“Kayaknya kamu makin gemuk deh, Yang. Kalau sampe obesitas, nanti bisa susah hamil, lho. Belum lagi jadi gampang kena diabetes,” ingat seorang pria pada calon istrinya. Memang benar, obesitas memicu sejumlah masalah, tapi gemuk tak serta merta membuat kita obesitas, lho. Untuk memastikan kita memang obesitas atau sebaliknya, underweight, kita perlu mengacu pada perhitungan Indeks Massa Tubuh atau body mass index. 

Apa itu indeks massa tubuh?

Indeks massa tubuh (IMT) adalah perkiraan lemak tubuh yang berdasar pada tinggi dan berat badan. IMT dapat menentukan apakah seseorang mempunyai berat badan yang ideal atau tidak.

IMT ini dapat berguna sebagai salah satu alat deteksi yang bisa menandakan apakah berat badan seseorang termasuk normal, kurang, berlebih, atau bahkan obesitas. Kekurangan dan kelebihan berat badan sama-sama membawa risiko kesehatan. Mereka yang kelebihan berat badan dan obesitas risiko terkena penyakit diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan gangguan kardiovaskular. 

Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menunjukkan bahwa tingkat obesitas pada orang dewasa meningkat dari 14,8% menjadi 21,8% dan prevalensi berat badan berlebih juga meningkat dari 11,5% di 2013 ke 13,6% di 2018. 

Kondisi pandemi COVID-19 mungkin bisa meningkatkan lagi angka tersebut mengingat masyarakat jadi lebih banyak di rumah, lebih banyak mengakses gadget, layanan pesan antar makanan, dan kurang gerak. Tak heran, 25,1% penderita obesitas usia dewasa di Indonesia hidup di perkotaan, yang erat dengan gambaran tersebut. 

Jika kita merasa aktivitas sehari-hari kita tak jauh dari kesibukan dan kurang gerak, ditambah sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, gula, garam, tak ada salahnya menghitung Indeks Massa Tubuh.

Sulitkah menghitung Indeks Massa Tubuh?

Menghitung Indeks Massa Tubuh sebenarnya sangat mudah, namun ada dua metode yang bisa kita gunakan, yaitu:

1. Menghitung IMT dengan rumus 

Menghitung IMT dengan rumus ini merupakan metode manual yang bisa kita lakukan. Caranya, ukur berat badan kita (dalam kilogram) dan ukur tinggi badan (dalam meter). Setelah itu, bagi berat badan kita dengan kuadrat tinggi badan kita. Jika tinggi badan kita masih dalam satuan cm, ubah ke satuan m. 

2. Kalkulator Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI) 

Ini artinya kita langsung bisa memasukan angka berat badan dan tinggi badan kita kedalam aplikasi atau kalkulator online yang dapat kita temukan dalam berbagai website layanan kesehatan dan aplikasi yang bisa kita unduh di Playstore, sehingga bisa digunakan di ponsel. 

Bagaimana cara membaca hasil perhitungan IMT? 

Orang dewasa berusia 20 tahun ke atas baik laki-laki maupun wanita dapat membaca hasil IMT mereka berdasarkan kategori berikut:

< 18,5 Berat badan kurang

18.5 – 24.9 Biasa

25,0 – 29,9 Kegemukan

> 30.0 Obesitas

IMT yang tinggi bisa menjadi pertanda terlalu banyak lemak pada tubuh, sedangkan IMT yang rendah bisa menjadi pertanda terlalu sedikit lemak pada tubuh. 

Semakin tinggi IMT kita, semakin besar peluang kita memiliki faktor risiko penyakit seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Namun, IMT yang sangat rendah juga dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk pengeroposan tulang, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan anemia.

Yuk, mumpung masih di awal tahun, jadikan IMT-mu ideal supaya terhindar dari bermacam penyakit di masa depan!

 

 

Photo created by drobotdean - www.freepik.com