Ingatkah kita tanggal berapa terakhir kali menstruasi? Kemungkinan besar, banyak yang tidak ingat. Asalkan menstruasi tiap bulan sudah cukup. Padahal, mengetahui tanggal menstruasi sangat penting untuk menentukan perhitungan siklus menstruasi. Dengan mengetahui berapa panjang siklus menstruasi kita, kita bisa melihat normal tidaknya menstruasi yang kita alami. Memangnya, berapa lama panjang siklus menstruasi yang normal?

Panjang siklus menstruasi kita dihitung dari hari pertama menstruasi hingga hari sebelum periode berikutnya dimulai. Panjang rata-rata siklus menstruasi adalah 21-35 hari, tetapi ini dapat bervariasi pada tiap orang. Panjangnya pun bisa berbeda dari satu siklus ke siklus berikutnya. Namun, siklus menstruasi cenderung memendek dan menjadi lebih teratur seiring bertambahnya usia.

Berarti, siklus menstruasi bukan lamanya menstruasi ya?

Betul. Durasi menstruasi menunjukkan lamanya kita mengalami menstruasi, yaitu 2-7 hari. Sementara, siklus menstruasi adalah jarak berulangnya menstruasi.

Meskipun demikian, siklus menstruasi sebenarnya tak hanya masalah hitungan hari, namun merupakan serangkaian proses yang lebih “besar”, yaitu persiapan kehamilan. 

Agar lebih paham, inilah yang terjadi selama siklus menstruasi, yang bisa dibagi dalam 4 fase:

1. Fase menstruasi

Setiap bulan, salah satu indung telur melepaskan sel telur, yang disebut sebagai ovulasi. Pada saat yang sama, perubahan hormonal mempersiapkan rahim untuk hamil, dengan cara menebalkan dinding rahim yang nantinya akan siap untuk ditempeli sel telur yang telah dibuahi sel sperma (implantasi). 

Jika ovulasi terjadi dan sel telur tidak dibuahi, lapisan rahim yang sudah menebal tadi akan luruh dan darahnya akan dikeluarkan melalui vagina. Inilah yang disebut dengan periode menstruasi. Fase menstruasi adalah tahap pertama dari siklus menstruasi. 

Pada saat ini, kadar hormon estrogen dan progesteron turun.

Saat fase menstruasi ini kita mungkin memiliki gejala seperti kram perut, nyeri payudara, kembung, mual, perubahan suasana hati, cepat marah, pusing, kelelahan, nyeri punggung, dll. 

Ingin mengatasi nyeri saat menstruasi tanpa obat? Berikut caranya.

2. Fase folikular

Fase folikular dimulai pada hari pertama menstruasi. Fase folikular ini terjadi berbarengan dengan fase menstruasi dan berakhir saat ovulasi. Fase folikel rata-rata berlangsung selama sekitar 16 hari. Ini dapat berkisar dari 11 hingga 27 hari, tergantung pada siklus dan kondisi tubuh kita.

Fase ini dimulai ketika hipotalamus pada otak mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari kita untuk melepaskan hormon perangsang folikel (FSH). Hormon ini merangsang ovarium kita untuk menghasilkan sekitar 5 hingga 20 kantung kecil yang disebut folikel. Setiap folikel mengandung sel telur yang belum matang. Uniknya, hanya telur yang paling sehat yang pada akhirnya akan matang. Selain itu, folikel yang matang memicu lonjakan estrogen yang mengentalkan lapisan rahim kita. Ini menciptakan lingkungan yang kaya nutrisi bagi embrio untuk tumbuh.

3. Fase ovulasi 

Meningkatnya kadar estrogen selama fase folikular memicu kelenjar pituitari kita untuk melepaskan luteinizing hormone (LH). Inilah yang memulai proses ovulasi. Ovulasi adalah saat ovarium kita melepaskan sel telur yang matang. Sel telur berjalan menuruni tuba falopi menuju rahim untuk dibuahi oleh sperma. Nah, fase ovulasi adalah satu-satunya waktu selama siklus menstruasi ketika kita mungkin bisa hamil. 

Ovulasi terjadi sekitar hari ke-14 jika kita memiliki siklus 28 hari, waktu ini adalah tepat di tengah siklus menstruasi. Fase ovulasi ini berlangsung sekitar 24 jam. Setelah sehari, sel telur akan mati atau larut jika tidak dibuahi. Salah satu tanda bahwa kita sedang mengalami fase ovulasi yaitu dengan gejala seperti suhu tubuh yang agak naik dan adanya keputihan yang agak kental. 

Baca: Hitung Masa Subur Lebih Mudah dengan Aplikasi Menstruasi

4. Fase luteal 

Fase luteal berlangsung selama 11 hingga 17 hari . Setelah folikel melepaskan telurnya, ia berubah menjadi korpus luteum. Struktur ini melepaskan hormon, terutama progesteron dan beberapa estrogen. Peningkatan hormon membuat lapisan rahim kita tebal dan siap untuk ditanam oleh telur yang sudah dibuahi.

Jika kita hamil, tubuh kita akan memproduksi human chorionic gonadotropin (hCG). Ini adalah hormon yang dideteksi saat tes kehamilan. Ini membantu menjaga korpus luteum dan menjaga lapisan rahim tetap tebal.

Jika kita tidak hamil, korpus luteum akan menyusut dan diserap kembali oleh tubuh. Hal ini menyebabkan penurunan kadar estrogen dan progesteron, yang menyebabkan timbulnya menstruasi. Lapisan rahim akan luruh selama periode menstruasi. 

Baca: 7 Mitos Menstruasi yang Perlu Diluruskan

Apakah siklus menstruasi bisa berubah?

Bisa. Siklus menstruasi kita dapat berubah selama waktu-waktu tertentu dalam hidup. Keadaan ini bisa terjadi saat kita mendekati masa menopause. Pastinya akan ada perubahan siklus menstruasi yang terjadi.

Oh iya, penggunaan jenis kontrasepsi tertentu, seperti pil KB, suntik KB, implan, dan juga IUD juga dapat menyebabkan  perubahan siklus menstruasi, lho.

Memiliki penyakit tertentu ternyata juga bisa loh mengubah siklus mentruasi, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan fibroid uterus.

Nah, salah satu cara untuk mengetahui apakah kita mengalami masalah dengan siklus menstruasi kita adalah dengan melacak menstruasi kita. Tuliskan kapan menstruasi mulai dan berakhir. Catat juga setiap perubahan pada jumlah darah saat menstruasi atau jumlah hari saat menstruasi. Untuk lebih lanjut bisa baca artikel ini.

Apa yang memengaruhi panjang pendeknya siklus menstruasi?

Siklus mentruasi merupakan suatu proses yang sangat kompleks, karena dipengaruhi oleh banyak kelenjar dan hormon. Siklus menstruasi juga merupakan sistem biofeedback, yang berarti setiap struktur dan kelenjar dipengaruhi oleh aktivitas yang lain. Panjang pendeknya siklus menstruasi pastinya sangat dipengaruhi oleh hormon tubuh kita, terutama hormon esterogen, progesteron, FSH dan LH.

Mengetahui siklus mentruasi kita akan lebih paham lagi dengan apa yang terjadi di dalam tubuh kita. Dengan begitu, kita akan memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh kita, baik perubahan fisik maupun perubahan perilaku. 

 

Photo created by freepik - www.freepik.com