Setiap orang pasti pernah mengalami rambut rontok. Ada yang rambutnya rontok hingga berserakan di lantai dan memenuhi sisir, namun ada juga yang hanya nampak beberapa helai. Lalu, rambut rontok sebanyak apakah yang masih dianggap wajar? Dan, bagaimana caranya agar rambut tidak rontok?

Kerontokan rambut biasanya bukan hal yang perlu dikhawatirkan, tetapi bisa membuat malu yang akhirnya mengikis kepercayaan diri. Ini dapat terjadi baik pada laki-laki maupun wanita. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), seseorang biasanya kehilangan antara 50 sampai 100 helai rambut sehari. Tapi, hal ini tidak akan terlalu terlihat karena normalnya terdapat sekitar 100.000 helai rambut di kepala kita. Selain itu, rambut baru pun akan menggantikan rambut yang rontok.

Kok bisa sih rambut rontok?

Ternyata, rambut itu punya tahapan tumbuh tersendiri, lho. Ada tiga tahapan rambut dari mulai tumbuh sampai rontok, yaitu:

1. Fase anagen (fase tumbuh), berlangsung dari dua tahun hingga delapan tahun. Fase ini umumnya terjadi pada sekitar 85% hingga 90% rambut di kepala.

2. Fase catagen (fase transisi) adalah waktu ketika folikel rambut menyusut dan memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.

3. Fase telogen (fase istirahat) memakan waktu sekitar dua hingga empat bulan. Pada akhir fase inilah rambut akan rontok.

Tak hanya rambut di kepala, di bagian tubuh kita yang lain pun ada rambut yang tumbuh. Nah, masing-masing mempunyai waktu yang berbeda untuk rontok. Rambut kita yang lebih pendek seperti bulu mata, rambut lengan dan kaki serta alis memiliki fase anagen pendek, yaitu sekitar satu bulan. Sedangkan, rambut kulit kepala kita bisa bertahan hingga enam tahun atau bahkan lebih lama.

Berarti, semua rambut rontok itu wajar?

Jika rontok karena fase seperti di atas dan jumlahnya tak lebih dari 100 helai per hari, kita tak perlu khawatir. Nah, kita perlu waspada ketika rambut rontok lebih dari 100 helai dalam sehari.

Apa penyebab rambut rontok berlebihan?

1. Riwayat keluarga (keturunan)

Penyebab paling umum dari kerontokan rambut adalah kondisi keturunan yang terjadi seiring bertambahnya usia. Kondisi ini disebut androgenic alopecia, pola kebotakan pria, dan pola kebotakan wanita. Biasanya, ini terjadi secara bertahap dan dalam pola yang dapat diprediksi yaitu rambut yang menipis di sepanjang ubun-ubun kulit kepala pada wanita.

2. Perubahan hormonal dan kondisi medis

Berbagai kondisi dapat menyebabkan kerontokan rambut permanen atau sementara, termasuk perubahan hormonal akibat kehamilan, persalinan, menopause, dan masalah tiroid. Kondisi medis termasuk alopecia areata, yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan menyebabkan kerontokan rambut yang tidak merata, infeksi kulit kepala seperti kurap, dan gangguan mencabut rambut yang disebut trikotilomania.

Baca: Masalah Kesehatan Wanita Usia 30-an, dari Rambut Rontok hingga Kanker Serviks

3. Obat-obatan dan suplemen

Rambut rontok bisa menjadi efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti yang digunakan untuk mengobat sakit kanker, arthritis, depresi, masalah jantung, asam urat dan tekanan darah tinggi.

4. Terapi radiasi di kepala

Rambut mungkin tidak tumbuh kembali sama seperti sebelumnya akibat sinar radiasi.

5. Peristiwa yang sangat menegangkan

Banyak orang mengalami penipisan rambut secara umum beberapa bulan setelah kejutan fisik atau emosional. Jenis kerontokan rambut ini bersifat sementara.

Baca: Tonic Immobility, Alasan Korban Kekerasan Seksual Tak Sanggup Melawan

6. Gaya rambut dan perawatan

Penataan rambut berlebihan atau gaya rambut yang menarik rambut kita pun juga bisa menjadi sebabnya, seperti sering menguncir atau mengikat rambut terlalu kencang. Penggunaan bahan kimia seperti pewarna rambut juga bisa menyebabkan kerontokan. 

Kapan harus ke dokter?

Kebanyakan orang tak terlalu khawatir akan kerontokan rambut. Namun, ada saatnya kita harus waspada yaitu bila rontok rambut terjadi terus menerus dan mulai menyebabkan rambut tipis apalagi sampai menyebabkan kebotakan. Biasanya, dokter akan melakukan perawatan pada rambut kita untuk menghindari kebotakan permanen yang signifikan.

 

Photo created by diana.grytsku - www.freepik.com