“Na, pernikahanku rasanya lagi datar banget deh..”

“Masa sih? Aku malah lagi senang-senangnya..”

“Ya iyalah, kamu kan baru nikah.. Nanti kalau udah 5 tahun kaya aku, baru deh tuh ngerasain bosen..” 

Bayangan kita dulu, menikah itu selalu menyenangkan. Bisa menjalani hidup berdua dengan orang yang kita cinta, tinggal di satu atap yang sama, dan selalu punya tempat kembali seusai menjalani hari yang melelahkan. Nyatanya, pernikahan tak hanya sekadar rasa. Selalu ada penyesuaian di perjalanannya, untuk menciptakan pernikahan yang harapannya hingga maut memisahkan. Ternyata juga, pernikahan punya tahapan yang akan kita jalani. Supaya enggak kaget dengan perjalanannya, selami dulu yuk apa saja sih 5 tahapan pernikahan yang mungkin kita alami. 

1. Masa-masa romantis ketika baru saja mengucap janji sehidup semati 

Enggak heran dong masa-masa bulan madu adalah masa yang terbaik mengawali pernikahan. Akhirnya, kita bisa merasakan intimasi bersama pasangan secara halal. Kalau dari tahapan pernikahan, ini disebut honeymoon phase  atau fase bulan madu di mana kita baru mengenal pasangan luar dalam dan bisa menerima kekurangannya karena sedang berbunga-bunga dan penuh dengan cinta.

Sayangnya, menurut Richard E. Lucas dari Michigan State University, masa ini akan berlangsung selama dua tahun sebelum akhirnya bisa memudar. Jadi, kita perlu menjaga percikan rasa supaya tak cepat bosan.

Alih-alih menghabiskan semua waktu terus menerus hanya dengan pasangan, kita mungkin bisa meningkatkan suasana dengan berbagi waktu dengan sahabat, atau melakukan aktivitas yang bisa dilakukan secara berkala dengan pasangan. Belajar fotografi bersama, misalnya. Atau, bisa juga tantang pasangan untuk ikutan kelas masak! 

2. Fase di mana kita mulai benar-benar mengenal pasangan luar dalam

Dan kenyataannya, tak semuanya indah sesuai harapan. Ia mulai menampakkan dirinya yang mungkin tak sejalan dengan kita. Kita yang ingin semua serba rapi, ia yang lupa menjemur handuk setelah mandi. Ia yang senang berdebat, ketika kita hanya ingin diam saat tak sejalan. Belum lagi, kita yang mulai ingin keluar dari zona nyaman, dan kembali seperti saat sebelum menikah: bebas bereksplorasi (yang mungkin sekarang tak bisa dilakukan). 

Intinya, bayangan akan pernikahan yang selalu bahagia selamanya tanpa usaha kian memudar dan jauh dari realita. Tapi, bukan berarti ini adalah akhir dari segalanya. Saat tahapan ini terjadi, komunikasi adalah kunci! Kita butuh teknik komunikasi yang tepat agar apa yang ingin disampaikan tepat sasaran dan tidak memaksakan kehendak. Ingat, pernikahan adalah menggabungan dua kepala yang berbeda bukan berarti menjadi tidak sejalan. Fokus pada hasil akhir yang menguntungkan untuk bersama, bukan hanya sebelah pihak. Butuh usaha untuk menciptakan hubungan yang harmonis.

3. Akhirnya kita bisa saling memahami dan menerima.. 

Di tahapan ini akhirnya kita bisa menerima pasangan sebagai individu yang unik, alih-alih berharap ia berubah. Kita sudah bisa lebih menghargai pasangan dan tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Ya, semua sudah berjalan nyaman. Tanpa pertengkaran, tanpa keributan. Sayangnya, terlalu nyaman juga bisa bikin bosan lho. Cari kegiatan bersama yang bisa memupuk kembali percikan. Bulan madu lagi? Bisa dicoba! 

4. Komitmen di atas segalanya 

Tak ada pasangan yang sempurna, atau hubungan yang ideal. Kita sudah mengenal pasangan dengan baik dan memilih untuk memegang komitmen dengannya. Kita sudah pintar berkomunikasi dan lanjut menjalankannya. Suka dukanya, sudah terlewati bersama. Tapi, kita perlu juga bahagia dengan komitmen yang dijalani. Jangan sampai, kita hanya berpegang pada komitmen tapi luput dari rasa. Lagi-lagi percikan asmara itu perlu, lho!

5. Ya, saya menerima kamu apa adanya.. dan mencintaimu juga karena kekuranganmu

Ini adalah tahapan menerima, atau biasa disebut tahapan cinta sejati. Walau menurut penelitian The Relationship Institute kurang dari 5% yang berhasil melewati fase ini tapi bukan tak mungkin untuk kita mencapainya. 

Ini adalah masa di mana pasangan sudah paham betul karakter dan watak pasangannya, menerima kekurangannya, dan bahkan mencintai kekurangannya. Tahap dimana kita memutuskan untuk tetap bersama pasangan, dengan semua kekurangan yang dimilikinya. 

Menurut dr. Sylvia Detri Elvira, SpKJ(K) mengenal pasangan secara baik dari sejak sebelum menikah, memiliki tujuan dan cita-cita yang sama serta saling berbagi peran sebagai pasangan, partner, sahabat dan tim dalam pengasuhan akan membuat tahapan pernikahan menjadi lebih mudah untuk dijalani. Tak harus selalu sejalan, tapi bisa menyikapi perbedaan dan menerimanya dengan lapang dada adalah kunci keberhasilan pernikahan (dalam semua tahapan!). 

Meskipun demikian, kita tetap harus memiliki nilai keluarga (family values) yang disepakati bersama dengan pasangan. Nilai keluarga juga sangat penting sebagai kompas dalam pengasuhan anak. Belum pernah membicarakan hal ini dengan pasangan? Baca rangkaian artikel berikut agar kita bisa segera membuat nilai keluarga dengan pasangan dan menghindari perbedaan prinsip.

 

Photo created by pch.vector - www.freepik.com