Bagi yang belum menikah, mendengar istilah kesehatan reproduksi langsung terbayang alat vital, pubertas, maupun hubungan seks. Setelah menikah, pemahaman tersebut lebih banyak menyangkut kehamilan dan persalinan. Sayangnya, wanita lebih merasa terhubung dengan masalah kesehatan reproduksi daripada pria. Padahal, pria pun memiliki tanggung jawab yang sama besar untuk menjaga kesehatan reproduksinya dan istrinya kelak.

Memang, kesehatan reproduksi itu maksudnya yang seperti apa sih?

Kesehatan reproduksi menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) adalah sehatnya sistem reproduksi baik secara fisik, mental, dan sosial. Ini tak terbatas pada “tidak sakit” saja, ya, tapi juga mencakup kebebasan untuk menentukan punya anak atau tidak, kapan hamil, bagaimana persalinannya, juga hak untuk memiliki kehidupan seks yang sehat.

Kalau sistem reproduksi?

Sistem reproduksi sendiri adalah organ dan jaringan yang digunakan untuk berkembang biak (bereproduksi). Jika belum tahu apa saja bagian sistem reproduksi, baca di sini:

Dari penjelasan di atas, kita jadi tahu bahwa laki-laki pun punya organ reproduksi. Meskipun tidak mengandung dan melahirkan, tak akan ada kehamilan tanpa pembuahan oleh sel sperma bukan? Untuk bisa terjadi pembuahan, perlu hubungan seks juga, kan?  

Nah, setelah menikah, suami dan istri perlu lebih telaten menjaga kesehatan organ reproduksinya. Rutin berhubungan seks ibarat mengaktifkan mesin yang selama ini lama tak dipakai, sehingga perawatannya pun harus lebih intensif. Apa saja cara yang bisa dilakukan pasutri untuk bersama menjaga kesehatan reproduksi?

1. Belajar bersama tentang kesehatan reproduksi hingga paham

Coba tanya suami, tahu tidak darah menstruasi berasal dari mana? Atau, sedalam apa liang vagina hingga berhubungan seks saat hamil tak akan mencederai janin? 

Istri pun demikian. Berapa hari sekali sih, sel sperma diproduksi? Apakah harus dikeluarkan setiap hari?

Hal ilmiah semacam ini perlu diketahui bersama agar suami istri bisa saling memahami kondisi kesehatan reproduksi pasangannya dan saling menghargai.

Namun, pastikan kita mencari informasi yang akurat dari sumber terpercaya tentang kesehatan reproduksi. Kunjungi petugas kesehatan dan tanyakan bagaimana perilaku yang sehat untuk menjaga organ reproduksi dan seberapa sering kontrol harus dilakukan.

2. Saling terbuka masalah seks dan kesehatan reproduksi

Meskipun di Indonesia, seks merupakan hal yang jarang dibicarakan secara terbuka termasuk dalam pernikahan, kita perlu meluangkan waktu bersama pasangan untuk membicarakannya. Apa yang perlu dibicarakan? 

Misal, jika terdapat ketidakpuasan atau ada hal yang mengganggu. Suami kurang pemanasan sehingga istri merasa sakit saat berhubungan merupakan salah satu contohnya. Atau, suami terlalu sering mendapat penolakan hubungan seks dari istri dan merasa malu dan tersiksa karenanya. Bicarakan saja. Agar tak canggung, intip caranya di sini.

Jika tak ada keluhan, jangan pelit berikan pujian dan ungkapan sayang.

3. Memulai gaya hidup sehat

Sama seperti bagian tubuh lain, organ reproduksi dan sistem pendukungnya bisa bekerja dengan baik jika kita menjalani gaya hidup sehat. Tak hanya menghindari rokok dan alkohol, membatasi konsumsi makanan ultra proses yang kaya bahan kimia, gula, lemak, garam bisa mencegah munculnya masalah kesehatan reproduksi. Jangan lupa, aktif bergerak dan istirahat yang cukup.

4. Saling setia

Berapa banyak kasus ibu rumah tangga tertular HIV/AIDS dari suami yang “jajan” maupun berselingkuh? Ini belum termasuk kasus penularan infeksi menular seksual (IMS). Tak hanya memengaruhi alat kelamin, IMS juga bisa memengaruhi kesehatan janin jika hamil, ada pula yang tak bisa disembuhkan. Saling setia berarti kita juga turut menjaga kesehatan reproduksi diri kita dan pasangan. 

5. Merencanakan jumlah anak bersama

Menyepakati jumlah anak juga merupakan cara menjaga kesehatan reproduksi bersama. Bagaimanapun juga, proses mengandung dan melahirkan merupakan “kerja keras” sistem reproduksi wanita. Karenanya, mengatur jumlah anak berikut jarak kelahirannya harus mempertimbangkan kesehatan istri juga suami. 

6. Memutuskan jenis kontrasepsi bersama

Meskipun mayoritas alat kontrasepsi digunakan oleh wanita, bukan berarti hanya istri saja yang sibuk memilih, memakai, dan merasakan efek sampingnya. Suami pun harus tahu dan ikut memutuskan bersama jenis kontrasepsi apa yang sama-sama nyaman untuk kedua belah pihak. 

Intip 10 jenis kontrasepsi yang bisa dipilih di fitur Kontrasepsiku.

Bahkan, ketika suami tak ingin istrinya menggunakan alat kontrasepsi, pastikan istri juga menyetujuinya. Bagaimanapun juga, kehamilan yang tak direncanakan (dan tak diinginkan) bisa berdampak buruk tak hanya bagi anaknya kelak, tapi juga bagi kesehatan reproduksi sang ibu, juga keharmonisan hubungan pasutri.

7. Suami mengingatkan/menemani istri periksa kesehatan reproduksi 

Apakah itu saat program hamil, kontrol kehamilan, konsultasi kontrasepsi, atau saat pap smear, suami bisa membantu mengingatkan dan menemani istri untuk mengunjungi tenaga kesehatan.

Manfaatkan aplikasi SKATA untuk mencari bidan atau rumah sakit terdekat yang mampu memfasilitasi dengan informasi-informasi terkait kesehatan reproduksi. 

Bagaimana? Jadi paham ya, bahwa kesehatan reproduksi itu makin penting setelah menikah dan perlu dijaga bersama-sama. 

Khusus untuk istri, coba intip cara menjaga kesehatan reproduksi di artikel ini.

 

Photo created by pressfoto - www.freepik.com



Tanya Skata