Dampak pandemi, yang mengharuskan kita #dirumahaja lebih dari setahun lamanya, bikin kita jadi lebih peduli sama urusan rumah, seperti berbenah dan dekorasi. Apalagi, karena sering di rumah aja, kita jadi tergiur beli barang ini itu secara online tapi lupa menyingkirkan yang lama. Alhasil, banyak barang menumpuk, lalu bingung mau beberes dari mana. Benar, enggak? Kalau benar, sepertinya ini adalah tanda saatnya kita decluttering barang! 

Apa itu decluttering?

Decluttering artinya menyingkirkan barang yang sudah tak digunakan, yang selama ini bikin penuh rumah dan berantakan. Bukan hanya dirapikan dan ditata ulang saja, ya! 

Mengutip Marie Kondo, pakar mengatur barang dari Jepang, “Simpanlah barang yang memberikan aura bahagia untuk kita, dan singkirkan yang tidak”. Jadi, pilah barang-barang kita, lalu simpan yang benar-benar dibutuhkan dan digunakan, bukannya barang yang sudah tak lagi berguna hanya karena “sayang”.. 

Mulai dari mana, ya? 

1. Buat rencana

Ini yang kadang menjadi penyebab gagalnya decluttering. Saking bingung mau mulai dari mana (karena inginnya rapi tapi enggak ada rencana), akhirnya hanya dalam hitungan minggu ruangan kembali berantakan. 

Karena itu, buat rencana. Misal, rak mana saja yang akan dipakai, barang yang tak terpakai akan diberikan kepada siapa, sudut mana yang harus kosong, dan sebagainya.

Karena itu, siapkah wadah besar (bisa kontainer plastik atau kardus) untuk memudahkan proses decluttering. Beri label “simpan”, “donasi”, “buang”. Jangan lupa, beri tenggat waktu kapan barang di kategori “buang” harus keluar dari rumah. Jika tidak, kardus ini malah akan membuat rumah menjadi tak rapi.

2. Pilah barang berdasar kategori 

Biasanya, kita berbenah berdasarkan ruangan. Misal, kamar dulu, lalu kamar anak, ruang makan, dan seterusnya. Padahal, berbenah dari kamar ke kamar kurang efektif. Yang benar adalah berdasarkan kategori karena kita akan lebih mudah mengembalikan barang ke tempat yang seharusnya.

Menurut Marie Kondo, pada dasarnya ada 5 kategori dasar barang-barang di tiap rumah, yaitu: 

  • Pakaian 
  • Buku 
  • Kertas (seperti kartu garansi, nota, slip gaji, hasil karya anak)
  • Komono (pernak-pernik) 
  • Barang yang memiliki nilai sentimental (baju hadiah almarhum orang tua, rapor pertama anak, dll) 

Kategori besar ini nanti bisa dibagi menjadi sub kategori, seperti sepatu dan tas yang termasuk dalam kategori pakaian, lalu alat dapur, peralatan rumah tangga, kosmetik yang masuk ke dalam komono).

Pembagian kategori ini sudah terbukti membuat proses decluttering menjadi lebih cepat, menurut pengalaman Marie Kondo saat menangani klien-kliennya. Tapi, jangan mulai memilah dari barang sentimental dulu, ya! Bisa dipastikan, prosesnya lama dan bisa bikin galau. 

3. Keluarkan semua barang tanpa tersisa 

Yang sudah-sudah, biasanya ada saja yang tertinggal saat beberes, apalagi kalau di rumah kita banyak tempat penyimpanan. Cara yang paling mudah adalah keluarkan semua barang per kategori, kumpulkan di satu tempat. Dari situ, kita mulai bisa memilah mana yang perlu dibuang, disimpan, atau didonasikan. Ingat, jangan mulai memilah kategori lain sebelum satu kategori selesai. 

4. Beri kategori pada wadah penyimpanan

Setelah semua terpilah, segera simpan di lokasi atau wadah sesuai kategorinya. Misalnya, di ruang bermain ada beberapa pilihan mainan. Simpan mainan ke dalam boks berdasar kategori, seperti boneka, mobil-mobilan, balok, puzzle.

Kalau tempatnya enggak muat, gimana? Beberapa barang yang digunakan bersamaan seperti buku gambar, cat, spidol, pensil bisa dijadikan satu wadah penyimpanan dalam kategori "alat tulis" atau "art supplies", misalnya.

5. Gunakan label nama pada setiap kotak penyimpanan 

Terkadang karena semangat menyimpan barang, kita malah lupa di mana menyimpannya, benar? Akhinya, karena ‘malas’ mencari, malah jadi beli lagi padahal mungkin kita masih punya barang yang sama. Untuk mencegah ini, beri label nama pada kotak penyimpanan. Dengan begini, barang akan mudah dikembalikan, pun mudah kita cari saat dibutuhkan. 

‘Membuang’ memang terkadang menyedihkan.. 

Apalagi, jika selama ini kita merasa banyaknya barang menunjukkan nilai diri kita. Padahal, decluttering bertujuan agar rumah dan seisinya memiliki manfaat, bukan hanya memenuhi tempat. Rumah pun lebih enak dipandang, lebih rapi, barang pun mudah dicari. Kalau sudah begini, kita sendiri yang merasakan nyamannya hidup.

Jika masih terasa berat merelakan barang yang sebenarnya dibuang sayang (tapi tak terpakai), donasikan saja! Banyak orang di luar sana yang membutuhkan barang yang mungkin bagi kita tak ada harganya. Percayalah, barang yang kita sayang, akan diterima oleh mereka yang tepat. Jadi, jangan khawatir, ya.. 

Tak menemukan siapa yang mau mengadopsi barang-barang kita? Bisa cari di Google atau Instagram, lho! Gunakan tagar #sedekahbarang, #sedekahbuku, #sedekahmainan, #donasibajubekas, dan tagar sejenis. Jika ada waktu, jual sebagai barang preloved di media sosial atau marketplace. Tapi, jangan mahal-mahal ya, agar lekas laku dan tidak menjadi timbunan barang baru.

 

Photo created by user15285612 - www.freepik.com