“Maaf ya, Sayang.. Kita sabar sampai halal, ya..” bisa jadi salah satu kalimat penolakan andalan ketika pacar mengajak kita untuk berhubungan seks. Mungkin bagi sebagian orang terdengar klise, apalagi zaman sekarang melakukan hubungan seksual sebelum menikah seolah menjadi hal yang wajar. Sungguh sangat disayangkan, karena tentunya kita ingin memberikan hal yang paling berharga kita pada dia yang benar-benar sudah memegang janji seumur sehidup semati lewat pernikahan yang sakral. 

“Tapi kalau ditolak, dia minta putus gimana?”

Bisa dipahami kita benar-benar sayang dengan dia dan ingin yang memberikan yang terbaik untuknya. Tapi, no, seks bukan salah satunya. Mengatakan tidak memang tak semudah itu. Kita bisa merasa cemas akan ditinggalkan, takut ia menganggap kita cupu, dan segala keraguan lainnya. Tapi, ketika kita di usia matang untuk berpacaran, kita perlu paham batasan. Apa yang boleh dilakukan dan tidak, dan apa konsekuensi jika kita melakukannya. Ketika ia meminta untuk memegang daerah sensitif, kita perlu tegas. 

Baca: Petting Tetap Bisa Sebabkan Kehamilan, Jangan Sepelekan

Gimana bilangnya ya, supaya dia tidak kecewa? 

Kecewa atau tidak, sayangnya kita tak bisa mengontrol perasaannya. Apalagi, jika ia sudah berhasrat melakukannya. Tapi, jika ia benar mencintai kita, ia akan mengerti dan mau menunggu hingga pernikahan. Seks adalah keputusan bersama. Jika kita merasa tidak nyaman kita boleh berkata tidak. Supaya tidak menyakiti hatinya, caranya perlu juga secara baik, ya.

1. Kaget boleh, tapi jangan ngegas

Bisa jadi ketika ia minta untuk berhubungan, kita sontak kaget, kecewa, bahkan marah. Alhasil, yang awalnya ingin bilang tidak secara baik-baik, malah jadi "ngegas". Ini yang perlu kita hindari. Sebagaimana dia perlu berempati dan menghargai keputusan kita, kita pun perlu menanggapi secara halus. Katakan dengan nada lembut, bahwa kita belum bisa dan tidak mau melakukannya sebelum sah dalam pernikahan. 

2. Ketegasan kita justru punya nilai lebih di matanya

Jangan selalu berpikir, kalau apa yang kita yakini (yang mungkin tak sejalan dengannya) menjadi nilai minus di matanya. Padahal, dengan kita yang tegas dengan pendirian dan nilai-nilai yang kita pegang, justru mungkin malah bisa membuatnya yakin dengan kita dan lebih menghargai kita. Kuncinya, jangan ragu dengan pendirian kalau memang berhubungan seks sebelum menikah tidak kita inginkan. 

3. Hindari seks, hindari juga pemicunya 

Meminta berhubungan seks biasanya jarang datang secara tiba-tiba. Pria lebih mudah terbawa suasana untuk melakukan seks dengan kondisi yang mendukung. Jadi, kalau mau menghindari seks, hindari juga pemicunya. Jangan berduaan di tempat sepi, hindari bertemu hanya berdua di rumah (atau tempat tinggalnya), juga cari waktu nonton di bioskop yang tidak terlampau malam hingga harus pulang larut, serta hindari juga liburan berduaan saja yang bisa “memancing situasi”.

Baca: Aktivitas Pacaran Ini Jadi Pintu Gerbang Seks

4. “Main game bareng aja, yuk..” 

Terkadang seks itu bukan cuma sekedar menyalurkan nafsu, tapi juga bentuk kenyamanan bagi pria. Saat ia meminta berhubungan seks, bisa jadi ia hanya ingin dimanja oleh kita dan butuh perhatian lebih. Alihkan pikirannya dengan memberikan alternatif kenyamanan selain seks. Sekadar main game atau ngobrol berdua dengannya bisa jadi cara ampuh untuk si dia mengalihkan pikirannya. 

Tapi, ketika sudah sangat mengganggu maka berkata TIDAK dengan tegas adalah keharusan. 

Sudah pernah dibahas bersama, sudah jelaskan secara baik-baik, sudah berusaha dialihkan dengan bermacam cara, tapi si dia tetap “kekeuh” cenderung memaksa untuk melakukan seks maka kita boleh dengan tegas mengatakan TIDAK dan meninggalkannya. 

Ingat, ia yang tak bisa menunggu hingga meminang kita secara sah, berarti ia bukan pria yang terbaik. Ia hanya menginginkan fisik tanpa mengindahkan perasaan dan norma yang kita jaga. Pria seperti ini, tentu bukan pilihan. Katakan tidak dengan tegas! Kita layak mendapatkan pria yang lebih baik. 

 

Artikel terkait:

 

Photo created by cookie_studio - www.freepik.com