Pandemi Covid-19 menyisakan duka bagi banyak orang. Kini, setelah vaksin ditemukan pun, situasi belum sepenuhnya pulih. Sebagian dari kita masih merasakan beratnya hidup berdampingan dengan Covid-19. Sayangnya, dunia internasional tahun 2021 lalu telah memperingatkan akan datangnya pandemi yang diprediksi lebih besar daripada pandemi Covid-19, yaitu krisis iklim. 

Saya sudah tahu krisis iklim, toh beritanya sudah lama…

Betul, krisis iklim memang bukan berita baru. Namun, dampaknya makin nyata saat ini karena negara-negara di dunia gagal mengurangi jumlah emisi (gas hasil pembakaran batubara, minyak, dan sejenisnya). Emisi ini bisa dihasilkan dari kendaraan, pabrik, hingga kebakaran hutan. Jika terlalu banyak, bisa terperangkap dalam atmosfer bumi dan meningkatkan suhu bumi. Ini yang disebut pemanasan global alias global warming.

Musim kemarau yang makin panjang dan curah hujan sangat tinggi hingga menyebabkan banjir dan badai, mungkin pernah kita rasakan. Mereka yang hidup di tepi pantai bisa juga menjadi saksi naiknya permukaan air laut. Kekeringan, badai, gagal panen, adalah bentuk lain dampak krisis iklim, dan masih banyak lagi.

Tapi, dibandingkan pandemi Covid-19, krisis iklim belum ada apa-apanya.

Yakin? Mungkin tempat kita hidup tidak terdampak secara langsung. Semua kebutuhan dasar masih terpenuhi. 

Namun, dalam laporan berjudul “The Economics of Climate Change” oleh Swiss Re Institute, perubahan iklim akan berdampak besar bagi perekonomian 48 negara, di mana Indonesia adalah yang paling terdampak. Alasannya:

  1. Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai nomor dua terpanjang di dunia, sehingga penduduk pesisir rentan terkena kenaikan air laut dan kehilangan pulau-pulau kecil.
  2. Indonesia adalah negara agraris, di mana kekeringan panjang dan curah hujan tinggi namun sebentar bisa menyebabkan gagal panen.
  3. Indonesia adalah negara tropis yang dilalui oleh garis khatulistiwa, sehingga suhu udara yang tinggi bisa memantik terjadinya kebakaran hutan.

Ini baru di Indonesia. Melelehnya es di kutub, gelombang panas yang berujung kematian, cuaca dingin ekstrim, badai, hingga kekeringan parah di Afrika adalah sederet dampak perubahan iklim di seluruh dunia. Jika kita masih beruntung hidup nyaman saat ini, bayangkan anak cucu kita kelak. Masihkah mereka mendapat air bersih 20 tahun yang akan datang?

Seram juga, ya. Tapi, pandemi Covid-19 masih lebih berbahaya deh..

Dikutip dari republika.co.id, Kepala Penasehat Ilmiah Inggris, Sir Patrick Vallance, mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 bisa bertahan dan menimbulkan masalah hingga 4 tahun. Namun, perubahan iklim bisa bertahan hingga ratusan tahun, mengubah cara kita hidup, dan mengancam tak hanya manusia namun juga seluruh makhluk hidup di bumi. 

Serius? Kita bisa apa dong?

Banyak! Asalkan kita siap mencoba, ada beberapa perubahan yang bisa kita lakukan untuk membuat bumi masih layak huni hingga anak cucu nanti.

1. Mengurangi penggunaan listrik

Bukan karena kita bisa bayar tagihan listrik maka kita bebas membiarkan AC menyala sepanjang hari, kan? Makin banyak listrik yang kita pakai, makin panas bumi ini. Ini belum menyangkut mulai langkanya batubara untuk bahan baku listrik. Relakah kita mengalami pemadaman bergilir?

2. Hindari barang sekali pakai

Gelas plastik, piring plastik, wadah mika untuk kue, kantong kresek yang sifatnya sekali pakai hanya akan menambah jumlah sampah di bumi. Bawa wadah minum sendiri jika bepergian, bawa tas kain saat belanja, bahkan mengganti batere biasa dengan batere yang bisa di-charge akan sangat membantu.

3. Jangan membeli barang yang sudah kita punya

Tergoda diskon, ikut-ikutan tren, atau sekadar tergoda melihat bentuknya yang imut bisa berujung pada pembelian barang yang hanya akan menghuni tumpukan barang tak terpakai di rumah. Ini pun menambah jumlah sampah (meski tak berbau dan tak rusak). Mengingat untuk membuat sebuah sandal 25 ribuan pun membutuhkan begitu banyak energi, hindari beli barang karena lapar mata. Khusus untuk produk fesyen, industri ini menimbulkan banyak sampah tekstil dan menyumbang 3% emisi karbon di dunia. Karena itu, pikir ulang jika ingin membeli pakaian baru.

4. Memilih alat transportasi yang lebih ramah lingkungan

“Kita kan bukan di Eropa yang sistem transportasinya sudah maju!” Betul, tapi lebih ramah lingkungan dalam hal transportasi tak harus menunggu sistem transportasi seperti di negara maju. Jika masih mungkin pakai TransJakarta dan sejenisnya akan lebih baik. Jika tidak, bersepeda, naik motor atau jalan kaki untuk jarak dekat, hindari traveling dengan pesawat (karena butuh energi besar). 

5. Mengurangi konsumsi daging sapi dan olahan susu

Apa hubungannya? Hubungannya, industri daging sapi dan produk olahan susu membutuhkan banyak lahan (yang awalnya lahan hijau), pakan ternak yang juga butuh banyak energi untuk menumbuhkannya, sendawa sapi yang menghasilkan metana, juga industri ini boros air. 

6. Makan produk lokal

Buah impor dan makanan impor lebih berkualitas? Belum tentu. Tapi yang pasti, produk impor membutuhkan banyak energi (dari transportasi) untuk bisa sampai ke tangan kita. Karena itu, beralihlah ke pangan lokal. Lebih dekat, lebih sehat.

Aku ragu, semua usaha tadi akan membawa banyak perubahan..

Berbagai penelitian yang dirangkum di bbc.co.uk menunjukkan bahwa orang akan lebih mudah melakukan usaha ramah lingkungan jika orang-orang di lingkungan sosial mereka melakukan hal yang sama. Artinya, jika apa yang kita lakukan konsisten, ini bisa menginspirasi lingkungan sekitar untuk melakukan hal yang sama. Jadi, jangan menyerah ya!

 

Photo created by freepik - www.freepik.com

 

 

 

 



Tanya Skata