“Kecanggihan teknologi, godaan laptop dan ponsel yang yang seolah tak ingin dilepaskan, hingga makin tak jelasnya garis batas antara rumah dan kantor menjadi tantangan mereka yang hidup di zaman modern seperti saat ini,” ujar Deborah Hacker, seorang terapis di Boca Raton, AS. Kita yang mengalaminya mungkin tak sadar bahwa kecanduan kerja atau workaholic semacam itu ternyata bisa memicu masalah dalam hidup (bukan dalam karir), khususnya pada keluarga dan hubungan asmara, baik untuk para lajang maupun yang sudah menikah.

Kecanduan kerja tak ubahnya kecanduan alkohol

Ya, penelitian menunjukkan bahwa workaholic ternyata sangat mirip karakteristiknya dengan seorang alcoholic, hanya saja dalam bentuk berbeda. Dalam penelitian tahun 2001 tersebut, ditemukan fakta bahwa workaholic adalah suatu bentuk kecanduan dan obsessive compulsive disorder (OCD). OCD sendiri adalah suatu gangguan mental yang membuat penderitanya memiliki pikiran dan dorongan yang berulang, yang tak dapat dikendalikan.

Seperti apa sebenarnya ciri orang workaholic?

Workaholic dapat diartikan sebagai orang yang terobsesi dengan pekerjaannya, haus akan kekuasaan dan kontrol untuk mendapat pengakuan orang lain dan dianggap sukses. Dorongan ini tak lagi dapat dikendalikan dan bisa menggerogoti kondisi emosionalnya. Orang workaholic layaknya hidup dalam putaran roda hamster, lompat dari plan A ke plan B, punya tujuan atau target ambisius yang tak dapat diganggu gugat. Ia menganggap bahwa nilai dirinya ada di pekerjaannya.

Dalam kondisi ini, tak ada yang lebih penting dari pekerjaannya, baik itu kesehatan, keluarga, bahkan pasangan.

Akibatnya, pasangannya merasa diabaikan, terkucilkan, bahkan bersalah, membuat hubungan pernikahan maupun asmara semacam ini menjadi “hubungan semu”.

Bagi yang sudah memiliki anak, kecanduan kerja bisa lebih parah dampaknya daripada kecanduan alkohol mengingat workaholic tidak terlihat seperti masalah. Yang terlihat oleh anak hanyalah “ayah/ibu sibuk bekerja”. Padahal, “cinta mati”nya pada karir membuatnya menarik diri dari pengasuhan anak. 

Dalam laman Psychology Today bahkan disebutkan bahwa workaholic dapat mengubah kepribadian dan nilai/prinsip hidup seseorang, mengancam “rasa aman” dalam keluarga, hingga menyebabkan perceraian. Lambat laun, ia pun kehilangan integritasnya secara personal maupun profesional.

Tapi, saya itu pekerja keras, bukan workaholic.

Bekerja keras beda dengan kecanduan kerja. Pekerja keras masih bisa meluangkan hati dan waktu untuk keluarga, teman, dan lingkungan sosialnya. Kalaupun ada pekerjaan yang membutuhkan waktu ekstra, maka ia akan mengatur waktunya hingga pekerjaan tersebut bisa selesai tanpa harus banyak mengorbankan keluarga maupun prioritas lain dalam hidupnya. Dan, seorang pekerja keras masih bisa memiliki “pagar” antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Sementara itu, seorang workaholic tak sebijaksana ini dalam mengatur hidup dan pekerjaannya. Ia sangat terobsesi dengan performa kerjanya, menganggap dirinya penting, tak mau memiliki prestasi stagnan sehingga selalu meninggikan targetnya saat ia berhasil mencapai target sebelumnya. Dengan kondisi semacam ini, ia bisa makan, bicara, berjalan dengan cepat, dan cenderung memiliki jadwal yang kelewat padat. Meski tampak sempurna di luar, seorang workaholic lambat laun bisa mengalami kecemasan karena selalu ingin mengontrol semuanya dan terlalu perfeksionis untuk bisa mendelegasikan pekerjaannya ke orang lain. Gangguan tidur, serangan panik, dan depresi bisa menjadi dampaknya.

Jika ia sudah berkeluarga, kecemasan dan depresinya ini pun akan berdampak pada kesehatan mental anak dan pasangannya, yang kelak dapat menjadi masalah saat anaknya dewasa. Tak heran, survei yang dilakukan oleh asosiasi pengacara keluarga di AS menunjukkan bahwa karir menduduki peringkat 4 penyebab perceraian di Amerika.

Lalu, bisakah workaholic disembuhkan?

Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan jika ingin berhenti menjadi seorang workaholic menurut Bryan Robinson, psikoterapis jebolan University of North Carolina yang dulunya juga menderita kecanduan kerja, yaitu:

  1. Buat batasan jelas antara pekerjaan dan rumah
  2. Berani berkata tidak jika ada pekerjaan di luar kemampuan atau ketersediaan waktu kita
  3. Singkirkan alat bekerja segera setelah pekerjaan selesai
  4. Lakukan semua lebih perlahan (makan, bicara, berjalan, dll) dan mindful (penuh kesadaran) agar kita bisa menguasai ritme kerja tanpa harus menjadi budak teknologi dan pekerjaan
  5. Berbagi tugas dengan tim dan percaya bahwa semua tak harus kita lakukan sendiri
  6. Sediakan waktu untuk bersosialisasi dan lakukan secara rutin
  7. Mengusahakan work-life balance (keseimbangan antara pekerjaan dan rumah)
  8. Melakukan self-care (“merawat” diri secara fisik dan mental)
  9. Tak segan mencari pertolongan sebelum kecanduan pada pekerjaan merusak kesehatan dan hubungan kita dengan pasangan dan keluarga

Tak ada kata terlambat untuk mengevaluasi hubungan kita dengan pekerjaan dan keluarga. Jangan lupa juga, bagi para lajang, terlalu sibuk bekerja hingga mengabaikan kesehatan dapat berdampak pada kesehatan keturunan kelak. Baca penjelasannya dalam artikel Catatan Penting untuk Kesehatan Si "Workaholic".

 

Photo created by lookstudio - www.freepik.com