Sebagian dari kita mungkin memilih keluarga kecil mengingat data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2017 menunjukkan bahwa tiap wanita usia subur di Indonesia rata-rata memiliki anak 2,4 orang. Artinya, kebanyakan keluarga memiliki anak 2-3 orang. Ini berbeda dengan generasi baby boomer (orang tua generasi milenial, lahir tahun 1946-1964) yang rata-rata berasal dari keluarga besar dengan saudara kandung 5 orang atau lebih.

Terlepas dari data tersebut, mau punya keluarga besar atau kecil adalah sebuah keputusan yang sebaiknya ada di tangan masing-masing pasangan. Bukan di tangan orang tua, mertua, atau ikut-ikutan teman dan lingkungan. 

Namun, sudahkah kita memiliki informasi yang akurat mengenai perencanaan keluarga? Sudahkah kita membicarakannya dengan pasangan kita sehingga ini menjadi keputusan bersama? Sudahkah kita melakukan tindakan pertama untuk memastikan rencana kita berjalan?

Jika semua jawaban di atas adalah belum, maka jangan-jangan kita membiarkan pihak lain yang menentukan kebahagiaan kita. Atau, jika jawaban di atas masih setengah-setengah, “Sudah sih sempat dibicarakan, tapi ya begitu saja.. hanya sempat disinggung” maka itupun berarti kita belum mengambil kendali atas keluarga kita sendiri.

Kalau begitu, segera cari waktu dan bicarakan dengan pasangan (atau calon pasangan) tentang perencanaan keluargamu. 

Mulai dari mana?

1. Usia calon ibu

Pertama-tama, perhatikan usia calon ibu. Kematian karena melahirkan atau kematian pada anak yang baru dilahirkan di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 305 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup, dan 24 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup.  Salah satu sebabnya adalah tidak adanya perencanaan kehamilan dan kelahiran. 

Berapa usia yang sehat untuk memiliki anak?

Sebaiknya, sebelum usia 35 tahun. Mengapa? Karena di atas usia 35 tahun, ibu yang hamil dan melahirkan akan meningkat risikonya pada kesehatan ibu dan anak yang sedang dikandungnya. 

Baca: Plus Minus Hamil di Usia Tua

2. Jarak 3 -5 tahun antara dua kehamilan

Selanjutnya, yang perlu diperhatikan juga adalah jarak antara dua kehamilan sebaiknya tidak kurang dari 3 tahun atau tidak lebih dari 5 tahun.

Mengapa demikian? Ibu membutuhkan waktu untuk tubuhnya kembali normal setelah 9 bulan hamil dan melalui proses melahirkan yang berat. Jarak yang terlalu rapat meningkatkan risiko perdarahan dan bayi lahir terlalu dini. Begitu juga dengan jarak yang terlalu jauh, karena jarak yang terlalu jauh membuat kehamilan menjadi seperti kehamilan pertama kali, namun di usia yang lebih tua. 

Selain itu, setiap anak seharusnya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan terus menyusui ASI hingga 2 tahun lebih. Karena apabila jarak kehamilan terlalu dekat (kurang dari 1-2 tahun), maka ada kemungkinan ibu tidak berhasil memberikan hak anak untuk disusui selama 2 tahun atau lebih.

Walaupun menyusui saat hamil (NWP atau Nursing While Pregnant) adalah sesuatu yang aman dan bisa dilakukan, namun ini hanya dapat dilakukan jika syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu tidak ada riwayat kelahiran prematur dan keguguran, tidak terjadi kontraksi karena menyusui, serta kondisi ibu dan janin sehat. 

Selain itu, ada kemungkinan besar produksi ASI menurun di masa kehamilan atau si anak merasa tidak nyaman sehingga menyapih dirinya sendiri sebelum dua tahun. 

3. Kondisi keuangan

Meskipun “rezeki hanya Tuhan yang tahu”, kita tetap bisa berusaha memperkirakan kemampuan kita terkait jumlah anak. Yang perlu diingat, kebutuhan anak tak hanya makanan, namun juga biaya kesehatan sejak dalam kandungan, biaya pendidikan, juga yang bersifat rekreasional. Kabar baiknya, pemerintah sudah menggratiskan sekolah negeri dan jaminan kesehatan sosial. Namun, kita tetap harus menyesuaikan dengan pemasukan kita dan atau pasangan, dikurangi pengeluaran rutin.

Baca: Tantangan Ibu Bekerja dan Cara Menyiasatinya

4. Komitmen waktu

Katakanlah, secara hitung-hitungan usia, kita mampu memiliki 3 anak sebelum usia 35 tahun dengan jarak minimal 3 tahun. Keuangan kita pun aman. Kini, pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita memiliki waktu untuk membersamai mereka? Bagaimanapun juga, waktu berkualitas bersama anak berperan besar dalam tumbuh kembang mereka. Jadi, pastikan kita mampu memberikan hak ini pada anak-anak kita kelak.

Setelah mendapatkan gambaran di atas, sudah bisa memutuskan ingin punya keluarga besar atau keluarga kecil, kan?

 

 



Tanya Skata