www.freepik.com