Mungkin kita sudah tahu bahwa salah satu persiapan menikah adalah melakukan tes kesehatan pranikah. Bahkan, sejak Maret 2022, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Kementerian Agama mewajibkan calon pasangan pengantin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan 3 bulan sebelum pernikahan. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah stunting atau kurang gizi kronis pada anak yang dilahirkan kelak.

Mengapa harus 3 bulan sebelumnya?

Dalam YouTube Live “Persiapan Esensial sebelum Menikah”, Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG menjelaskan bahwa sebanyak 37% remaja putri di Indonesia terkena anemia. Bahkan, angkanya meningkat saat mereka hamil, di mana 48% ibu hamil mengalami anemia.

Anemia adalah kurangnya sel darah merah sehat (hemoglobin) yang bertugas memasok oksigen ke sel-sel tubuh. Akibatnya, jaringan tubuh tak dapat berfungsi normal dan ini dapat menghambat perkembangan bayi dalam kandungan.

“Setiap bulan, wanita kehilangan darah melalui menstruasi kurang lebih 250cc. Jika tak diimbangi dengan makan makanan bergizi seimbang, terjadilah anemia,“ jelas Hasto. 

Untuk memperbaiki kondisi anemia, diperlukan konsumsi tablet tambah darah. Dan, waktu yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melakukannya adalah setidaknya 90 hari atau sekitar 3 bulan.

Jadi, tes kesehatan pranikah hanya untuk melihat kadar Hb aja?

Tentu tidak. Ada 4 indikator minimal yang digunakan untuk melihat kondisi kesehatan calon pengantin, yaitu:

  • Tinggi badan
  • Berat badan
  • Lingkar lengan atas (minimal 23,5 cm)
  • Kadar Hb (minimal 12 g/Dl untuk wanita dan 13 g/dL untuk pria)

Dari tinggi dan berat badan, kita bisa tahu apakah Indeks Massa Tubuh kita ideal, kurang, atau berlebih. 

Kalau ternyata kurang (juga ketika lingkar lengan atas kita di bawah 23,5 cm), waktu 3 bulan diharapkan bisa cukup untuk memperbaiki gizi kita sehingga saat menikah nanti tubuh kita siap memberi bibit terbaik untuk pembuahan. 

Kalau berlebih? Tetap harus diusahakan mencapai berat badan ideal ya! Karena, ini risikonya kalau calon istri dan calon suami obesitas.

Berarti, calon pengantin wanita aja ya yang harus tes?

Untuk calon pengantin pria, kondisi kesehatan juga perlu diperiksa untuk menentukan apakah sperma bisa diproduksi dengan baik atau tidak. Dalam tes kesehatan pranikah, kebiasaan merokok juga mejnadi salah satu poin yang ditanyakan. Alasannya, kualitas sperma pria perokok kurang baik. Rata-rata, sperma membutuhkan waktu 73-75 hari untuk berproduksi. Sehingga, 3 bulan dirasa masih aman untuk perbaikan kesehatan (termasuk mengurangi atau berhenti merokok) jika hasil pemeriksaan kurang baik.

Kalau enggak salah, tes kesehatan pranikah di rumah sakit atau laboratorium swasta lebih banyak dari ini, deh. 

Betul, empat poin pemeriksaan tadi hanyalah tes minimal untuk memeriksa kondisi kesehatan sebelum menikah. Jika ada dana lebih, akan sangat dianjurkan untuk melakukan tes yang lebih lengkap, yang mencakup pemeriksaan darah lengkap, tes urin, tes HIV dan sifilis, tes TORCH, tes golongan darah dan rhesus, juga deteksi hepatitis B. Baca penjelasan lengkapnya di sini.

Jadi, siapkan diri untuk tes kesehatan pranikah jauh-jauh hari, minimal 3 bulan sebelumnya, ya!

 

Artikel terkait:

Photo created by azerbaijan_stockers - www.freepik.com