Menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari memang tak mungkin luput dari sampah. Ada saja sampah yang kita buang dalam sehari, seperti makanan sisa, kemasan deterjen, tisu, dan lainnya. Tapi, percaya tidak, kalau sampah rumah tangga yang “tak seberapa” ini ternyata menjadi penyumbang sampah terbesar? 

Setidaknya, itulah data yang diperoleh dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, di mana 45,5% sampah yang dibuang di lokasi ini adalah sampah makanan atau sampah rumah tangga. Ada lebih dari 14.000 m³ sampah rumah tangga yang dibuang ke TPST Bantar Gebang dan 8 pembuangan lainnya. Ini baru penduduk DKI Jakarta, belum yang lainnya. Bisa terbayang kan, bagaimana banyaknya tumpukan sampah di Indonesia? 

Jumlah penumpukan sampah ini ternyata kian bertambah seiring bertambahnya pula jumlah penduduk. Alhasil, banyak tempat pembuangan sampah yang tak lagi mampu menampung sampah sehingga banyak yang tercecer hingga menimbulkan pencemaran (plus banjir). Sebenarnya apa saja, sih sampah rumah tangga yang kita hasilkan itu? Terus, gimana ya supaya kita bisa menanggulanginya? 

Perlu kita pahami dulu kalau sampah atau limbah rumah tangga adalah semua bahan sisa yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga. Tentu, jenisnya bervariasi di tiap rumah. Contoh limbah rumah tangga yang paling umum dijumpai adalah: 

  • Air sisa cucian (pakaian dan alat makan)
  • Air sisa mandi
  • Sampah sisa makanan  
  • Sampah sayuran 
  • Sampah plastik 
  • Kertas, tisu, dan lainnya

Memangnya, kalau banyak sampah kenapa? 

Sampah yang terlalu banyak, terutama yang tak bisa didaur ulang bisa menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Mulai dari pencemaran tanah, air, maupun udara. Selain itu, sampah rumah tangga yang tak terkelola dengan baik apalagi yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan penyakit diare, tipus, kolera, jamur, serta cacingan. 

Begitu pula dampaknya pada lingkungan. Jangan cuma salahkan pemerintah kalau tempat tinggal kita sering banjir. Sudah tahu dong, salah satu penyebab banjir adalah saluran yang mampet akibat sampah yang berserakan sembarangan. Salah satunya, sampah rumah tangga. Bau tak sedap yang ditimbulkan, tentu juga bikin pencemaran lingkungan, kan? 

Bisakah sampah rumah tangga sampai mengganggu sosial ekonomi? 

Oh tentu saja! Sampah rumah tangga yang menimbulkan banyak penyakit, bisa meningkatkan biaya kesehatan sehingga kehidupan ekonomi bisa terganggu. Lingkungan yang kotor dan tercemar akibat sampah, juga bisa mengganggu kehidupan sosial di masyarakat. 

Gimana dong supaya kita bisa menanggulangi sampah rumah tangga? 

Caranya, adalah dengan pengelolaan sampah secara tepat! Bisa dilakukan, sesuai dengan masing-masing jenisnya. Untuk sampah rumah tangga, terbagi menjadi tiga yaitu sampah padat, cair, dan limbah yang berasal dari kotoran manusia. 

Sampah padat rumah tangga terbagi lagi menjadi dua, yaitu sampah organik dan anorganik. Apa bedanya? Sampah organik adalah mereka yang berasal dari sampah sisa makanan seperti buah, sayur, dan nasi. Sampah organik bisa terurai dan diolah menjadi barang bermanfaat, seperti pupuk. 

Sementara itu, sampah anorganik adalah yang tak bisa terurai melalui proses biologis dan bahaya jika terbuang sembarangan. Contohnya seperti kaca, plastik, gabus sintetis, alumunium dan besi. Untuk pengolahan bahan-bahan ini, adalah dengan melakukan 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). 

Menjaga kebersihan lingkungan adalah kewajiban kita semua sebagai penduduk bumi. Sudah saatnya kita ‘melek’ akan fenomena sampah yang makin memprihatinkan, dan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Yuk, perlahan kita mulai kurangi membeli barang yang menghasilkan sampah anorganik. Pisahkan sampah makanan dan sampah yang tak bisa terurai agar masing-masing bisa dimanfaatkan kembali!

 

Photo created by freepik - www.freepik.com__a

 

 

 

 



Tanya Skata