Sebut saja dia, Lily. Lily dan pasangan sebelum menikah, pernah melakukan long distance relationship alias LDR selama 4 tahun. Enggak jauh sih, hanya Bandung-Jakarta. Di tahun 2011, suami Lily harus bekerja di Papua sementara Lily menetap di Bandung. Dari 2011 hingga sekarang, Lily dan suami masih berhasil menjalani long distance marriage (LDM). 

Serupa cerita dengan Lily, namun berbeda kondisi -Peony, awalnya ikut suami bekerja dan berpindah-pindah kota. Ketika memiliki anak kedua, Peony merasa hidup berpindah-pindah memiliki dampak pada putranya yang memiliki kebutuhan khusus. Ia butuh tempat tinggal yang tetap supaya kedua anaknya bisa tumbuh kembang secara stabil dan nyaman. Akhirnya, Peony pun memutuskan untuk tinggal terpisah dengan suami. Kini, di 12 tahun pernikahannya mereka masih melakukan long distance marriage. 

“Kalau bisa bersama, kenapa memutuskan untuk tinggal terpisah?”

Ada banyak alasan pasangan memutuskan untuk tinggal terpisah. Bisa jadi keduanya bekerja dan terikat kontrak dengan perusahaan pada kurun waktu tertentu sehingga resign bukan menjadi pilihan. Ada pula yang alasannya terkait dengan perkembangan anak, seperti Peony. Ketika membutuhkan kestabilan dalam keseharian, LDM bisa jadi pilihan terbaik. 

Lain halnya dengan Lily. Tempat tinggalnya sekarang adalah zona amannya, membesarkan anak-anak dengan lingkungan yang aman (dibandingkan dengan lokasi tempat kerja suaminya) membuat Lily dan suami mantap memutuskan untuk tinggal terpisah. 

"Sulitkah mengambil keputusan itu?”

Tentu saja, sulit. Menurut suami Lily, kondisi LDM sebenarnya memang bukan tipe ideal keluarga, namun kualitas hidup dan keamanan lah yang jadi prioritas dalam keputusan mereka. Situasi kota tambang dan daerah konflik tentu berbeda dengan kota pada umumnya di Indonesia. Apalagi ada kemungkinan insiden keamanan, seperti penembakan dan pembunuhan yang cukup lazim terjadi. Menjaga anak-anak dari kemungkinan terburuk, dengan menempatkannya di wilayah yang aman adalah pilihan yang realistis. 

“Saat berjauhan, gimana menyiasati konflik rumah tangga?”

Untungnya, kini teknologi semakin canggih. Ibaratnya, walau kulit tak saling bersentuhan tapi dengan melihat dan berkomunikasi langsung tatap muka melalui video call misalnya, akan membuat semua terasa lebih mudah. 

 “Lebih enak kalau jarak jauh, jadi kalau lagi “ngambek” punya waktu menyendiri dulu,” aku Peony. Pun dengan berjauhan, justru kita lebih minim konflik karena berusaha saling menjaga. 

“Ada enggak sih, dampaknya ke anak?

“Awalnya mungkin perlu adaptasi, mereka belajar mengerti bahwa kualitas hubungan dengan orang tuanya tidak sebatas kontak fisik. Ayahnya selalu ada kapanpun anak-anak butuh. Memang, sih.. kalau ada acara sekolah, enggak selalu bisa hadir keduanya. Begitu juga acara keluarga. Walau Ayahnya berusaha untuk selalu hadir di setiap momen besar, ada kalanya ia tak bisa datang karena alasan pekerjaan. Wajar saja, karena dengan orang tua yang tinggal bersama pun enggak semuanya bisa punya waktu. Intinya ada di komunikasi, selama komunikasi terjalin lancar, anak tak akan kehilangan sosok salah satu orang tuanya. Oh, satu lagi liburan bersama harus selalu ada di agenda, ya!” saran Lily.  

“Apa yang membuat LDM bisa terjaga dengan baik?”

Komunikasi, kepercayaan dan komitmen. Tiga hal yang paling penting saat berhubungan (baik dekat maupun jauh). Saat memutuskan untuk LDM, buat kesepakatan bersama apa saja hal yang boleh dan sebaiknya tidak dilakukan untuk menjaga hubungan tetap baik. Walau dalam perjalanannya ada penyesuaian, setidaknya kita saling memahami keinginan dan kebutuhan satu sama lain. 

“Salah satunya nih, hindari deh curiga berlebih. Fokus apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga hubungan, alih-alih berpikir negatif yang hanya menguras tenaga dan emosi,” ujar Peony.   

Memilih untuk menjalani pernikahan jarak jauh memang bukan keputusan yang mudah, apalagi ada anak di dalamnya. Terkadang keputusan itu pun bukan yang kita inginkan, tapi kondisinya memang demikian. Selama kita bisa menjaga komunikasi, kepercayaan, dan komitmen, melakukan LDM bukan hal yang tak mungkin. Jadi, saat kondisi mengharuskan kita untuk berjauhan dengan pasangan, jangan langsung patah semangat dulu, ya! 

 

Artikel terkait:

 

Photo created by freepik - www.freepik.com